Balada Viana 3: Forbidden Love
Siang hari itu terasa panas sekali, khususnya bagi orang-orang dari kota
besar seperti Pak Sumarga yang terbiasa dengan dinginnya AC ruangan,
namun meskipun panas terasa sangat menyengat kulit Pak Sumarga tampak
semangat sekali berjalan diiringi oleh dua orang pembantunya. Mereka
menuju mobil Kijang yang teronggok di tepi jalan.
“Jo, kamu yang nyetir ya, kita langsung pulang saja sekarang” dengan
wajah berseri Pak Sumarga memasuki mobil yang baru seminggu dibelinya
diikuti Udin yang merasa bangga bisa duduk bersama dengan sang majikan.
“Siap bos” kemudian nafas lega terdengar dari mulut Tarjo yang daritadi
merasa kepanasan dan akan segera merasakan sejuknya AC dalam mobil.
“wahhh, jasa-jasa kalian pasti saya balas, terutama kamu jo!”
“Terimakasih bos, kita sama-sama udah kecipratan rejeki koq bos” sahut Tarjo di belakang kemudi.
“ya, itu masih kurang, kalian juga akan saya nikahkan, semua biaya biar
saya yang tanggung, tinggal kalian pilih sendiri ceweknya mau yang
mana?” dengan wajah gembira, pria yang agak tambun itu menimpali
pembantunya.
“yah bos, kita belum niat nikah, lagian kalau dipaksa nikah juga belum ada yang mau bos”
Tarjo tampak tersenyum mendengar kalimat Udin yang bernada lugu.. “kita?? Elu kali din” pikirnya..
“kalau gitu, kalian pilih saja maunya apa? Pasti saya penuhi!” tegas Pak
Sumarga saking gembiranya melontarkan kalimat tanpa pikir panjang.
“bener nih bos?” tanya Udin setengah tak percaya.
“Ya iya Din, terutama kamu Jo, kan kamu yang pertama kenalin aku ke si Sumirah, jadi kamu juga tadinya mau aku biayain nikah”
“Nah Jo, kesempatan lu tuh nikahin anak Pak RT di kampung lu dulu,
katanya dulu lu demen sama tuh cewek” balas Udin sehingga membuat Tarjo
gelagapan, karena dia memang menyukai Tarmini, anak ketua RT di
kampungnya, namun ditolak bapaknya lantaran dia masih pelaku kriminal.
“eh… itukan dulu Din, sekarang si Tarmi mungkin udah nikah, diakan juga banyak yang naksir”
“Wah, kebetulan kalau gitu Jo, kamu cari tau dulu saja. Kalau masih single, nanti kita lamar sekalian”
“Iya deh bos, nanti saya selidiki dulu orangnya” sahut Tarjo
ogah-ogahan. Pikirannya sedang menimbang-nimbang antara mau atau tidak,
karena sebenarnya dia sedang mengincar Viana, anak bosnya ini, namun dia
juga tau diri menyadari statusnya.
Tarjo memang mengalami trauma sejak ditolak bapaknya Tarmini gara-gara
tindak premanisme dan kegiatan kriminal yang dilakukannya bersama
gerombolannya dulu, tapi masalah hati Tarjo sangat menyukai Tarmini.
Sekarang ini Tarjo mulai berubah sejak dia bekerja pada Pak Sumarga.
