Tumbal Pengasihan Genderuwo
Malam yang sangat gelap mencekam mengiringi kedatangan sebuah mobil
Toyota Kijang memasuki suatu desa yang cukup terpencil. Desa itu bernama
desa Cimani Gunderowo, yang dalam bahasa Indonesia berarti Air Sperma
Gunderewo. Suatu nama yang tak lazim untuk suatu desa. Desa itu terletak
di suatu pedalaman hutan kota Banten. Kurang lebih 150 KM ke arah barat
dari pusat kota. Sangat jauh dari hiruk pikuknya kendaraan, dan sangat
jarang terjamah oleh orang luar. Terbukti dari akses jalan yang masih
sangat minim untuk menuju ke sana. Sandra, Gisti, dan Gilang. Mereka
adalah reporter dari salah satu stasiun televisi lokal. Mereka diberi
tugas untuk meliput desa tersebut. Karena ada beberapa laporan
masyarakat yang masuk pada pihak redaksi tentang desa tersebut.
Setelah sekian lama berkendara, mereka pun menepikan mobil mereka
ketika telah menemukan tempat yang mereka cari. Mereka akhirnya tiba di
desa Cimani Gunderewo. Desa itu terlihat sangatlah menyeramkan.
Pohon-pohon besar tumbuh mengelilingi desa tersebut. Lolongan anjing
sayup-sayup terdengar di dalam kelebatan hutan, memecah keheningan
malam. Sungguh, semakin membuat ngeri tempat itu.
"Lang, anter dong. Gue kebelet pipis nih." ucap Sandra kepada Gilang.
"Yaelah, elu. Yaudah deh, yuk gue anter." balas Gilang.
"Terus gue gimana guys?" ucap Gisti.
"Elu
diem aja disini Ti. Lu jagain mobil. Siapa tau ada warga yang lewat, lu
kan bisa minta ijin sekalian tempat tinggal sama mereka." ucap Gilang.
"Tapi gue takut sendirian disini."
"Udah tunggu aja Ti. Bentar doang kok."
"Ayoo cepetan Lang, gue udah kebelet." lanjut Sandra seraya menarik tangan Gilang memasuki hutan.
Mereka
pun mulai menghilang di balik pepohonan, meninggalkan Gisti sendirian
di dalam mobil. Di suatu desa yang sangat menyeramkan. Gisti, gadis
kelahiran Bandung 21 tahun yang lalu. Dia memiliki paras yang cantik
khas mojang kota kembang, dengan kulit yang berwarna putih bersih. Gadis
ini memiliki tinggi 159 cm dan berat 42 kg. Payudaranya berukuran 36 B,
juga pinggul yang semok membuat dia sangat menarik setiap kaum Adam
yang memandangnya. Gisti memiliki seorang tunangan yang sudah ia pacari
semenjak ia duduk di kelas 2 SMA. Umur mereka terpaut 5 tahun. Namun
Gisti sangat mencintai tunangannya saat ini, karena dia tak pernah mau
merenggut keperawanan Gisti semenjak mereka pacaran dulu. Paling banter
mereka hanya melakukan piting dan Blow Job saja. Pria itu sangat
menghormati Gisti sebagai perempuan, dengan tetap menjaga keperawanan
gadis ini.
20 menit sudah Gisti duduk termenung di dalam mobil
sendirian. Dia sudah mengerti lagi dengan kelakuan kedua temannya tadi.
Mereka pasti tengah bersetubuh di dalam hutan itu. Karena bosan, Gisti
pun mencoba untuk berbaring di sana. Namun belum lama dia berbaring,
terdengar suara ketukan di kaca samping mobilnya. Dan Gisti pun segera
menoleh ke asal suara. Dia mendapati sesosok pria paruh baya tengah
berdiri di luar mobilnya. Ki Samad, panggil saja begitu. Lelaki ini
berusia sekitar 86 tahun. Seluruh wajahnya penuh dengan kerutan. Dia
memiliki tinggi sekitar 152 cm dan berat 60 kg. Namun dia masih bisa
berdiri tegap dalam usianya yang hampir satu abad itu. Akhirnya Gisti
pun menghampiri kakek itu. Dia mengemukakan maksud kedatangan nya dan
kedua teman-temannya pada ki Samad. Gisti pun meminta sebuah tempat
tinggal sementara untuk mereka tinggali selama beberapa hari di desa
tersebut. Ki Samad pun mengangguk mengerti, dan mengajak Gisti ke suatu
rumah milik warga tak jauh dari mobil mereka. Gisti mengunci pintu
mobilnya, kemudian mengikuti ki Samad memasuki sebuah rumah. Meskipun
hanya sebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu, rumah itu cukup
nyaman dan layak untuk ditinggali. Akhirnya Gisti pun berterima kasih
kepara ki Samad. Sebuah senyum terlukis indah di bibir tipisnya.
"Eh
maaf Ki, teman-teman saya sudah lebih dari 1 jam memasuki hutan disana.
Kalo aki ketemu sama mereka, tolong beri tahu mereka kalo saya ada
disini ya ki. Mereka memakai baju yang sama seperti yang saya pakai ini
ki. Mohon maaf sebelumnya kalo merepotkan." ucap Gisti pada ki Samad.
Ki
Samad hanya mengangguk mengerti, seraya menyuguhkan makanan pada Gisti.
Lelaki ini tahu kalau Gisti sedang lapar. Dan mereka pun makan bersama
malam itu. Meski hanya sekedar makanan yang sederhana, namun cukup
membuat Gisti merasa kenyang. Setelah makan, Gisti pun mulai mengambil
hand phone nya dan menyeting recorder. Dia ingin mengorek informasi desa
ini pada ki Samad. Gisti pun melayangkan beberapa pertanyaan pada kakek
itu.
