Schoolgirl’s Diary 9: Burning Passion
“HMMMMFFFF….,
” Vivi mendelik ketika merasakan tangan seseorang membekap mulutnya
dari belakang, kemudian dengan mudahnya orang itu menggusur tubuhnya ke
dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka, sebuah kelas tua yang sudah
tidak terpakai.
“Pstttt…. ini aku Viii” Vivi menolehkan kepalanya ke belakang ketika
orang itu berbisik dan melepaskan bekapan pada mulutnya, suara yang
tidak asing lagi, bahkan wajah yang sudah sangat dikenalnya.
“Andra ??!! koq…” Vivi tidak melanjutkan kata-katanya karena telinganya
mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru mendekati Kelas di gedung
tua itu, dengan sigap Vivi membuka sebuah lemari tua yang sudah tidak
terpakai kemudian masuk ke dalamnya.
“WADUHHH,…” Andra kebingungan, mau di mana lagi ia menyembunyikan
tubuhnya yang kelewat besar ini, mau jadi Spiderman?? nggak mungkin!!,
jaring labah-labah tidak akan sanggup menahan beban tubuhnya yang
overweight, , akhirnya Andra memilih bersetubuh dengan Vivi (Hemmm ?? )
“Aduhh…, Andra…!! sempittt….!! “
“Aduh, Viii, Aduhhhhh…..Esshhh” Andra mendesah pelan, tubuhnya mendesak
tubuh Vivi dalam posisi tubuh Vivi memunggungi tubuh Andra, nafas Andra
terasa sesak apalagi ketika merasakan bongkahan buah pantat Vivi
berdesakan dengan selangkangannya, kemudian pintu lemari tua itu
tertutup menyembunyikan tubuh mereka berdua. Cuping hidung andra kembang
kempis menghirup dalam-dalam keharuman tubuh Vivi si buah dada besar.
Ada sebuah lubang di lemari tua itu yang memungkinkan keduanya untuk
mengintip keluar, Andra dan Vivi menahan nafas ketika pintu kelas itu
terbuka, Ahh…!! Ternyata bukan Doni, Pak Romi si penjaga perpustakaan,
“DASAR KEPARAT..!!” tangannya menjambak rambut dua orang gadis cantik
yang mengaduh-ngaduh kesakitan, tua bangka itu menyeret kasar kedua
gadis bermata sipit itu.
“Vii, Rekammm, cepet rekammmm….” Andra berbisik di telinga Vivi, Vivi
mulai mengarahkan Hpnya untuk merekam kebejatan Pak Romi, sementara
sesuatu diselangkangan Andra berdenyut-denyut semakin lama semakin keras
dan tegang, Vivi menolehkan wajahnya kearah Andra ia mendelik marah
ketika merasakan sesuatu di selangkangan Andra mengganjal buah
pantatnya, sementara Andra tampak serba salah., Vivi bertambah marah
ketika merasakan tangan Andra merayapi pinggul dan pinggangnya.
“Rekam terus Viiii…, Ceglukkkkk…… ” Andra berbisik di telinga Vivi,
tangan Andra semakin aktif menjelajahi lekuk liku tubuh Vivi, sesuatu di
selangkangan Andra semakin membengkak dan mengeras.
“He he he he…” Pak Romi terkekeh-kekeh, si tua bangka yang menyebalkan,
itu melangkahkan kakinya mendekati kedua orang murid cantik yang
tersurut mundur ketakutan, Tania dan Cheria, cheerleder sekolah kami
yang terkenal jutek, namun kejutekan mereka tidak dapat membohongi
kecantikan wajah mereka berdua.
“Bapak mau apa sihh…!! “
Tania menepiskan tangan Pak Romi yang hendak menjamah buah dadanya,
gadis cantik itu melotot dengan galak menatap Pak Romi, ia tidak sudi
kalau tubuhnya disentuh oleh manusia rendahan seperti Pak Romi, walaupun
sebenarnya Pak Romi sudah memegang kartu AS.
“Ha Ha Ha, biasanya sih amoy-amoy jutek macam kalian lebih panas dan hot kalo lagi dientot, lebih liar…..!!” Pak Romi
“JANGAN KURANG AJAR YA…!! ” Cheria mencaci Pak Romi, dengan berani ia
melayangkan telapak tangannya ke wajah Pak Romi, namun dengan sigap Pak
Romi memiting tangannya ke belakang, Cheria mengeluh ketika Pak Romi
dengan cekatan mengikat kedua tangannya, kemudian mendorong tubuhnya
hingga ia rubuh terjengkang ke belakang.
“CHERIA…..!! Heiii lepaskannn,….!!” Tania memekik
“Brengsekkkk….., Ahhhhhhhhhhh..!!” Tania tampak kesakitan ketika Pak Romi mengikat kedua tangannya kuat-kuat.
Tania yang hendak menolong Cheria malah mengalami nasib yang sama dengan
Cheria, Pak Romi mengikat kedua tangan Tania kebelakang, dengan kasar
Pak Romi membalikkan tubuh Tania dan memeluk pinggang gadis itu.
“Bajingannn, Keparatttt, manusia rendahh..!!” Tania memaki Pak Romi
ketika tangan lelaki tua itu menggerayangi tubuhnya, Tania
menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghindar mulut Pak Romi yang
hendak menyumpal bibirnya, gadis itu bergidik karena merasa jijik ketika
lidah Pak Romi yang basah sesekali menjilat batang lehernya.
“ffmmmmhh.., Mmmmmhh….” harimau tua itu akhirnya berhasil melaksanakan
niatnya, dengan beringas mulutnya mencaplok bibir murid cantik itu,
dengan rakus bibirnya mengenyot-ngenyot dan melumat bibir Tania, kedua
tangan Pak Romi mulai meremas-remas pinggul Tania
“Aufhhh, tolonggg, jangannnn……lepaskan !!” Tania merintih putus asa
ketika Pak Romi melepaskan kulumannya, gadis itu memalingkan wajahnya ke
arah lain, ia muak menatap wajah Pak Romi yang cengengesan sambil
memeluk tubuhnya dengan erat, kalau saja kedua tangannya tidak dalam
keadaan terikat Tania pasti menampar wajah si keparat itu, mahluk
bangkotan dan kurang ajar, OHHH…!! lidah si bajingan Romi terasa hangat
ketika kembali menjilati permukaan lehernya, terasa basah menjijikkan…!!
“Bajingannn…, Awwww…..” Pak Romi menatap wajah Tania yang cantik,
diciumnya pipi Tania yang lembut halus, kemudian kembali menjulurkan
lidahnya untuk menjilati leher gadis itu, ia tidak mempedulikan Tania
yang membentak dan mencacinya, mulut Pak Romi terus mengecupi dan
menghisap-hisap leher gadis itu, Pak Romi mendesakkan tubuh Tania ke
dinding, tangannya mengelus-ngelus lekuk liku tubuh Tania, hidungnya
mengendus-ngendus menghirup harum tubuh mangsanya yang cantik yang
terikat tanpa daya, diremasnya buah dada Tania dengan gemas sebelum
menyeret tubuh Tania mendekati tubuh Cheria, kemudian Pak Romi
mendudukkan tubuh Tania dan Cheria di atas meja tua itu sementara
dirinya bersujud di hadapan kedua gadis cantik itu, mata Pak Romi
melotot liar, menjilati lekuk-liku tubuh Cheria dan Tania, wajah yang
cantik, tubuh yang seksi, kulit yang putih dan mulus.