Perubahan itu semata-mata akibat kedua gadis anak majikannya itu yang
selalu membuat birahinya naik, juga akibat keisengannya melepas ilmu
gendam pada Viana yang tadinya untuk membuat gadis itu takluk seperti
perbuatannya pada banyak gadis desa, tapi malah membuatnya tambah
berminat pada gadis bermata sipit majikannya itu apalagi sejak melihat
tubuh polos Viana yang putih terang pada kejadian beberapa hari
sebelumnya. Tapi dalam hati kecilnya Tarjo tetap mencintai Tarmini,
hanya saja hubungan mereka tidak direstui oleh ayah Tarmini, sang ketua
RT. Jika dibandingkan secara fisik, memang keduanya bagaikan langit dan
bumi, tentu lebih memilih Viana, namun sikap Tarmini yang sangat baik
itu membuat Tarjo tidak bisa melupakannya begitu saja, cocok sekali bila
dijadikan istri, apalagi sekarang dia telah mempunyai pekerjaan tetap,
bukan lagi pengangguran yang selalu membuat ulah. Lagian terlalu
berharap pada Vianapun kemungkinan besar terlalu membuang-buang waktu,
seperti punguk merindukan bulan, jadi cukuplah baginya hanya mencicipi
tubuh mulus Viana saja tanpa harus bertanggung jawab pada hidup Viana,
itu sudah membuatnya sangat puas. Biar saja si Udin yang mengurus Viana,
itupun kalau dia berhasil mendapat persetujuan PakSumarga majikannya.
Sepanjang perjalanan pulang itu otak Tarjo yang licin berdenyut-denyut
menimbang-nimbang yang harus dia pilih, apakah menerima atau menolak
hadiah dari majikannya. Sementara Pak Sumarga sedang berbunga-bunga
hatinya karena tak lama lagi ia akan memiliki Sumirah sebagai istri
barunya. Udin disampingnya pun sedang sibuk memikirkan siasat bagaimana
menjerat Viana tanpa harus bertanggung jawab sekaligus menguasai
kekayaan majikannya. Memang selama ini Pak Sumarga sangat bergantung
pada mereka berdua dalam mencari pelacur-pelacur untuk kesenangannya,
bahkan terakhir Tarjo malah berhasil mendapatkan seorang gadis desa
baik-baik dan menjerat gadis itu untuknya hingga kemudian gadis itu
hamil dan tak lama lagi akanmenjadi istri barunya. Dengan begitu, Pak
Sumarga merasa harus memberi penghargaan khusus pada kedua pembantu atau
lebih tepat dikatakan kaki tangannya itu, selama inipun kedua
pembantunya selalu dimanjakan oleh banyak pelacur suruhannya, namun
begitu mendapatkan Sumirah yang masih perawan, Pak Sumarga pun rela
memberikan bonus khusus pada kedua pembantunya terutama Tarjo. Berburu
gadis-gadis desa yang lugu membuat kesan tersendiri bagi Pak Sumarga
yang terbiasa dengan gadis-gadis mewah kota Jakarta yang matre dan juga
untuk keadaan sekarang yang sedang bangkit dari kebangkrutan, berburu
gadis desa lebih pas dikantongnya. Secara kenikmatan, memang gadis
dimanapun sama saja kalau sudah diranjang, hanya sensasinya bagi Pak
Sumarga saat ini lebih memilih gadis manis berkulit mulus sawo matang di
desa daripada gadis cantik berkulit putih dikota.
Sejak hari itu gemparlah seisi rumah Viana karena niat Pak Sumarga yang
akan nikah dengan gadis 18 tahun seumuran dengannya. Tatik, istri Pak
Sumarga tentu saja merasa gerah mengetahui berita itu, niatnya seakan
mendapat saingan untuk menguasai harta Pak Sumarga terlebih sampai saat
ini dirinya belum juga hamil.
“Kalian harus secepatnya membereskan kedua anak itu, aku sudah tidak
sabar memiliki rumah dan usaha ini. Bandot tua itu makin membuatku tidak
betah, sekarang dia malah mau kawin lagi” katanya berbisik pada Udin
sewaktu mereka berpapasan dibagian belakang toko.
“hehe tenang Tik, sebentar lagi beres koq, katanya si Bos ga sengaja
bikin tu cewek hamil, kita juga gak maksud nambah saingan buat ente Tik,
semuanya diluar rencana semula, maksud awalnya sih cuma senang-senang,
ngambil hati si Bos” jawab Udin.
“Huuh, kalian para pria memang sama, gila perempuan. Pokoknya aku tidak
mau ada saingan di rumah ini, termasuk juga tuh cewek” ketus Tatik
sambil ngeloyor pergi kedepan.