"Eh ki, maaf sebelumnya. Saya dari stasiun tv XXX dateng kesini
untuk mencari informasi dari desa ini. Kalo boleh tau, kenapa desa ini
dikasih nama Cimani Gunderewo yaa ki?" tanya gadis itu.
"Oh itu, jadi
ceritanya gini neng. Dulu, banyak orang yang dateng kesini untuk
pengasihan. Pengasihan Gunderewo tepatnya. Jadi, setiap orang yang mau
kaya dateng ke sini sambil bawa perawan sebagai tumbal." ucap ki Samad
bercerita.
"Nah, terus perawan itu dibawa ke gua di hutan sebelah sana. Gua itu dipercaya tempat tinggal nya Gunderewo neng." lanjutnya.
"Oh
gitu ki. Terus para perawan itu di apain lagi ki? Apakah gunderewo itu
menampakan diri sama warga disini? Terus, para perawan yang dijadikan
tumbal, apakah mereka terlihat kembali?" Tanya Gisti memberondong.
"Yaa,
para perawan itu di letakan di suatu ruangan di dalam gua itu. Terus
tumbal itu di ikat kedua kaki dan tangannya membentuk huruf X dalam
keadaan telanjang, diatas batu persembahan." jawab ki Samad Serius.
"Gunderewo
itu gak pernah menampakan diri sama sembarangan orang neng. Dia hanya
menampakan diri ke kuncen ataupun gadis tumbalnya saja. Mereka yang
dijadikan tumbal pengasihan Gunderewo tak pernah terlihat keluar lagi
dari gua itu neng, warga sini percaya kalo gadis yang ditumbalkan itu
dijadikan gundik sama Gunderewo disana." lanjutnya seraya menatap nanar
ke Gisti.
"Oh, iyaa ki. Aki sendiri pernah melihat sosok Gunderewo itu gak?" Tanya Gisti lagi.
Ki
Samad hanya mengangguk, sambil pandangan matanya tak pernah lepas dari
tubuh seksi Gisti. Membuat Gisti merasa risih dibuatnya.
"Kalo saya boleh tau, gimana rupa dari Gunderewo itu ki?"
"Kenapa neng nanyain hal itu?" jawab ki Samad galak.
"Maaf
ki. Ini info yang sangat penting dalam liputan saya. Hal ini akan jadi
berita yang sangat penting buat masyarakat luas. Jadi saya mohon maaf
kalo aki merasa terganggu dengan pertanyaan saya barusan." jawab Gisti
tertunduk.
"Kalo neng bener-bener ingin tahu rupa dari Gunderewo itu,
neng harus masuk ke gua itu. Soalnya saya tau kalo neng ini masih
perawan kan. Gunderewo itu pasti dengan senang hati menampakan wujudnya
sama neng." ucap ki Samad seraya tersenyum pada Gisti, menampakan
susunan giginya yang telah menghitam.
Gisti nampak terkaget
dibuatnya, dia bergidik ketakutaan. Namun tak lama kemudian, Gisti
merasa pusing dikepalanya. Seluruh pandangan nya mulai mengabur, dan dia
pun jatuh pingsan. Ki Samad tersenyum melihat itu. Semua rencananya
berhasil.
Kedua tubuh sedang bergumul di dalam rimbunnya semak-semak. Mereka
sedang saling tindih dalam keadaan yang telanjang. Yaa, kedua sosok itu
merupakan Sandra dan Gilang. Gilang sedang memacu tubuh montok Sandra
dalam keadaan missionaris. Kedua kaki Sandra berada di bahu Gilang,
membuat vaginanya terangkat menghadap Gilang. Hal ini membuat penis
besarnya keluar masuk dengan lancar divagina Sandra.
"Aagghh, terus
lang. Aggghh, kontol lu enak banget. Agghh,, ogghhh,, yaa terus..
Aggghh.." desah Sandra menikmati genjotan Gilang.
"Aggghhh, iyaa dra.
Memek lu juga enak banget.. Agghhh... Kontol gue berasa di pijet di
dalam memek lu.. Agghhh..." jawab Gilang sambil mempercepat genjotannya.
Sandra
hanya mendesah dan mengerang dibuatnya. Kedua matanya terpejam,
menikmati gesekan antara kelamin mereka. Sandra seakan terbang ke langit
ke tujuh dibuatnya.
"Aaggghhh,, dra, gue mau keluar.. Aaggghhh... Ooggghh.." ucap Gilang sambil mulai menciumi payudara Sandra.
Sandra
kelojotan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian, dia merasakan cairan
hangat yang muncrat di dalam vaginanya. Ternyata Gilang telah mendapat
orgasmenya yang kedua malam itu. Tubuh Gilang pun ambruk menimpa tubuh
Sandra. Sandra masih terpejam menikmati denyutan penis Gilang di dalam
vaginanya. Dia memeluk tubuh Gilang dengan erat. Namun dia pun menjerit
ketika membuka matanya. Dia melihat ada beberapa sosok yang mengelilingi
mereka berdua, Sandra hitung ada sekitar tujuh orang. Sandra pun segera
membangunkan Gilang, namun tak ada respon darinya. Dia pun
menggulingkan tubuh Gilang ke samping, dan memcoba memungut pakaiannya
untuk menutupi ketelanjangannya. Sandra menjerit kembali ketika dia
melihat kedua tangannya yang berlumuran darah segar. Dia sapukan
pandangannya ke arah Gilang, dan menemukan luka sayatan di tubuh Gilang.
Ternyata Gilang telah mati di tangan para penduduk setempat.
"Aaaarrrggghhhh! Siapa kalian?" jerit Sandra.