“BINATANGGG….!! “
Cheria memaki Pak Romi ketika penjaga perpustakaan itu menyibakkan rok
seragamnya ke atas kemudian dengan kasar menarik lepas celana dalam
gadis itu hingga terlolos melalui kedua kakinya yang mulus. Kedua kaki
Cheria yang mulus tertutup merapat, mata gadis itu menatap benci pada
laki-laki tua yang tidak tahu diri itu.
“Saya memang binatang, tapi saya adalah binatang yang baik..!! saya
tidak akan membocorkan rahasia orang tua kalian yang sudah bekerja sama
menyelewengkan dana perusahaan…! Dan yang paling penting saya akan
memberikan kalian kepuasan he he he he…, coba kalian pikir kurang apa
saya ini ??masa sebentar-sebentar Pak Dion lagi, pak Dion lagi yang
dapat perawan…..!!! ” Pak Romi menggerutu menelan ludah sambil
terkekeh-kekeh ketika telapak tangannya merayapi permukaan paha Cheria,
nafasnya semakin memburu kencang ketika telapak tangannya merayap
semakin ke atas,
Selama ini memang Pak Romi belum pernah mendapatkan mangsa yang masih
perawan, semuanya sudah disikat terlebih dahulu oleh para guru bejat
itu, tapi kali ini…, Pak Romi menyabotase laporan dari Doni dan
mengambil kesempatan dalam kesempitan. (Hemmmm, bibit-bibit perpecahan
akibat keserakahan dan hawa nafsu tampaknya mulai menggerogoti
mahluk-mahluk buas itu )
“Halussnyaaaa….kulit amoy memang halus dan lembut, apalagi anak
sekolahan macam kalian, putih terawat… he he he…mulus sekali..salut…!!
salutttt…!!” tangan Pak Romi merayap kearah selangkangan Cheria, jari
jempol Pak Romi mengurut-ngurut bagian belahan vagina Cheria yang mulai
basah, nafas Cheria tersendat-sendat tertahan ketika merasakan jari-jari
Pak Romi semakin aktif menggerayangi wilayah intimnya.
“Hhhhhhhhhhh…..Hhhhhhhhhh “
Terdengar suara desahan-desahan nafas tertahan gadis itu ketika Pak Romi
menarik pinggiran bibir vaginanya, desahan-desahan dan suara nafas
tertahan semakin sering terdengar ketika Pak Romi mengendusi isi vagina
Cheria yang berwarna pink, nafas laki-laki itu terasa hangat menerpa isi
vaginanya sebelah dalam.
“Ohhhhhh…..!!Jan…,,,Jangannnnn…Ahhhhhhhhsshh “
Cheria mendesah keras ketika merasakan lidah si tua bangka menjilati
klitorisnya, marah?? benci dan jijik? nikmat? Cheria berusaha
menyadarkan dirinya, namun betapapun kerasnya dirinya berusaha, rasa
nikmat itu terus menerus menggerogoti kesadarannya, berkali-kali
tubuhnya tersentak keenakan ketika lidah si tua bangka itu menggelitiki
dan mengait-gait daging kelentitnya, lidah Pak Romi yang sudah
berpengalaman begitu ahli mempermainkan daging klitoris Cheria, gadis
itu merintih kecil ketika mulut Pak Romi mengenyot-ngenyot vaginanya,
agar lebih leluasa Pak Romi membaringkan tubuh Cheria di atas meja lain,
tepat di hadapan meja di mana Tania duduk dengan kedua tangannya yang
terikat ke belakang. Cheria memejamkan matanya, nafasnya terdengar
berdengusan ketika Tangan Pak Romi mulai mempereteli kancing baju
seragam sekolahnya, Pak Romi tersenyum sinis, perlahan-lahan
dipretelinya kancing baju Cheria yang terkenal karena kecantikan dan
kejutekannya, dilepaskannya baju seragam Cheria berikut dengan bra
berwarna putih itu.
“CHERIAA…!! Cheriaaa…, ” Tania berteriak mamanggil-manggil nama
temannya, ia berusaha menyadarkan Cheria namun tampaknya kenikmatan itu
sudah menenggelamkan kesadaran Cheria ke dalam lautan birahi, ia malah
membalas melayani cumbuah Pak Romi, gadis itu merintih – rintih kecil
ketika Pak Romi menunduk untuk mencumbui lehernya, berulang kali ia
mendesah-desah ketika merasakan deru napas Pak Romi yang berdengusan
menerpa lehernya. Si bandot tua bertambah nafsu, mencumbui batang
lehernya.
“Ckkkk… Ckkkkk, Emmmm Ckkkkk…Hmmmmhhh.” mulut Pak Romi mencaplok
kemudian melumat bibir Cheria, pipi gadis itu terkempot-kempot ketika
membalas hisapan-hisapan mulut si bandot tua, sementara tangan pria itu
bergerak bebas mengelus-ngelus tubuhnya sebebas tangan Andra yang
merayapi buah dada Vivi yang besar di dalam lemari tua itu.
Nafas Vivi tertahan ketika menyaksikan Pak Romi menarik pinggul Cheria
ke pinggiran meja, kedua kakinya mengangkang menggantung tanpa daya,
nafas Vivi bertambah sesak ketika Andra semakin berani meremas-remas
buah dadanya. Pak Romi menempelkan kepala penisnya di belahan vagina
Cheria, belahan vagina itu masih tertutup rapat, mirip seperti garis
tipis yang membelah selangkangannya, dengan mulut penis digeseknya
dengan perlahan-lahan garis tipis itu, cairan vagina Cheria membuat
kepala penis Pak Romi semakin basah mengkilap.
“HOSHHHH…!! HOSHHHHH… HOSSSSSHHHH…. ” Nafas Pak Romi semakin berat ,
tangan kanan Pak Romi yang memegangi batang penis gemetar hebat ketika
membantu untuk menjejalkan kepala penisnya ke belahan vagina Cheria.
Mata pak Romi melotot ketika tubuh Cheria menggelinjang, rupanya ia
kegelian ketika kepala penis Pak Romi mulai membelah belahan vaginanya.
“AHHHHHHHHHHHHHHHHHHH……!! Aduhhhhh, Sakitttt….!! Ahhhhh” Cheria menjerit
kemudian mengaduh kesakitan, tubuhnya bagaikan orang yang sedang demam,
menggigil disertai cairan keringatnya yang mengucur semakin deras.
“Owwwwwwwwwww…..!! ” Cheria melolong keras ketika Pak Romi menancapkan
batang penisnya semakin dalam, wajah Pak Romi tampak beringas ketika
menjejalkan batang kemaluannya menyodok belahan vagina Cheria,
dirobek-robeknya keperawanan Cheria dengan sodokan-sodokannya yang
brutal.