Udinpun mengikuti Tatik dari belakang dengan langkah seenaknya. Udin dan
Tarjo selama ini memang telah menjadi kepercayaan Pak Sumarga, sebagai
tukang pukul, sebagai kuli dan juga sebagai penghubung pada gadis-gadis
desa yang lugu. Sebagai upah mengenalkan gadis-gadis desa, Udin dan
Tarjo ditraktir bermain pelacur sepuasnya, malah Pak Sumarga menawarkan
akan menikahkan Udin dan Tarjo dengan salah satu gadis desa, tapi Udin
menolak tawaran itu, karena baginya lebih baik bermain dengan pelacur
daripada menikah dengan gadis desa yang tidak dapat menjamin hidupnya
yang memang pemalas dan pelaku kriminal. Udin malah lebih mengincar
Viana atau Airin, karena lebih bisa menjamin masa depannya dan juga jauh
lebih menggairahkan secara sexual daripada gadis-gadis desa yang kusam,
hanya dia belum berani mengatakannya pada Pak Sumarga, masih menunggu
saat yang tepat. Tinggallah Tarjo yang masih berkutat dengan
pertimbangannya akan penawaran Pak Sumarga.
Dua hari kemudian Tarjo dipanggil kembali oleh Pak Sumarga sang boss di ruangannya.
“Gimana Jo, kamu sudah selidiki belum?” tanyanya.
“Sudah bos, ternyata masih lajang”
“Terus bagaimana, apa yang kamu pilih? Mau dinikahkan dengan Tarmini
atau pilih yang lain atau pilih hadiah lain?” tanyanya lagi.
“Terus terang bos, sebenarnya saya punya pilihan lain, tapi sepertinya tidak akan terlaksana”
“Lho, kenapa bisa begitu?”
“percuma bos, orang tuanya tak akan setuju kalau nikah dengan saya”
“Lho, koq kamu sok tau begitu, bukannya orang tuanya Tarmini juga tak setuju? Apa bedanya”
“Ini lain bos, ada alesan lain yang lebih penting daripada alesan karena masalah pekerjaan saya dulu”
“Hmmmm, ya sudahlah jadi sekarang mau kamu bagaimana?” Pak Sumarga masih
tidak menyadari maksud Tarjo yang membicarakan masalah Viana dan tentu
dirinya sebagai orangtua gadis itu.
“Saya pilih dinikahkan saja bos, lagian umur saya sudah hampir kepala empat, masa belum nikah juga”
“hahaha baguslah kalau begitu Jo, masalah kepala empatmu itu ya salahmu
sendiri kebanyakan kawin sama main cewek sampai lupa nikah.”
“hehehe iya bos, makanya mumpung ada yang bayarin, aku pilih nikah saja, kan enak”
“ya sudah, kamu nikah minggu depan saja, ajak cewek itu nikah,
diusahain secepat mungkin ya Jo, aku juga minggu depan kan nikah juga,
jadi waktu kerja tidak terbuang dan tetap efektif” sahut Pak Sumarga
masih saja naluri bisnisnya keluar disaat-saat begitu.
“Koq digabung sih bos, saya belakangan saja, gak apa koq, jodoh kan tak akan lari dikejar”
“OO ga bisa! Soalnya toko akan diliburkan 3 hari, jadi kita harus pakai
kesempatan itu buat nikah. Kalau nikahnya terpisah, pasti ditoko ini
cuma tinggal si Udin sama aku yang kerja, sementara kamu pasti ambil
cuti satu minggu, betul kan Jo?”
“hehehe si bos bisa aja, koq tau sih bos?”
“OO ya iya, tentu aku tau sifatmu, apalagi kalau lagi sama cewek”
Hari berikutnya bertambahlah kegemparan ditoko sembako itu karena Tarjo,
sang tangan kiri bos sembako juga akan menikah dengan anak ketua RT
dikampung sebelah dihari yang sama dengan pernikahan sang Bos.