"Biadab kalian! Kalian telah membunuh Gilang. Dasar manusia biadab kalian!" Lanjutnya memaki para penduduk tersebut.
Namun
ke tujuh sosok yang mengelilingi Sandra tak mengeluarkan sekecap
katapun. Mereka hanya menatap Sandra dengan tatapan lapar. Sebuah
senyuman kemenangan mengembang di wajah mereka semua, lalu secara
bersamaan mereka menyerang tubuh telanjang Sandra.
"Tidak! Mau apa kalian semua biadab? Tolong! Tolong! Aarrgghh, lepas kan! Tolong! Tolong!" jerit Sandra ketakutan.
Namun
jeritannya tak berpengaruh apapun pada mereka semua. Dengan sangat
bernafsu, mereka mulai menggerayangi tubuh telanjang Sandra. Mereka
meremas payudara Sandra dengan sangat kasar, dua orang dari mereka
mengoreki vagina Sandra dengan sangat kasar juga. Setiap lekuk tubuh
Sandra tak ada yang terlewat dari jamahan tangan nakal mereka. Satu
persatu dari mereka mulai melepas semua baju mereka. Dan tujuh batang
besar mulai terpampang jelas di hadapan Sandra, minta untuk di puaskan.
Sandra bergidik ketakutan melihat ukuran penis mereka. Dia tak sanggup
membayangkan apa yang akan segera menimpa tubuh seksinya sebentar lagi.
Satu per satu mereka mulai mendekati tubuh telanjang Sandra. Dan tanpa
menunggu lama lagi, sebuah penis besar menembus vagina Sandra dengan
sangat kasar. Sandra menjerit kesakitan. Vaginanya serasa disayat oleh
silet. Namun jeritannya tak keluar lama, setelah satu penis besar telah
menembus bibir tipisnya. Sandra merasa sangat tersiksa dibuatnya. Satu
demi satu penis besar telah keluar masuk divagina dan mulutnya. Satu
penis yang keluar setelah menyemburkan sperma, segera digantikan dengan
penis besar lainnya. Tidak memberi Sandra waktu untuk sekedar menarik
nafas. Dia sangat lemah kesakitan dibuatnya. Vaginanya mengeluarkan
bercak darah, penis besar para penduduk setempat itu telah merobek
vaginanya.
Sandra mulai mendapatkan kesadarannya kembali dan
mulai berontak, ketika dirasa ada sesuatu yang menggesek lubang
duburnya. Sebuah penis besar tengah mencoba untuk menembus lubang
duburnya dari belakang. Sandra menjerit memohon, berharap mereka akan
sedikit tiba pada dirinya. Namun usahanya sia-sia saja. Para
pemerkosanya itu sama sekali tak peduli pada Sandra.
"Mmmhhh,, jangan! Mmmhhh.. Ampun! Mmhhh..." jerit Sandra disela kulumannya.
Dan
"aaarrrrggghhh!" Sandra menjerit, dia melolong kesakitan. Sebuah penis
raksasa menembus paksa lubang duburnya yang masih perawan dalam satu
sentakan kasar. Sandra tak mampu menerima lagi semua itu. Tubuhnya telah
mendapat titik maksimal dalam menerima rasa sakit, dia pun jatuh
pingsan. Para penduduk masih terus melakukan aktifitas mereka diatas
tubuh Sandra. Mereka sama sekali tak peduli pada keadaan Sandra saat
itu. Mereka terus menggenjot dan meremasi tubuh Sandra secara brutal.
Seluruh lubang di tubuh Sandra terus menerus dijejali penis raksasa
mereka tanpa jeda sedikit pun. Mereka berniat untuk memberikan luka
permanen pada tubuh Sandra. 4 jam kemudian mereka baru selesai dengan
tubuh Sandra. Seluruh tubuh Sandra dipenuhi dengan bercak sperma yang
mengering. Lelehan sperma masih merembes dari dalam mulut, lubang vagina
dan lubang duburnya yang menganga lebar. Bercak darah pun masih nampak
jelas di kedua lubang tersebut. Setelah puas dengan tubuh Sandra, mereka
pun mengenakan pakaian mereka kembali. Tubuh telanjang Sandra yang
sudah sangat mengenaskan mereka ikat di pohon pinus. Tak lupa mereka
menaruh madu di seluruh tubuhnya, dan menjejalkan bunga pinus di lubang
vagina dan duburnya. Sedangkan mayat Gilang, mereka buang ke sungai.
Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali ke desa. Meninggalkan
Sandra yang masih pingsan di dalam rimbunnya hutan sendirian.
Gisti terbangun setelah mencium bau yang sangat menyengat hidungnya. Dia
sama sekali tak ingat dengan kejadian yang dia alami kemarin, kepalanya
masih sangat pusing. Dia pun membuka matanya dengan perlahan.
"Wahai Gunderewo, terimalah tumbal dari kami semua. Dan berikan kami hasil panen yang berlimpah." ucap seorang lelaki.
Mendengar
itu, Gisti segera mengerjapkan matanya yang masih mengabur. Tubuhnya
sama sekali tidak bisa digerakan. Dia pun mulai melihat kesekeliling,
mengamati keadaan. Gisti menjerit sejadi-jadinya, ketika dia tau keadaan
nya saat ini.
"Sadar juga kamu neng." ucap suara yang tak asing bagi Gisti.
"Ki Samad! Apa yang aki lakukan sama saya? Saya mau diapakan ki? Tolong! Tolong!" teriak Gisti.
"Percuma
geulis, gak akan ada orang yang bakalan denger kamu disini. Kamu
bakalan aki jadikan tumbal untuk Gunderewo." ucap Ki Samad.