“Weleh- weleh…,PERAWAN ting-ting !! ” Pak Romi menatap tajam pada
cairan merah yang membasuh batang penisnya, si bandot tua tersenyum
sambil menatap wajah Cheria yang mengernyit kesakitan.
Air mata mulai berlinang dan membasahi pipinya, isakannya bertambah
keras ketika Pak Romi mulai mengayunkan batang kemaluannya
menyodok-nyodok belahan vagina Cheria hingga tubuhnya terdorong dan
tersentak-sentak dalam sebuah irama nafsu Pak Romi si penjaga
perpustakaan.
“Ahhhh….!! Ahhhhhh!! Ahhhhhhhh…!! ” Cheria tampak tersiksa di atas meja
ketika penis Pak Romi menggergaji belahan vaginanya,
rintihan-rintihannya semakin keras terdengar, sesekali suara terkekeh
menyela rintihan-rintihan Cheria, suara terkekeh yang membuat bulu kuduk
merinding.
“Nnnnggghhh Crrrrr. Crrrrrrrrrrrrrrr… Crettt…. ” Tubuh Cheria melenting
kemudian terhempas tanpa daya disertai nafasnya yang tersenggal-senggal,
buah dadanya turun naik dengan cepat ketika Cheria berusaha mengambil
nafas.
“Udah ngerti lu yang namanya enak?? ” kata Pak Romi sambil tersenyum sinis menyindir Cheria yang terisak menangis.
Tangannya menjamah buah dada Cheria kemudian mengelusinya, kemudian Pak
Romi kembali menyodokkan batang penisnya menyetubuhi kembali gadis itu
yang kembali merintih-rintih ketika selangkangannya disodok-sodok dengan
liar olehnya. Cheria memalingkan wajahnya kearah lain, Airmata semakin
deras meleleh dari matanya yang sipit, isak tangisnya kembali mengeras
ketika tubuhnya tersentak dan terguncang semakin kuat diatas meja
diruangan itu. Tangan Pak Romi meraih pinggang Cheria kemudian sambil
menyodok diangkat dan ditarik-tariknya pinggang gadis itu hingga Cheria
melenguh keras, sesekali Cheria meringis ketika penis Pak Romi
mengocek-ngocek belahan vaginanya, berkali-kali Cheria menelan ludah
membasahi tenggorokannya yang terasa kering, matanya yang sipit terpejam
rapat. Cheria kembali membuka matanya ketika merasakan tangan pak Romi
mencengkram buah pantatnya, tubuhnya melayang kemudian tahu-tahu ia
sudah duduk saling berhadapan dengan Pak Romi, atau lebih tepatnya
Cheria menduduki penis Pak Romi, ia tertunduk malu ketika Pak Romi
mengajarkannya untuk bermain dalam posisinya yang sekarang.
“Ayo lakukan… ” Pak Romi memegangi pinggang Cheria, entah kenapa Cheria
melakukan perintah Pak Romi, ia mulai mendesak-desakkan vaginanya
mendesak-desak batang penis yang tertancap dibelahan vaginanya,
kepalanya terangkat-angkat keatas, bibirnya mendesah dan mendesis
keenakan, bisikan-bisikan setan dari neraka terus membisiki telinga
Cheria agar ia bermain lebih liar dan binal…!!
“Aaaaa…!! Aaaaaaahhh…!! Ennnnggghhh..!! Ahhhhhh…..!! ” Cheria
mengeliat-geliat liar sambil mendesak-desakan vaginanya dengan kuat,
tubuhnya melompat-lompat turun naik di atas pangkuan Pak Romi yang
melotot terkagum-kagum memandangi buah dadanya yang melompat-lompat
dengan indah di hadapan wajahnya.
Penjaga perpustakaan itu tersenyum mesum sambil memegangi pinggang Cheria yang sedang menjerit dan menggeliat dengan binal.
“aHhhh… Ahhh…. Enakkkk Ahhhhhh… Crrr Crrrrr…. ” Cheria menjerit liar
gerakan-gerakan binal Cheria perlahan-lahan terhenti ia terkulai lemah
dalam pelukan Pak Romi yang memeluk erat-erat tubuhnya
Setelah mengecup bibir Cheria, Pak Romi melinkarkan tangannya kebelakang
untuk melepaskan ikatan pada tangannya. Cheria menekuk wajahnya ia
tidak berani memandang wajah Pak Romi yang cengengesan, ia tampak risih
dan salah tingkah ketika tangan si penjaga perpustakaan berkeliaran
merayapi tubuhnya. Tangan Cheria memang telah bebas tapi untuk apa?? Pak
Romi sudah membelengu gadis itu dengan sebuah kenikmatan yang
terlarang, Cheria turun dari pangkuan Pak Romi ketika ia menyuruhnya.
Pak Romi berdiri di hadapan Cheria kedua tangannya menekan bahu Cheria
untuk bersujud di hadapan selangkangannya, kemudian Pak Romi menyodorkan
batang penisnya. Mata Cheria terpejam-pejam ketika mulutnya terbuka
lebar dan menerima kehadiran kepala Penis Pak Romi, lidahnya terjulur
keluar kemudian kepala penis Pak Romi berbaring di atas lidah Cheria,
kepala Cheria maju ke depan, mulutnya mencaplok kepala penis si bandot
tua yang mengeluh keenakan. Mulut gadis itu tampak mengempot ketika
melakukan hisapan-hisapan kuat.
“Uehhhhh, geloo siah!! “
Kedua tangan Pak Romi mendekap kepala Cheria, nafasnya terengah-engah
keenakan ketika lidah Cheria bergerak liar memutari kepala penisnya,
mulut Pak Romi termonyong-monyong sambil sesekali berkata Uhhh, Uhhhh,
Uhhh Aaaaaaaaaaaaaahhhh…!! Tiba-tiba tangannya menjambak rambut gadis
itu kemudian menariknya agar berdiri, Cheria mengaduh kesakitan ketika
mendapat perlakuan kasar dari Pak Romi.
“Ahhhh Aduhhhh…..” Cheria kembali mengaduh ketika Pak Romi membalikkan
tubuhnya, mendorongnya dan menekankan punggung gadis itu agar menungging
, kedua tangannya bertumpu pada sebuah meja sementara Pak Romi
mengambil posisi di belakang tubuh gadis itu.
“Hssshhh, Ohhhhhhhhhhhhhhh, Ahhhhhhhh”
Cheria mendesah panjang ketika merasakan kepala penis Pak Romi
mencolek-colek belahan vaginanya kemudian naik sedikit keatas untuk
mencolek-colek lubang anusnya, entah lubang mana yang akan dirojok oleh
Pak Romi, tampaknya Pak Romi sengaja mempermainkan Cheria yang jutek.
Kepala Penisnya mencolek-colek lubang anus dan lubang vagina Cheria
sampai gadis itu menggelinjang kegelian..
“AHHHHH…!! Nnhhhhhhhhh…. Awww…Aduhh..!! Sakit ..!!”