“Bagaimana dengan kamu Din? Kamu mau hadiah atau mau dinikahkan juga?”
kata Pak Sumarga disela-sela kesibukannya pada Udin sang tangan kanan.
“Saya masih bingung boss, takut ditolak sama ortunya”
“Yah, kamu ini bagaimana, mau dinikahin juga susah, yasudah bilang saja
mau apapun pasti saya kasih, asal jangan minta uang banyak” kata Pak
Sumarga masih tetap serakah.
“Weh bener nih bos, minta apapun dikabulkan?” tanya Udin dan dijawab dengan anggukan Pak Sumarga.
“bagaimana kalau saya minta dinikahkan sama anaknya si bos sendiri, non Viana” jawab Udin datar.
Untuk sementara Pak Sumarga diam, wajahnya yang kekuningan menjadi merah
padam, betapapun ia akan menikahkan Udin, tapi tentu bukan dengan
anaknya sendiri.
“Kurang ajar kamu Din!! Dikasih hati malah minta jantung! Kamu mana
level dengan anakku, ngaca dulu dong, goblok!” makinya tak tertahankan.
“Lho, tadi katanya apapun yang saya minta pasti bos kabulkan, gimana sih bos, koq sekarang saya malah dimarah-marahi”
“Tapi bukan dengan Viana!!”
“Y asudah deh bagaimana kalau dengan Non Airin saja” kata Udin malah makin menjadi, dan membuat Pak Sumarga naik pitam.
“Sama saja guoblokkk!! Tidak bisa! Sudah, kamu kembali kerja! Jangan
pikir lagi masalah hadiah! Tidak akan ada hadiah buat kamu Udin, dan
sekali lagi kamu berpikir yang tidak-tidak terhadap Viana atau Airin,
kamu akan saya pecat! Ngerti kamu!!!” Udinpun ngeloyor pergi dari
hadapan Pak Sumarga sebelum bosnya itu bertambah marah.
Udin bersungut-sungut dalam hatinya “awas saja kamu bos, liat nanti malah anakmu yang kubuat memohon-mohon kawin dengan aku” .
Sebagai seorang pengusaha, Pak Sumarga selalu memegang teguh apa yang
telah diucapkannya. Setelah memarahi Udin diapun merasa menyesal telah
menjanjikan “apapun” pada Udin, dan bukan salah Udin kalau dia memilih
anaknya. Diapun tahu kalau anaknya telah menjadi incaran para pemuda di
desa itu, tapi dia baru sadar ternyata Udinpun menginginkan anaknya.
Semalam suntuk Pak Sumarga tidak dapat memejamkan matanya.
“Sudah malam koq belum tidur Pak, mikirin Sumirah terus ya?” tanya
Tatik menyindir suaminya, namun hanya dibalas senyuman dari Pak Sumarga.
Berikutnya Tatik malah tertdur lebih dahulu. Otak Pak Sumarga sibuk
memikirkan jalan keluar baginya agar tidak jadi bahan tertawaan para
pembantu di tokonya, sebagai seorang bos yang ingkar janji. Beberapa jam
kemudian sebersit ide terlintas dibenaknya, Pak Sumarga tersenyum
senang akan ide briliannya. Barulah dia bisa tertidur dengan pulas,
karena hatinya sudah merasa plong.
Pagi-pagi sekali kembali Pak Sumarga memanggil Udin ke kantornya di toko.
“Baiklah Din, semalaman saya sudah pikirkan masalah kamu kemarin.
Rasanya tidak adil kalau saya membedakan kamu karena masalah ras.
Baiklah, kamu saya izinkan mendekati Viana, tapi ingat selama Viana
setuju, saya tidak akan melarang hubungan kalian, tapi kalau anakku itu
tidak mau, kamu harus berhenti mengejarnya, jelas?!”
Bukan main senangnya Udin mendengar lampu hijau dari bosnya yang mengizinkan dia merayu putri sulungnya.