"Tidak! Apa salah saya ki? Tolong! Saya gak mau jadi tumbal. Tolong!" teriak Gisti.
Namun
tak ada satu pun yang menolongnya. Ki Samad terlihat khusu melanjutkan
mantera pemanggilan Gunderewonya. Mulutnya komat-kamit merapalkan
mantra. Dan tak lama kemudian, kepulan asap mulai memenuhi ruangan gua
tersebut. Gisti meronta, dia mencoba untuk melepas kan dirinya. Gadis
cantik itu tengah terbaring di atas sebuah batu yang datar. Kedua tangan
dan kaki nya di ikat ke setiap sudut batu itu. Tubuh seksinya itu tak
tertutupi sehelai benangpun, ia telah telanjang. Vagina dan payudaranya
terpampang dengan sangat jelas. Membuat orang ingin segera menyantap dan
menjamah bila melihatnya.
"Siapa yang berani membangunkanku?" sebuah suara geraman menggema di gua tersebut.
"Ampun Gunderewo. Saya ki Samad." jawab ki Samad sambil membungkuk.
"Ah, ki Samad!"
"Apa gerangan kamu sampai berani mengganggu tidur lelapku? Huh?" lanjut Gunderewo itu.
"Ampun. Saya bawa tumbal baru buat Akang. Saya cuman minta ditukar dengan hasil panen yang melimpah 2 tahun ke depan."
Gunderewo
itupun mengalihkan pandangan nya pada batu persembahan. Dia tersenyum
lebar ketika melihat sosok gadis perawan berparas ayu terbaring di
atasnya. Dia kemudian tertawa dengan sangat menggema.
"Hahaha... Tumbal yang bagus Samad. Haha... Baiklah, akan ku buat panen warga desa melimpah untuk dua tahun ke depan. Hahaha..."
"Sekarang pergi lah! Biarkan aku menikmati tumbal ku!" lanjut Gunderewo itu seraya mendekati tubuh Gisti.
Ki
Samad pun meninggalkan gua itu dengan segera. Dia tidak ingin
mengganggu prosesi yang akan di lakukan Gunderewo itu pada Gisti. Dia
sudah terlalu senang dengan apa yang akan dia dapat di ladangnya untuk
dua tahun ke depan.
Sesosok mahluk tinggi besar menghampiri tubuh Gisti. Tingginya sekitar 2
meter lebih. Badannya berwarna hitan legam, dengan bau yang sangat
menyengat tercium di seluruh tubuhnya. Bulu hitam kasar menghiasi
seluruh tubuh mahluk itu. Sepasang mata merah yang menyala menatap nanar
pada Gisti. Taring tajam pun menghias di bibir tebalnya. Gisti
terbelalak tak percaya melihat sosok di hadapannya sekarang. Dia
berontak lebih keras, mencoba untuk melepaskan ikatan di tubuhnya. Gisti
menjerit sejadinya. Meminta pertolongan kepada siapa pun yang bisa
mendengarnya. Namun semua usahanya itu nihil. Tak ada seorang pun yang
berani masuk ke gua tersebut. Melihat mangsanya terikat tak berdaya,
membuat penis Gunderewo itu menyembul keras. Batang penisnya sangat
besar dan panjang. Diameternya mencapai 15 cm, dan panjangnya hampir 35
cm. Sungguh penis raksasa. Gisti menggidik ketakutan melihat penis
Gunderewo itu. Dia tak sanggup membayangkan bila benda sebesar itu
menembus liang vaginanya yang masih perawan. Gisti mulai menangis karena
saking takutnya pada mahluk itu. Gunderewo itu mulai tak sabar ingin
segera menikmati tubuh Gisti. Dia mulai menjamah tubuh telanjang gadis
itu. Tangannya segera menggerayangi tubuh seksi Gisti dengan perlahan.
Mahluk itu mulai merangsang setiap titik sensitif di tubuh Gisti dengan
sangat intens. Tangan besar nya meremasi payudara gadis itu dengan
perlahan. Sedang kan mulutnya mulai menjilati wajah cantik Gisti. Mahluk
itu mencoba mencium bibir mungil Gisti. lidahnya yang panjang dia coba
untuk menelusup masuk ke dalam bibir Gisti. Namun Gisti tak pernah mau
membuka mulutnya. Gisti terpejam, dia tak sanggup melihat sosok
menyeramkan di depannya itu. Hidungnya mencium bau yang sangat menyengat
di depannya. Dia sampai ingin muntah dibuatnya. Bibirnya dia katupkan
dengan sangat keras. Dia tak mau berciuman dengan mahluk jelek nan bau
ini. Takan pernah! Karena geram, Gunderewo itu pun mencubit puting kiri
Gisti dengan sangat keras. Membuat Gisti membelalak kesakitan. Mulutnya
terbuka, menjerit sejadinya. Dan pada saat itu lah, Gunderewo ini
menesulupkan lidahnya ke dalam bibir tipis Gisti. Mahluk itu mulai
mencium bibir gadis itu. Mendapatkan serangan seperti itu, Gisti merasa
sangat mual. Ada rasa aneh yang sangat tidak mengenakan di dalam
mulutnya. Air liur mahluk itu juga berbau menyengat di dalam mulutnya.
Dia sampai muntah dibuatnya. Kedua matanya mulai menangis semakin deras.