Nafas Cheria terputus di tengah jalan kemudian memekik kecil ketika
kepala penis Pak Romi merojok-rojok lubang anusnya dengan kasar, Pak
Romi semakin bernafsu menjejalkan batang kemaluanya ketika mendengarkan
pekikan Cheria. Dijambakknya rambut gadis itu kemudian disodokkannya
kuat-kuat batang kemaluanya menghujam lubang lubang anus Cheria
sedalam-dalamnya. Pak Romi terus mendesak-desakkan kemaluannya walaupun
batang kemaluannya tidak mungkin lagi untuk bergerak masuk lebih dalam
karena selangkangannya sudah membentur bongkahan buah pantat Cheria.
“Ahhhh, Ahhhhh, Aduhhh, sakit, sakittt….aahhhh” Cheria mengaduh ketika
Pak Romi menyodominya dengan kasar, belum lagi rasa sakit akibat
jambakan tangan Pak Romi di rambutnya, tubuhnya terdorong maju mundur
dengan kuat, terdengar suara meja yang berderit ikut terdorong-dorong
akibat persetubuhan liar antara Pak Romi dan Cheria, gadis itu meringis
kesakitan merasakan sodokan-sodokan Pak Romi, keringat dingin mengucur
dengan deras menahan sodokan-sodokan batang kemaluan Pak Romi yang
menyakitkan.
“Blephhh, Plokkk, Plokkkk, Plokkkk..waduhh, boolny enak amat sih, saya
jadi gemes nih……” Pak Romi semakin kuat memompakan batang penisnya
menyodomi lubang anus Cheria tanpa mempedulikan gadis itu yang memekik
kesakitan, lubang anusnya terasa ngilu ketika penis pria itu bergerak
semakin cepat dan kasar menyodok-nyodok anusnya. Tangan kiri Pak Romi
menarik pinggang Cheria yang ramping sedangkan tangan kanannya merayap
kedepan menggerayangi buntalan buah Susu Cheria.
“Ennnhh, Ennnhhh, Ennnhhhh…..Heennhh Ahhhhh” Cheria merengek-rengek,
wajahnya mengernit – ngernyit kesakitan ketika merasakan sodokan-sodokan
kuat kemaluan Pak Romi, nafasnya seolah sedang dipacu kencang ketika
penis Pak Romi menyodoki lubang anusnya.
Kedua tangan Cheria bertumpu kuat-kuat pada meja tua itu, butiran
keringat mengucur dengan semakin deras membasahi tubuhnya yang putih
mulus, kedua lututnya terasa semakin lemas, berulang kali Pak Romi
menaikkan posisi pinggul Cheria yang sering turun ketika sedang
disodok-sodok oleh batang kemaluannya.
“Aduhhh, gimana sihh, Non Cheria dijaga dong posisinya pinggulnya,
jangan turun melulu, cape-kan saya benerinnya…..” Pak Romi protes ketika
pinggul Cheria kembali turun, dengan kasar ditariknya pinggul gadis itu
agar kembali menungging.
“Essshh, Ahhh, Essshhhh Aduhhhh, aduhhhhh….!! ” Cheria kembali mengaduh
ketika pak Romi kembali menggenjotkan batang kemaluannya, lubang anusnya
terasa panas ketika batang penis Pak Romi keluar masuk dengan semakin
kencang dan kuat menyodok-nyodok lubang anusnya kembali.
“Duhhh turun melulu, ya udahhhlah, ngangkang gihhh…..” Pak Romi menyuruh
cheria duduk dipinggiran meja sambil mengangkangkan kedua kakinya
lebar-lebar, Cheria terpaksa berpegangan pada kedua bahu pak Romi ketika
si bandot tua mesum itu mendesakkan batang kemaluannya pada belahan
vaginanya.
“Jrebbbbb,,, Jrebbb Bluesshhhhh…..Ouhhh” Cheria kembali mengeluh ketika
penis Pak Romi mengoyak belahan vaginanya kemudian merojok lubang itu
dengan kuat. Penjaga perpustakaan itu tampak asik merojok-rojok belahan
vagina Cheria yang peret..
“Cleppp, Clepppp Cleppppp, Clepppp….” suara-suara becek terdengar dengan
keras ketika batang kemaluan Pak Romi merojok-rojok belahan vagina
Cheria, digenjotnya kuat-kuat sampai sesekali cheria memekik kecil
ketika menahan sodokan-sodokan kasar batang penis si bandot tua itu.
“Ahhhhh, Aaaa Crrrtt Crrrtttt ” Cheria mencengkramkan kuku-kukunya pada
bahu pak Romi ketika lubang vaginanya berdenyut-denyut dengan nikmat,
Pak Romi terkekeh, ia merasa bangga ketika dengan mudahnya mengalahkan
si jutek yang cantik, gadis itu terkulai lemah dalam pelukannnya,
Dilepaskannya tubuh Cheria yang masih terengah-engah kecapaian, Cheria
berbaring lemas diatas meja dengan posisi kedua kakinya yang terjuntai
mengangkang dipinggiran meja, cairan vaginanya meleleh membasahi meja
dan sebagian meleleh menetes di pinggiran meja, lelehan cairan kental
berwarna putih.
“TIDAKKKK…. BAJINGANNN…!! LEPASKANNNN….” Tania meronta-ronta ketika Pak
Romi menekan tubuhnya untuk berbaring terlentang dengan kedua kakinya
terjuntai di pinggiran meja.
“Plakkkkk….., Awwww..!!” Pak Romi menampar wajah Tania karena merasa
terganggu oleh jeritan-jeritan keras gadis cantik itu, mata pak Romi
menatap wajahnya, tatapan matanya sangat beringas ketika merayapi
lekuk-liku tubuh gadis itu, tangannya merayap menggerayangi tubuhnya.
“Hkkk. Hkkkkk… Hhhhkk….” Tania mulai terisak menangis ketika tangan Pak
Romi mulai melepaskan kancing baju seragamnya satu demi satu, Tania
mengepalkan kedua tangannya ketika perlahan-lahan tangan Pak Romi
menarik kedua cup penutup dadanya kebawah hingga kedua buah dadanya
tersembul, murid cantik itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat ketika
merasakan tangan Pak Romi mulai meremas-remas bukit buah dadanya.
“Kpp.. Keparatttttt….. Hkk Hkkk…” tubuh Tania gemetar hebat, ia semakin
keras terisak ketika tangan Pak Romi menyibakkan rok seragamnya ke atas,
kemudian dengan leluasa Pak Romi mengelus-ngelus pahanya yang halus
mulus. Tania merapatkan kedua pahanya ketika tangan Pak Romi merayap
semakin ke atas.
“OHHHHH…..!!jangan Hkkk Hkkkk Ennnhh Tidakkk..Heekks ” tubuh Tania
tersentak, tangisnnya semakin keras ketika tangan si bandot tua itu
menyelinap masuk ke celana dalamnya, tangan Pak Romi mengelus-ngelus
permukaan vaginanya yang berjembut tipis, Tania merasakan ada rasa
hangat yang menggelitiki sekujur tubuhnya, rasa hangat yang nikmat,
perasaan itulah yang membuatnya perlahan-lahan mengangkangkan kedua
kakinya melebar.
Tania menatap wajah Pak Romi yang tersenyum senang, wajah tua itu begitu
menyebalkan…!! Ohhh tidakkkk ??!! Bukannn ?? Ahhhhhhh…!! Kenapa ini ??
kenapa dirinya malah semakin bergairah ketika menatap wajah mesum yang
sedang terkekeh-kekeh senang sambil mengelus-ngelus belahan vaginanya ??
KENAPAAA…..?? Tania menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha
mengembalikan kesadaran dan kewarasannya. Ohhhh…!! Toloonggggg…!! Sulit
sekali menolak gairahnya yang meletup-letup ketika tangan sipenjaga
perpustakaan itu meremas lembut selangkangannya.
“Coba maenin titit Saya.” Pak Romi menarik kepala Tania dan menekankan
wajah gadis itu kearah batang penisnya yang megacung, Tania menurut ia
membuka mulutnya lebar-lebar kemudian menciumi kepala penis Pak Romi
sebelum akhirnya menjulurkan lidahnya dan mengulas-ngulas ” helm ” pak
Romi yang dijamin tidak akan pernah ada di jual ditoko helm manapun.
“Hooommmhhh, Ummmmmmhhh Mmmmmmhhhh” suara mulut Tania ketika Pak Romi
menjejalkan kepala penisnya kedalam mulutnya, mulut Tania tampak monyong
seperti sedang menyedot sedotan besar, sedotan besar yang berwarna
kecoklatan dan selalu menempel dengan setia diselangkangan setiap
laki-laki.
“He he he, sepongan amoy emang yahud….!!,Uhhh gelo, enakkk pisan” Pak
Romi membelai-belai kepala Tania, sesekali ia mendesah panjang sambil
menekankan batang kemaluannya dalam-dalam, sementara jari telunjuk dan
jari tengahnya mengejar pentil susu Tania.
Jarinya menjepit dan memilin-milin putting Tania yang kemerahan, setelah
puas dioral oleh Tania, pak Romi mengangkangkan kedua kaki gadis itu
lebar-lebar kemudian batang kemaluannya menekan belahan vagina Tania
yang sudah basah oleh cairan vaginanya.
“Hhhhhhhhhhhhhhh…………..” terdengar helaan nafas panjang Tania ketika
kepala penis Pak Romi mulai melesak ke dalam jepitan vagina gadis itu.
Nafas Pak Romi memburu kencang ketika merasakan batang kemaluannya
digigit oleh belahan vagina Tania. Vagina gadis itu seperti sedang
meremas-remas batang kemaluannya, semakin dalam rasanya semakin enak dan
peret dan BREEEKKKK BrrrttTTTTTT…..,Drrrrttttt…!! Ujung penisnya
merobek sesuatu yang mengganjal di dalam belahan sempit itu, kemudian
kembali melanjutkan perjalanannya merojok lebih ke dalam.
“Wahhhh..maaf ya, kontol saya tidak sengaja nyolok memek Non
Tania…!!aduhh jebol dah keperawanannya…. Hehehe” Pak Romi cengengesan
kemudian membenamkan batang penisnya semakin dalam lagi….
“Ohhh, Aaa Aaaahhh Ahhhhhhhh….sakitt..!! Sakitt hentikann AHHH” Tubuh
Tania berguncang dengan hebat ketika Pak Romi mulai menggenjotkan batang
kemaluannya, disodok-sodoknya vagina Tania sampai gadis itu menjerit
kesakitan, suara meja yang berderit mengiringi setiap jeritan Tania yang
sedang disodok-sodok oleh Pak Romi.
“Cleepffhhhh Clsshhhhheeepppp .. Plllleeepppphhhh” Tania termegap-megap
ketika sodokan demi sodokan Romi semakin menenggelamkannya ke dalam
neraka dipenuhi oleh siksaan nafsu yang liar, genjotan demi genjotan pak
Romi membuatnya menjerit keras ,tubuhnya terasa panas terbakar oleh
nafsu birahi yang semakin liar, lelehan demi lelehan keringat yang
membasahi tubuhnya bagaikan tetesan minyak yang semakin mengobarkan api
nafsu birahinya yang semakin binar, tiba-tiba saja Tania tersadar ia
menyilangkan kedua tangannya di dada ketika mata laki-laki itu menatap
buah dadanya yang terguncang hebat, secara tidak sengaja gerakan Tania
justru semakin memancing nafsu Pak Romi, dengan cepat batang kemaluan
Pak Romi bergerak mengocok-ngocok belahan vagina Tania.
“Annnhh… Hemmpphhh Crrr Crrrr…… ” tiba-tiba Tania menggeliat hebat
tubuhnya menggelepar, kedua kakinya menjepit kuat-kuat pinggang pak
Romi, kemudian ia merasakan pandangan matanya menjadi kabur ketika
kenikmatan itu meraih tubuhnya dalam denyutan-denyutan nikmat yang tiada
taranya di dunia ini.
“Ahhhhhhh….. ” Tania mendesah ketika Pak Roni membenamkan batang
kemaluannya sampai mentok, kemudian kedua tangan pak Romi mencengkram
buah pantat gadis itu, dengan sekali sentak diangkatnya tubuh Tania.
“Awww…..” secara reflek Tania berusaha menjepit pinggang si bandot tua,
nafasnya kembali berdengusan ketika tubuhnya tiba-tiba terayun-ayun di
udara, dengan sebatang penis yang tertancap keluar masuk di lubang
vaginanya, sementara kedua tangannya terikat kuat ke belakang, cairan
vagina Tania yang tercampur dengan darah keperawanannya membasahi batang
penis Pak Romi si penjaga perpustakaan.
Bibir Pak Romi mengejar bibir Tania yang mendesah-desah keenakan,
kemudian berkali-kali bibir si penjaga perpustakaan itu menciumi
bibirnya, dilumat dan dikulumnya bibir gadis itu, kemudian berkali-kali
Pak Romi membisikkan kata-kata mesum di telinganya sambil mengayunkan
kemaluannya merojok-rojok belahan vaginanya.
“Untung ada Non Tania jadi saya nggak usah repot-repot nyewa bondon,
lagian Non Tania lebih cantik loh dibandingin para bondon di jalanan….,
memeknya Non juga jauh lebih peret dan seret hehehe” Pak Romi semakin
rajin mengayunkan kemaluannya, Tania memekik kecil ketika Pak Romi
mengayunkan kemaluannya dengan kuat menyodok belahan vaginanya, sodokan
-sodokan pak Romi semakin lembut kemudian berhenti, ia menurunkan Tubuh
Tania, kemudian ia menarik sebuah kursi dan meletakkan kaki kanan Tania
disana, tangan kirinya menarik pinggul Tania sementara tangan kanannya
menjejalkan kepala penisnya menyodok belahan vagina Tania dari belakang.