Lidah panjang mahluk itu menggelitik setiap rongga mulut Gisti. Dia
ingin membuat Gisti terbiasa dengan rasa dari liurnya itu. Tangan
kanannya meremasi payudara kiri Gisti, Sesekali memilin puting
payudaranya yang masih berwarna merah muda itu. Sedangkan tangan
kirinya, dia gerakan menuju vagina Gisti. Gisti merasakan sesuatu yang
sangat kasar menggeseki lubang vaginanya. Mencoba untuk men stimulus
daerah istimewanya tersebut. Gisti mencoba menahan mati-matian setiap
rangsangan tersebut. Namun dia pun hanya wanita biasa. Menerima serangan
yang intens, lubang vaginanya pun membasah di jari-jari kasar sesosok
Gunderewo. Mengetahui mangsanya sudah mulai terangsang, Gunderewo itu
pun segera menurunkan ciuman bibirnya semakin ke bawah. Dia jilati
setiap lekuk tubuh Gisti. Mulai dari wajah, telinga, leher, perut, dan
kedua bongkahan payudaranya Gisti. Tak ada bagian yang terlewat dari
jilatan lidah panjangnya itu.
Ketika pagutan mahluk itu terlepas
di bibirnya, Gisti meludah terus menerus. Dia ingin membuang semua air
liur mahluk itu yang selalu terasa menempel di rongga mulutnya. Dia juga
mencoba untuk menahan setiap rangsangan di tubuhnya dengan sangat kuat.
Namun sia-sia saja semua usahanya itu. Gisti pun mulai mendesah dan
mengerang, ketika lidah panjang mahluk itu mulai menjilati lubang
vaginanya. Gunderewo itu menjilati setiap inchi vagina Gisti dengan
sangat telaten. Sesekali dia coba untuk memasukan lidah panjangnya itu
ke dalam lubang sempit dihadapannya. Lidah itu pun mulai keluar masuk
lubang vagina Gisti bak seekor ular. Gunderewo itu menjilati seluruh
rongga di dalam vagina Gisti. Menerima itu semua, membuat desahan Gisti
semakin menjadi. Mulutnya tak berhenti mengerang dan mendesah. Gunderewo
itu sungguh sangat pintar merangsang setiap titik sensitif di tubuhnya.
Tak lama berselang, Gisti pun merasakan sesuatu yang sangat enak di
vaginanya. Sebuah perasaan yang tak pernah dia rasa kan sebelum nya. Ada
sebuah dorongan yang ingin keluar dari dalam vaginanya. Semakin dia
tahan, semakin kuat dorongannya. Dan tanpa bisa dicegah lagi, Gisti pun
mendapat kan orgasme nya yang pertama selama hidupnya itu. Cairan bening
nan lengket menyembur deras dari dalam vaginanya. Dan langsung masuk ke
dalam mulut Gunderewo itu semuanya. Yaa, Gunderewo itu menghisap habis
setiap cairan yang keluar dari dalam liang vagina Gisti. Mahluk itu
menelannya habis, tak bersisa. Tubuh Gisti masih mengejang sambil
mengejat-ngejat. Dia sungguh sangat tenggelam oleh kenikmatan yang baru
dia dapat hari itu. Matanya terpejam, sedang kan mulutnya membuka lebar.
Melihat kesempatan itu, Gunderewo segera mencoba untuk memasukan penis
raksasanya itu ke dalam mulut mungil Gisti. Dia mendorongnya dengan
kasar, membuat Gisti sangat terkejut. Ukuran penisnya yang terlalu
besar, tak muat ke dalam bibir Gisti. Hanya sebatas kepalanya saja yang
dapat masuk, itu pun tak muat. Hal itu membuat Gisti sangat tersiksa.
Mulutnya dipaksakan untuk menganga sampai ukuran maksimal. Penis raksasa
itu memaksa mulut Gisti untuk membuka sampai ukuran yang sebelum nya
belum pernah bisa dia capai. Penis Gunderewo itu seakan ingin merobek
mulut Gisti. Kesal karna penisnya tak bisa muat ke dalam mulut Gisti,
Gunderewo ini pun mulai memposisikan posisi nya diatas tubuh Gisti. Dia
gesekan penis raksasa nya yang bersisik itu tepat di depan lubang vagina
Gisti yang masih perawan. Dia menggesek-gesekan nya untuk beberapa
saat. Dan saat dirasa sudah tepat di depan vaginanya, dia dorong
penisnya merobek vagina mungil Gisti dalam satu hentakan kasar.
'Breeeettt' Gisti yang awalnya terbuai oleh rangsangan di vaginanya itu
mulai menjerit sejadi-jadinya. Dia merasakan perih yang teramat sangat
di lubang kelaminnya itu. Tubuhnya mengejang keatas, menahan rasa sakit
yang tak terkira itu. Dan Gisti pun jatuh pingsan, tak kuat menerima
rasa sakit. Melihat mangsanya sangat lemah, Gunderewo itu sangat marah.
Dia mulai menggerakan penisnya itu dengan sangat kasar di lubang vagina
Gisti. Dia menggenjot vagina mungil Gisti dengan sangat brutal. Mahluk
itu memaksakan vagina Gisti untuk bisa menerima seluruh batang penisnya
yang sangat besar dan panjang itu. Dia hentakan pinggulnya dengan sangat
keras, seakan ingin mendobrak dinding rahim Gisti. Setelah beberapa
hentakan yang sangat kuat di dalam vagina Gisti, akhirnya seluruh penis
Gunderewo itu pun masuk seluruh nya. Penis yang berdiameter 15 cm, dan
panjang 35 cm itu pun bersarang dengan manis di dalam vagina mungil
Gisti. Sampai vagina Gisti mengembung dibuatnya. Seluruh otot vagina
Gisti seakan meremasi setiap bagian penis Gunderewo itu. Mahluk itu
merasa sangat dimanjakan dibuatnya. Dia pun mulai mempercepat
genjotannya di dalam vagina Gisti. Penis mahluk itu menghentak dengan
sangat kuat mendobrak vagina Gisti. Kemudian dia cabut penisnya dengan
sangat perlahan, menikmati setiap gesekan antara dinding vagina Gisti
yang lembut dan Penis nya yang bersisik itu. Mahluk itu melakukannya
terus menerus, sampai membuat Gisti sadar dari pingsannya.
"Aaaaawwwhhh,, sakiiitt... Berhentiiii... Sakiiitt,, aku mohon! Awwwhhh..." ucap Gisti mengiba.
"Diam
kau sundal! Mulai detik ini tubuhmu adalah milik ku. Kau sama sekali
tak berhak lagi atas seluruh tubuhmu ini." ucap Gunderewo itu sambil
mempercepat genjotannya.
"Kamu itu sudah dijadikan tumbal untuk ku.
Jadi mulai saat ini, kamu adalah budak birahiku. Hahaha..." lanjutku
mahluk itu sambil tertawa.
“Tidak! Aku tidak sudi! Lepas kan aku
dasar mahluk menjijikan!" maki Gisti sambil meludah ke arah mahluk yang
sedang menggagahinya itu.
"Dasar kurang ajar kak sundal! Lihat, aku
akan menyetubuhimu dengan sangat ganas dari sekarang. akan kubuat kau
bertekuk lutut pada kontolku ini." ucap mahluk itu geram.
Pompaan
di dalam vagina Gisti makin cepat dan kuat saja. Mahluk itu ingin
membuat Gisti merasakan multiple orgasme. Gunderewo itu ingin membuat
Gisti tak bisa lepas ataupun menolak penis raksasanya lagi. Mahluk itu
mulai menyetubuhi Gisti dengan sangat menggila. Penisnya mengeluarkan
precum di dalam lubang vagina Gisti. Cairan itu mengandung semacam
bakteri, yang akan membuat vagina korbannya merasa sangat gatal dan geli
dibuatnya. Precum yang Gunderewo itu keluar kan dalam dosis yang cukup
banyak di dalam vagina becek Gisti. Rupanya mahluk itu ingin membuat
Gisti tak bertingkah lagi. Gisti merasa ada yang aneh di dalam
vaginanya. Dia merasakan ada sesuatu yang sangat panas di dalam
vaginanya. Gadis itu merasakan vaginanya sangat gatal dan sangat geli,
sehingga tanpa dasar dia pun mendesah-desah menerima setiap sodokan
penis raksasa Gunderewo itu. Mengetahui kalau rencananya berhasil,
mahluk itu pun menghentikan gerakan nya di dalam vagina Gisti. Dia
mencabut keluar penisnya dalam satu tarikan kuat. 'Plooop' suara ketika
penisnya keluar. Lubang vagina Gisti nampak menganga sangat lebar.
Bercak darah masih menetes dari dalam sana. Gisti tersadar dari
lamunannya. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam vaginanya.
Lubang vaginanya terasa sangat gatal minta digaruk. Namun benda yang
sedari tadi keluar masuk di vaginanya itu telah hilang. Sedang kan kedua
tangan dan kakinya terikat dengan keras, membuatnya tak bisa melakukan
apapun selain menggesek-gesekan kedua pahanya. Gunderewo itu hanya
tersenyum melihat perilaku Gisti. Dia merasa puas dengan apa yang telah
dia buat pada gadis alim tersebut. Rupanya dia telah berhasil untuk
merubah sifat Gisti, dan membuang semua rasa malu gadis itu. Gunderewo
itu telah berhasil membuat Gisti bertekuk lutut pada penisnya. Mahluk
itu telah berhasil membuat Gisti menjadi budak sexnya.
"Aaaaggghhhh... Hmmm... Aggghhh.... Ssshhhh... Aggghhh...." desah Gisti.
"Kenapa kau menggeliat seperti cacing seperti itu manusia? Huh?"
"Apakah
memekmu gatal ingin di garuk? Apakahmemek mu rindu sama batang penis
besar ku? Huh? Jawab!" ucap Gunderewo itu sambil menatap tajam ke arah
Gisti. Sebuah tatapan yang seakan merendahkan derajat Gisti sebagai
seorang wanita alim.
"Aaaagghhh,, iyaa tuan... Aggghhh... Tolong berikan kontol besarmu itu... Aggghhh..."
"Tolong
garuki memek gatalku ini tuan... Aaaagghhh.... Setubuhi aku tuan...
Aggghhh... Aku adalah budak sex tuan.... Ooouuuuuggghhh...." ceracaunya
Gisti makin tak jelas.
Mendengar itu semua Gunderewo hanya tersenyum
dengan bangga. Predikatnya sebagai mahluk bau, jelek, dan menjijikan
namun tetap bisa menaklukan wanita muda yang amat cantik tetap melekat
pada dirinya. Dia pun tersenyum lebar, kemudian melepas ikatan di kedua
pergelangan kaki dan tangan Gisti. Gisti yang merasa bebas, segera
mengarahkan tangannya menuju lubang vaginanya. Dia langsung menggeseki
vaginanya dengan cepat dan bernafsu. Gisti mulai memasukan satu demi
satu jarinya ke dalam vagina nya yang sudah sangat basah itu sambil
terpejam. Ternyata semua jarinya mampu masuk ke dalam lubang vaginanya
itu. Sekarang dia mengeluar-masukan kepalan tangan nya menggaruki
dinding vaginanya yang sangat gatal itu. Gunderewo tertawa dengan sangat
keras dengan apa yang telah dia buat pada gadis alim ini. Dia sangat
puas melihat Gisti menggeseki vaginanya sendiri dengan susah payah.