Tangan Pak Romi mencekal lengan Tania yang masih terikat, kemudian
disentak-sentakkannya batang kemaluannya hingga tubuh Tania yang sedang
berdiri di atas kaki kanannya yang sedang menginjak kursi
terdorong-dorong dengan keras, ditusuknya dalam-dalam belahan vagina
Tania hingga gadis itu mendesah keras kemudian dikocok-kocoknya vagina
Tania yang peret.
“Plokkk. Plokkkk…!! PLOKKKK….. ” terdengar suara benturan-benturan
selangkangan Pak Romi yang sedang menggampar buah pantat Tania, cairan
vagina gadis itu meleleh membasahi pahanya sebelah dalam, sesekali
kepala Tania tertekuk menatap lantai namun kemudian terangkat menatap
langit-langit sambil memekik keras ketika sodokan-sodokan Pak Romi
merojok – rojok belahan vaginanya dengan brutal.
Tania berusaha meronta, isak tangisnya kembali terdengar, apalagi ketika
tangan kiri Pak Romi membelit dan memeluk tubuhnya erat-erat sambil
terus menusuk – nusuk vaginanya dari belakang. Pak Romi menurunkan kaki
kanan Tania dari atas kursi setelah menarik pinggulnya, Pak Romi kembali
mendesak-desakkan batang kemaluannya menikmati belahan vagina Tania
yang seret.
“Unnnhhh Crrrr Crrrrrrrrrrr…. “
“Duhhh…pake nangis segala, bikin saya makin nafsu aja he he he ” Pak
Romi berbisik di telinga Tania sambil meremas kuat induk payudaranya,
setelah mencabut batang penisnya Pak Romi membalikkan tubuh Tania
menghadap ke arahnya, dibelainya bulatan dada Tania dan
diremas-remasnya, Tania menatap wajah Pak Romi, nafasnya berdengusan. Ia
ingin kembali menikmati penis Pak Romi, tangannya meremas kemaluan Pak
Romi kemudian ia mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu,
lidahnya terjulur keluar, mulut Pak Romi langsung mencaplok lidah Tania
dan menghisapi lidah gadis itu.
“Eommmmhh, Ckkk Mmmmmm Slllcckk Ckkk… ” suara berdecakan terdengar
dengan meriah ketika Pak Romi menghisap-hisap dan menjilati lidah Tania,
Pak Romi tampak semakin rakus mengenyot-ngenyot lidah Tania.
Pak Romi mendudukkannya di pinggiran meja, Tania merintih tubuhnya
menggelinjang ketika penis Pak Romi menggesek-gesek belahan vaginanya,
ia terperanjat ketika Pak Romi menjejalkan kepala penisnya kemudian
selangkangan mereka menyatu erat. Tania balas memeluk Pak Romi yang
mendekap tubuhnya yang putih mulus, Tania menjerit liar ketika penis
pria itu mulai menggenjot-genjot belahan vaginanya, Tania sangat
menikmati setiap tusukan-tusukan kasar pak Romi.
“Brukkkk…!! “terdengar bunyi keras ketika dengan kasar Pak Romi
mendorong tubuh Tania hingga punggungnya terhempas membentur meja, kedua
tangan Pak Romi mencekal pergelangan kakinya, dikangkangkannya kedua
kaki gadis cantik itu selebar-lebarnya kemudian digenjotnya kuat-kuat
vaginanya.
“Ahhhh….!! Ahhhh… !! Ahhhhh….. ” Tania mengangkat-angkat pinggulnya
ketika Pak Romi menghantamkan batang penisnya, gerakan gerakan Tania
semakin binal, tubuhnya sudah basah oleh keringat, mata Pak Romi melotot
lebar menatap buah dada Tania yang terguncang dengan hebat, semakin
kuat menyodokkan kemaluannya semakin kuat pula buah ranum itu
terguncang. Pak Romi semakin kuat menggenjotkan kemaluannya ketika mulai
merasakan kedutan-kedutan yang semakin kuat dan…
“Aduhhh gelo.!!ARGGGHHH…!!KECROTTTT…. KECROTTT “
“Owwwww.. Crrrr Crrrrrrrrrrrrrrrr…… ” Tania menggeliat-geliat liar,
siraman sperma yang meletus panas di dalam vaginanya membuatnya semakin
terangsang dan mencapai puncak klimaks, Pak Romi melepaskan cekalannya
pada kedua kaki gadis itu, ia tersenyum lebar menyaksikan cairan lengket
berwarna putih pekat meleleh dari sela-sela bibir vagina gadis itu yang
memar kemerahan. Pak Romi terengah-engah mengambil nafas, ia limbung
dan jatuh terduduk di atas kursi, matanya nanar menatap tubuh Tania dan
Cheria yang telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuh
mereka,setelah beristirahat sampai keringat ditubuhnya mongering,
beberapa lama kemudian Pak Romi memakai pakaiannya, kemudian ia
memunguti pakaian mereka, Si penjaga perpustakaan memakaikan pakaian
mereka yang menatap wajahnya dengan tatapan yang kosong, tangan Pak Romi
membelai wajah Tania dan Cheria, dikecupnya kening kedua gadis itu
kemudian tangannya melingkar, menggandeng pinggang mereka sementara ia
terkekeh di antara tubuh kedua gadis itu yang berjalan sambil
menundukkan wajah mereka.
Vivi menekan tombol di HPnya ketika pemerkosaan yang dilakukan oleh Pak
Romi telah usai, ruangan kelas itu kembali hening sementara Andra
merayapkan tangannya dengan hati-hati mengelus-ngelus pinggul dan
pinggang Vivi, nafas mereka berdua semakin memburu kencang, merasa
diberi lampu hijau sesuatu diselangkangan Andra bertambah tegang, Andra
semakin sering mendesak-desakkan benda sebesar pentungan itu pada buah
pantat Vivi yang mendesah pelan.
“Andraaa… Hhhhh….”
Vivi semakin gelisah ketika tangan Andra merayap melepaskan kancing baju
seragamnya, satu demi satu kancing baju seragam Vivi terlepas dan
tangan andrapun semakin naik keatas, dengan berani tangan Andra menyusup
kebalik cup bra Vivi, Andra menelan ludah membasahi tenggorokannya yang
terasa kering, mata Andra semakin sayu ketika telapak tangannya
bergerak mengelus dan meremas-remasi buntalan buah dada Vivi yang
membuntal padat, payudara besar itu semakin mengenyal dan semakin
mengasikkan untuk diremas-remas, sementara Vivi mendesah-desah pelan
menikmati remasan-remasan tangan Andra pada buah dadanya yang berukuran
bongsor. Perlahan-lahan pintu lemari tua itu terbuka lebar, andra
mencekal pergelangan tangan Vivi dan menarik gadis cantik itu keluar.
“Jangann Andraaa, jangannnn…. Hhhhhhhmmh….” Vivi berusaha menepiskan
tangan Andra yang bergerak hendak melepaskan satu kancing baju terakhir.
Bibir Andra langsung menyumpal bibir Vivi untuk menghentikan protesnya
dan meredam keraguan gadis itu, sementara tangannya merayap perlahan
untuk melepaskan satu kancing baju yang terakhir, Andra mendesakkan
tubuh Vivi merapat kedinding, dibelainya pipi Vivi kemudian dengan mesra
dikecupinya bibir Vivi yang semakin sering mendesah-desah pelan.
Tangan andra melingkari pinggang Vivi kemudian mengangkat tubuh gadis
itu hingga tergantung diudara dalam pelukkannya, dalam posisi kepala
Andra sejajar dengan buah dada Vivi yang membuntal padat. Nafas Vivi
semakin berat ketika merasakan jilatan-jilatan lidah Andra yang basah
dan terasa semakin kasar menjilati belahan dadanya. Tubuh Vivi
menggelinjang ketika Andra mengecupi permukaan payudaranya. Getaran
kenikmatan yang diberikan oleh Andra sangat berbeda jauh jika
dibandingkan dengan getaran kenikmatan yang diberikan oleh Reina, Farida
ataupun Maya, masing-masing getaran kenikmatan itu memiliki sensasi
tersendiri. Antara sadar dan tidak, perlahan Vivi mendekap belakang
kepala Andra ketika merasakan emutan-emutan Andra yang rakus pada puncak
payudaranya, Ohhhh, Vivi merasa seekor kingkong bertubuh besar tengah
rakus menyusu dibuah dadanya, lidahnya bergerak membelit-belit putting
susunya yang semakin meruncing, mulut Andra kembali mencaplok puncak
payudara Vivi kemudian mengenyot-ngenyot puncak payudara Vivi kuat-kuat,
kedua kaki Vivi yang tergantung diudara melejang-lejang ketika Andra
melumat pentil susunya yang meruncing karena terangsang. Andra
menurunkan dan melepaskan tubuh Vivi ketika gadis itu semakin kuat
berontak, dengan cekatan andra mencekal bahu Vivi ketika gadis itu
hendak meloloskan dirinya, kemudian Andra menundukkan wajahnya, bibirnya
kembali menyatu erat dengan bibir Vivi, mereka semakin asik berciuman.
“Andra…!! ” Vivi mendorong kuat-kuat tubuh Andra ketika tangan Andra
berani menyelinap kebalik rok seragamnya, Vivi tampak marah, dengan
tergesa-gesa ia berusaha merapikan baju seragamnya, sementara Andra
tercekat bengong, antara ingin dan takut. Pandangan mata Andra yang
tajam beradu pandang dengan tatapan mata Vivi, dipeluknya tubuh Vivi
yang meronta-ronta, bibir Andra kembali menyumpal bibir Vivi, si buah
dada besar. Tangan Vivi mencubit tubuh Andra ia berusaha melawan, ingin
melepaskan diri, cubitan Vivi begitu sakit, pedih namun bibir Vivi
terlalu manis untuk dilepaskan begitu saja.
Andra menatap kebawah, kearah Vivi yang bersujud di hadapan
selangkangannya, nafas Andra terpatah-patah ketika Vivi membuka ikat
pinggangnya, kemudian tangan Vivi melepaskan pengait celana panjang
Andra, Srettttttt……, permukaan celana panjang andra terbuka mirip huruf
“V” yang terbelah ketika tangan Vivi menarik resleting celana Andra,
Vivi menatap celana dalam Andra, ada sesuatu yang menggembung
dibaliknya., OHHH…!! Bergerak!!!, Apakah sesuatu diselangkangan Andra
itu hidup????!!!
“Ahhhhh…..” Vivi membuang muka ketika Andra mengeluarkan sesuatu dari balik celana dalamnya.
Pentungan hitam besar itu kini teracung dengan bebas dihadapan wajah
Vivi, sesekali Vivi mencuri-curi pandang menatap pentungan di
selangkangan Andra. Andra mendekap kepala Vivi, kemudian mengarahkan
wajah gadis itu ke arah selangkangannya, perlahan-lahan Andra
menyodorkan batang kemaluannya, Vivi sedikit ragu ketika hendak membuka
mulutnya, akhirnya dengan memejamkan mata Vivi mencoba menganggakan
mulutnya, Andra menahan kepala Vivi kemudian menjejalkan kepala
kemaluannya ke dalam rongga mulut Vivi, perlahan-lahan Vivi membuka
matanya, sebatang penis kini menyumpal mulutnya, ada sesuatu seperti
lendir yang meleleh dan rasanya asin. Oh.. jadi seperti inikah rasanya
mengemut-ngemut kemaluan pria, berbagai macam pertanyaan berkecamuk
didalam benak Vivi, tangan Vivi mulai berani mengocok-ngocok batang
kemaluan Andra sementara mulutnya tampak kempot kembang kempis ketika
melakukan hisapan-hisapan kuat. Andra tersenyum sambil menarik bahu
Vivi, ia membalikkan tubuh Vivi kemudian memeluknya dari belakang, Andra
berbisik pelan di telinga Vivi
“Vii tolong jepit tititku ya…..” Vivi mengangguk dan menjepit batang
kemaluan Andra di antara kedua pahanya, tubuh Vivi terdorong-dorong
ketika Andra menarik dan mendorongkan batang kemaluannya, kemulusan dan
kehangatan paha Vivi membuat birahi Andra semakin mendidih dan
“Ufffhhhh… Crooooottttttt…..”
“Ihhhh. Andraaa….” Vivi mengangkangkan kedua kakinya , sesuatu berwarna
putih dan terasa lengket meleleh di permukaan pahanya sebelah dalam,
Andra memeluk tubuh Vivi dari belakang dengan lebih erat kemudian
mengecupi leher si payudara besar yang mendesis-desis keenakan,
sementara tangan Andra merayap meremasi buntalan buah dada Vivi.
“Andra…, Hssshh Ihhhh…” Vivi mendesis kegelian ketika Andra
mmengecup-ngecup batang lehernya dari belakang, sementara jari jempol
dan jari telunjuk Andra menjepit putingnya, ditarik – tariknya kedua
putting itu dengan lembut, dipilin-pilinnya hingga ia meringis-ringis.
“Vii, susu kamu gede amat ya…,?? ” Andra membalikkan tubuh Vivi, matanya
menatap tajam pada buntalan buah dada Vivi yang berukuran C+, tangan
Andra merayap mengusapi permukaan payudara Vivi.
“Duduk Vii, sini aku bantuin….” dengan paksa Andra mendudukan Vivi di
atas sebuah kursi, tangan Andra berusaha merenggangkan kedua paha Vivi
yang mulus.
“Andra…, kamu mau ngapain sich, udah ahhh, jangannn, nggak mau..”
“Nggak apa koq aku rela bantuin kamu….” Andra memaksa dengan dalih
membantu, padahal sebenarnya ia tidak rela melepaskan Vivi si buah dada
besar, apalagi kini Andra menyadari dan yakin kalau Vivi termasuk dalam
kategori gadis yang rapuh menghadapi godaan seksual, hanya galak
dimulut namun hatinya sangat rapuh, kedua tangan Andra membelit pinggang
Vivi, kemudian mulutnya mengecupi payudara Vivi yang montok..