Gisti terlihat sangat bernafsu saat itu. Dia mencoba segala yang dia
bisa untuk menghilang kan rasa gatal di dalam vaginanya. Namun semuanya
sia-sia saja. Rasa gatal di vaginanya tak pernah hilang, namun bertambah
gatal saja setiap detiknya.
Frustasi, Gisti pun menangis. Dia
merasa sangat tersiksa dengan rasa gatal di vaginanya itu. Dia terlihat
sangat tersiksa karena ulahnya sendiri pada vaginanya. Karena kasihan,
Gunderewo itupun berbisik pada Gisti.
"Rasa gatal di vaginamu itu
hanya bisa hilang dengan gesekan kontolku saja wahai budak manusia. Rasa
gatal itu hanya akan mereda bila bersentuhan dengan sisik di penisku
ini. Apa kau mengerti?" bisik mahluk itu ditelinga Gisti.
"Aaaaghhhh,,, iyaa tuaaan.. Tolong berikan itu pada hamba... Aggghhh...." ucap Gisti sambil terisak.
"Ada syaratnya!" ucap mahluk itu menatap Gisti tajam.
"Aaapp,, apa syaratnya tuaann? Aaagghhhh..." ucap Gisti sambil terus mendesah.
"Kau harus membuatku orgasme terlebih dahulu dengan mulut dan tanganmu itu. Kamu harus menelan habis spermaku terlebih dahulu."
"Ba,, baik lah Tu,,, aaagghhhh... Baik lah tuan.... Sssshhh.."
"Lakukanlah sekarang dasar budak!"
"Ba, baik tuan." Ucap Gisti sambil menyerbu tubuh mahluk itu.
Gisti
mulai menggenggam penis raksasa Gunderewo dengan kedua tangannya.
Diameternya tak muat dalam genggaman tangan nya itu. Dia kemudian
menjilati penis bersisik itu dengan sangat bernafsu. Sesekali Gisti
mencoba untuk memasukan benda itu ke dalam mulutnya. Namun sekeras
apapun dia mencoba, benda itu tak pernah bisa masuk ke dalam mulutnya
yang terlalu mungil itu. Gisti menjilati setiap inchi penis dari mahluk
yang paling menjijikan itu dengan sangat telaten. Dia menjilati penis
dari mahluk yang telah membuat nya muntah beberapa jam yang lalu. Gisti
telah kehilangan akal sehatnya. 15 menit sudah Gisti menjilati penis
besar bersisik Gunderewo itu, namun sama sekali belum terlihat jika
benda itu akan segera memuntahkan sperma nya. Sedangkan rasa gatal di
dalam vaginanya telah mencapai level maksimal. Gisti akhirnya menangis.
Dia lalu mencoba memasukan benda besar itu kedalam liang vaginanya
dengan sangat bersusah payah.
'Bleeeeesss' akhirnya penis besar itu menembus liang vaginanya yang sudah sangat basah.
Benda
besar itu langsung menggaruk rasa gatal yang menyerang dinding
vaginanya. Gisti pun menggoyangkan pinggulnya dengan sangat cepat diatas
tubuh mahluk itu. Gisti memejamkan matanya menikmati kenikmatan yang
batang penis mahluk itu tengah berikan pada vaginanya.
"Aagggghhh... Enak nya... Ooohhh,, ahhhhhh...." desah Gisti sambil mempercepat goyangan vaginanya.
Gunderewo
itu hanya bisa tertawa dengan sangat lantang melihat aksi Gisti saat
itu. Gisti sedang menggerakan tubuh seksinya itu dengan sangat lincah di
atas tubuh nya. Gadis cantik itu tengah menunggangi penis raksasanya
dengan bersusah payah. Namun wajahnya memancarkan rona kenikmatan yang
sangat dahsyat. Wajahnya mendongak ke atas, kedua matanya terpejam,
sedangkan mulutnya membuka lebar. Hal itu sungguh sangat membuat mahluk
itu terangsang. 15 menit menggenjot penis besar Gunderewo, vagina Gisti
pun mulai berdenyut menandakan dia akan segera mendapatkan orgasme
kembali. Gadis itu mempercepat goyangan pinggulnya, menghentak penis
Gunderewo itu makin keras. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan keringat.
Kuncir rambutnya telah terbuka sehingga rambut panjangnya terurai bebas
dan dahinya juga bercucuran keringat
"Aaaaaggghhh,, tuan,, kontol
tuan nikmat bangeett... Aaagghhhh,, hamba, orgasme lagi tuannnn...
Agggghhhh..." jerit Gisti sambil melepas orgasmenya yang kedua hari itu.
Cairan
hangat menyembur dengan sangat deras di liang vaginanya. Gisti bahkan
mengalami squirting. Vaginanya mengeluarkan cairan dengan sangat
derasnya. Seluruh tubuh Gisti mengejang untuk beberapa saat, lalu ambruk
menimpa tubuh besar Gunderewo. Gisti sangat menikmati orgasmenya Kali
itu, hingga dia lupa pada tugasnya untuk memuaskan Gunderewo. Gunderewo
itupun marah pada Gisti. Dia lalu mengeluarkan kembali cairan precumnya
didalam vagina Gisti dengan cukup banyak. Hal ini langsung membuat
vagina Gisti sangat gatal dibuatnya. Gisti bahkan sampai menjerit kaget
dibuatnya. Dan tanpa menunggu lama lagi, dia pun kembali menggoyangkan
pinggulnya menggesek penis besar Gunderewo. Tak beberapa lama kemudian,
Gisti mengalami orgasme nya kembali. Lagi, seluruh otot di tubuhnya
mengejang lalu ambruk tak bertenaga. Hal ini kontan membuat Gunderewo
itu sangat marah. Akhirnya mahluk besar ini mengeluarkan precumnya yang
sangat beracun di dalam vagina Gisti. Precum ini mengandung bakteri yang
sangat ganas. Bakteri yang akan terus menggigiti dinding vagina Gisti,
menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat. Bakteri ini takan berhenti
menggigit seluruh rongga di dalam liang vagina Gisti, meskipun dia telah
mendapatkan orgasme. Bakteri ini hanya bisa hilang oleh cairan sperma
Gunderewo saja. Gisti sangat tersiksa dibuatnya. Vaginanya makin terasa
gatal saja, padahal dia baru saja mendapatkan orgasme. Gisti pun mulai
memaksakan tubuhnya untuk bergerak, sehingga kelamin mereka saling
bergesekan kembali. Namun gesekan antara kelamin mereka itu hanya
membuat vaginanya makin gatal saja. Vagina Gisti sudah sangat membanjir
dibuatnya. Peluh beserta keringat bercucuran di seluruh tubuhnya. Ntah
sudah berapa Kali dia mendapatkan orgasme dan squirting hari itu. Namun
rasa gatal di vaginanya tak pernah berhenti.
Gisti sudah sangat
lemah, seluruh tenaganya sudah habis terkuras. Namun dia tetap memaksa
pinggulnya tetap menggoyang, meskipun tubuh bergetar hebat. Tak lama
berselang, Gisti pun mendapatkan orgasmenya kembali untuk yang kesekian
kalinya. Tubuhnya mengejang dengan sangat dahsyat, lalu dia pun jatuh
pingsan kembali. Melihat mangsanya tergeletak tak sadarkan kembali,
Gunderewo itu hanya menatap puas. Dia mencabut penisnya dengan satu
tarikan kuat. Mahluk itu lalu merebahkan tubuh Gisti mengangkang. Dia
lalu menjilati vagina gadis itu dengan sangat bernafsu. Vagina Gisti
yang sudah sangat membasah dijilatnya dengan sangat rakus. Lidahnya
segera keluar masuk di dalam vagina Gisti dengan sangat lincah. Mahluk
itu memasukan lidah panjangnya sangat jauh ke dalam vagina Gisti.
Sehingga masuk kedalam rahim Gisti. Mahluk itu lalu menjilatinya gemas.
Gisti hanya bisa mendesah lemah dibuatnya. Dia sudah tak memiliki tenaga
sedikit pun hanya sekedar untuk membuka mata. Namun vaginanya tak
pernah berhenti mengalami orgasme. Cairan cintanya yang bercampur dengan
air kencing menyembur setiap kali dia orgasme. Muncrat membasahi lantai
gua yang pengap dan lembab itu.vSetelah puas menjilati vagina gadis
tersebut, Gunderewo itu kembali memasukan penis besar nya itu ke dalam
liang vagina Gisti yang sudah sangat melar. Mahluk itu kembali
menghentak kan penisnya dengan sangat kuat dan keras di dalam vagina
gadis itu, membuat tubuh Gisti terlonjak-lonjak. Karena jepitan vagina
Gisti sudah sangat melemah, Gunderewo pun membalikan tubuh mangsanya
tersebut. Mahluk itu mulai memposisikan tubuh Gisti untuk menungging.
Lidah panjangnya segera menjilati dan mengoreki liang dubur Gisti.
Membuat Gisti kembali menggeliat. Sesekali dia masukan lidah panjangnya
itu ke dalam sana, mencoba membuat lubang itu sedikit melebar. Ketika
dirasa sudah cukup basah, Gunderewo pun memposisikan penis besarnya di
depan lubang dubur Gisti. Dan dengan satu sentakan keras, amblas lah
seluruh penis besar nya itu merobek anus Gisti. Gisti menjerit dengan
sangat keras. Seluruh otot di tubuhnya bergetar merasakan sakit yang
amat sangat. Gisti pun pingsan kembali. Cengkraman otot dubur Gisti
seakan mencekik penis Gunderewo itu. Mahluk itu kembali merasakan nikmat
nya tubuh gadis itu. Sekarang Gunderewo itu sudah tak perduli lagi
dengan keadaan Gisti. Dia hanya ingin segera mencapai orgasmenya. Dia
mulai menyetubuhi dubur Gisti dengan sangat kasar. Tak lama berselang
mahluk itu pun mendapat orgasme nya yang pertama saat itu. Dia menggeram
sambil menyembur kan sperma panasnya memenuhi liang dubur Gisti. Tangan
besarnya meremas kuat payudara Gisti, gigi-gigi tajamnya menggeremet.
Dan seluruh tubuhnya mengejang, lalu ambruk menimpa tubuh kecil Gisti
dengan penis yang masih menancap di liang dubur gadis itu. Setelah
mendapatkan orgasme nya itu, penis besar Gunderewo mengecil dengan
sendiri nya. Lalu benda itu keluar dari dalam dubur Gisti secara
perlahan. Mahluk itu tersenyum dengan sangat lebar. Rona kepuasan
tergambar jelas di wajahnya. Mahluk itu pun menghilang ntah kemana.
Meninggalkan Gisti sendirian dalam kondisi yang sangat mengenaskan di
gua tersebut. Tinggallah Gisti sendiri di gua lembab nan pengap itu.
Tubuhnya sudah sangat mengenaskan, dalam posisi yang menungging. Lubang
vagina dan dubur nya menganga sangat lebar, bercak darah masih jelas
terlihat di kedua lubang tersebut. Gisti mati dengan kedua lubang yang
sangat basah oleh lendir dan oleh cairan sperma Gunderewo yang berwarna
hitam pekat. Namun roh Gisti dibawa oleh sang empunya sperma ke alam
nya. Yaa, roh Gisti dijadikan gundik oleh sang Gunderewo itu di alamnya.