“Uhhhh, Aduhhh, sudahh, Andra aduhhh….!!.” Vivi bersandar pada punggung
kursi sementara kedua tangannya menjambak rambut Andra, tangan Vivi
berusaha menjauhkan kepala Andra dari buah dadanya, sedikit demi sedikit
jambakan Vivi berubah menjadi elusan, Vivi hanya dapat melenguh pelan
ketika merasakan mulut Andra kembali mengenyot puncak buah dadanya,
lidah Andra begitu ahli memainkan puting Vivi yang meruncing karena
terus dirangsang olehnya. Tangan kanan Andra merayap di antara kedua
kaki Vivi, disibakkannya rok seragam Vivi kemudian, dibetotnya celana
dalam gadis itu, Vivi hanya melotot kaget ketika celana dalamnya ditarik
turun oleh Andra.
“Uhhhhh…, Shhhh…..” Vivi mendesis sambil menarik pinggulnya ketika merasakan hembusan-hebusan nafas Andra
Hembusan nafas laki-laki pertama yang mengendus wilayahnya yang paling
sensitif, tangan Vivi gemetar ketika membelai kepala Andra yang berada
di selangkangannya, kecupan-kecupan mesra Andra membuat Vivi terlena dan
merasa nyaman keenakan, kedua kakinya mengangkang dengan pasrah, lidah
Andra mengulas-ngulas belahan vaginanya. Batang lidahnya bergerak liar
mengait-ngait daging mungil diselangkangannya.
Klitoris Vivi begitu nikmat untuk dijilat dan diemut, mulut Andra
berdecakan melumat-lumatnya, nafsu birahinya naik sampai ke ubun-ubun,
sambil menjilati belahan selangkangan Vivi, tangan Andra merayapi paha
Vivi yang mengangkang dengan pasrah. Tiba-tiba Vivi menarik pinggulnya
sambil mendorong kepala Andra ketika sesuatu berdenyut dan menyemprot
dengan hebat,
“Cerrrrrrrrrrrrrrrr…. Crettttt Cretttt…..!!” Andra buru-buru menepiskan
tangan Vivi dan menerkam kembali belahan vaginanya, dikenyotnya cairan
gurih itu hingga Vivi merintih keenakan. Vivi hanya diam ketika Andra
mengelus-ngelus buah dadanya, sesekali Vivi mendesah panjang ketika
Andra menunduk dan menciumi puncak payudaranya, mulut Andra
termonyong-monyong ketika mengenyot-ngenyot puncak susu Vivi.
“Ahhhhh… Andraaa… Ahhhhhhhhh…. ” bibir Vivi mendesah-desah pelan ketika
Andra kembali menundukkan kepalanya diantara selangkangan Vivi,
diciuminya bibir vagina Vivi, Andra bagaikan sedang menciumi sesuatu
yang sangat berharga, tangan Vivi mengelus belakang kepala Andra yang
sedang melumati-lumat selangkangannya, Vivi mendesah keenakan ketika
lidah Andra kembali menyapui belahan vaginanya dan melumat-lumat
selangkangannya. Tiba-tiba Vivi tersentak tersadar ia bangkit sambil
mendorong tubuh Andra dengan terburu-buru ia memakai kembali pakaian
dalamnya, dengan tergesa Vivi merapikan rok abu-abunya dan memungut baju
seragamnya, Vivi membalikkan tubuhnya ketika mengaitkan kembali kancing
seragamnya, tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan Andra yang terlena
dengan segudang nafsu liarnya. Mata Andra menatap punggung Vivi yang
menghilang di balik pintu, masih terasa betapa gurihnya cairan
kewanitaan Vivi. Betapa Asiknya ketika tangannya mengelus-ngelus bulatan
susunya yang putih dan bongsor, Andra juga masih ingin
mengenyot-ngenyot puting Vivi yang meruncing, dan merayapi sepasang
pahanya yang putih mulus, yang jelas Andra ingin menikmati kembali
kehangatan tubuhnya.
——————————————–
Dimarkas besar…
Andra sibuk memindahkan hasil rekaman diponsel Vivi, entah lagi diapain
deh, kalo nggak salah katanya, diconvert trus diburn ke piringan DVD
supaya bisa distel di DVD player or something like that lah, aku menatap
wajah Andra, wajahnya yang bulat, pandangan matanya yang polos, tubuh
yang tinggi besar dan gemuk. Bayi sehat bertubuh raksasa, entah kenapa
Andra selalu salah tingkah ketika aku memandanginya ??
“Nahhh, Beresss….”Andra merentangkan kedua tangannya ke atas, aku,
Farida, Riska, Reina, dan Riska langsung berebutan ingin melihat hasil
jerih payah pertama kami, kami berlima menahan nafas ketika memutar
ulang adengan di kelas tua.
“Ihhh, Andraaa….” Farida menepiskan tangan Andra yang merayap dilututnya, Andra tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Reiii, aku pegang dikit yahh……Asikkkkk”
“Andra..!! nggak mau ahhh…, jangan pegang-pegang…!!”
Reina berontak ketika tangan andra memeluk pinggangnya dari belakang,
wah kayanya Andra makin nakal deh. Aku buru-buru mencubit lengannya yang
hendak melingkari pinggangku. Andra meringis kesakitan ketika aku
menambahkan dua cubitan di perut dan pinggangnya sampai Andra berteriak
keras.
“Amp, Ampunnn Mayy, Auhhhhh..!!!” Andra kembali meminta ampun ketika
cubitanku kembali mampir di pangkal lengannya, ia menjerit kemudian lari
terbirit-birit ketika aku, Farida, Reina dan Vivi bersatu padu untuk
mengejar-tubuhnya yang gembrot. Suara tawa canda semakin sering
terdengar dari dalam markas kami, makin lama Andra semakin nakal, colek
sana colek sini, (duhh dasar Andra… T_T.), Wajah Vivi memerah ketika
tangan Andra melingkari pinggangnya, dengan berani Andra mengelus bokong
Vivi, Anehnya Vivi nggak marah ??!!, kemudian Vivi mendorong tubuh
Andra, sambil menepiskan tangan si pegulat tangguh semakin berani
merayap.
“WHUUAAAAA……!!” kami berempat berseru kaget sambil menunjuk kearah
selangkangan Andra yang menggembung, sementara Andra berusaha menutupi
bagian XXXnya dengan melintangkan kedua tangannya dibagian yang
menggembung itu, aku menolehkan wajahku ke arah Riska yang masih tegang
menatap adengan XXX di layar laptop, kemudian menatap Andra dengan
tatapan mata menyelidik….
Aku menghela nafas panjang,
Secara tidak sengaja
kami mendapatkan bukti kebejatan Pak Romi
Walaupun sebenarnya target utama kami sekarang
Adalah Doni si mata-mata
perjuangan kami masih panjang
Untuk membongkar kebejatan Pak Dion cs
Aku memikirkan kejadian tadi siang entah kenapa
Andra samasekali tidak berani mencolek-colek Riska
Hemm tampaknya Andra menyembunyikan sesuatu!!
Kayanya Crayon Sinchan kalo dah gede kaya Andra dech…