“Wah, bener nih bos, waduh terima kasih banyak bos, siapa tau saya jadi mantu si bos. Hehehe” sahut Udin senang.
Pak Sumarga hanya tersenyum, namun hatinya juga ikut tertawa “hahaha
anakku mana mau sama orang kayak elu Din, apalagi dia akan aku kenalkan
pada anak temanku di kota, Via tidak akan memilih kamu…hahaha dasar
orang udik bodoh, mana bisa memperistri anakku”. Pak Sumarga benar-benar
tidak tahu apa yang terjadi dalam rumahnya beberapa hari belakangan ini
yang menyangkut putrinya bersama dengan kedua pembantunya itu.
Gadis itu termenung sendiri di kamarnya. Kehidupan di rumah ini meskipun
terlihat sibuk, namun tetap saja gadis itu merasa kesepian. Berbeda
jauh dengan di Jakarta, selalu ada teman istimewa yang selalu siap
menemaninya bermain-main. Viana sangat membutuhkan kehadiran seorang
pria dalam hidupnya sekarang. Memang banyak pria-pria yang mendekatinya,
di sekolahnya pun sekarang banyak dikunjungi para alumni pria yang
tujuannya untuk berkenalan dengannya ataupun dengan Airin belum lagi
teman-teman SMA nya yang berebut perhatian darinya. Di luar sekolah ada
Supri tukang bakso tahu langganannya yang sering merayunya dengan bonus
siomay, atau Mas Burhan tukang becak yang selalu menawarkan becaknya
meskipun sudah tau ada yang menjemput pulang sekolah, belum lagi
pemuda-pemuda pengangguran tetangganya yang selalu nongkrong di depan
tokonya sambil bermain gitar yang selalu menggodanya di kala lewat
sendirian. Di dalam rumahpun ada Udin dan Tarjo yang selalu baik
padanya, yang juga sudah membuatnya terlena dengan kata-kata cabul dan
porno. Bahkan mereka sudah menembaknya beberapa hari yang lalu dan
lebih parah lagi mereka sudah melihat tubuhnya polos tanpa pakaian. Satu
hal yang disayangkan dan hal itulah yang membuat kehancuran dalam
hidupnya kelah, yaitu Viana telah memuaskan kedua pembantunya dengan sex
oral dan handjob. Udin dan Tarjo telah berhasil memasukkan pengaruh
percabulan dalam alam bawah sadar Viana. Di saat-saat seperti inilah
pengaruh cabul itu muncul dalam pikiran Viana. Saat dia membutuhkan
teman pria yang bisa menemani hari-harinya. Sebenarnya tak ada satupun
yang dia suka dari para pemuda yang mendekatinya, dia lebih mengharapkan
di desa itu ada pemuda chinesse yang mendekatinya karena tentu tak akan
mendapat halangan dari papanya, berbeda kalau para pemuda pribumi itu
yang mendekatinya, tentu dia yang akan kena marah papanya meskipun dari
dirinya sendiri tak terlalu mempermasalahkan tentang ras terutama sejak
kejadian dengan mantan pacarnya dulu. Namun berhubung di tempat itu
jarang sekali keluarga yang satu ras, (kalaupun ada tentu anak-anaknya
sekolah di kota besar) mulailah Viana menimbang-nimbang semua pemuda
yang mendekatinya, celakanya hanya Udin dan Tarjo yang sudah
menembaknya, sedangkan yang lainnya semua masih berusaha merebut
perhatiannya. Sekali lagi pengaruh gendam Udin dan Tarjo menunjukkan
keunggulannya. Tarjo menjadi pilihan utamanya sekarang, wajahnya tak
bisa dibilang tampan, malah jauh dari tampan, namun cuma Tarjo yang
masih lumayan dibanding yang lainnya. Telah beberapakali pula Viana
memandang tubuh telanjang para pembantunya itu, tak terasa nafsunya
perlahan-lahan bangkit membayangkan tubuh kekar kehitaman dengan penis
20cm yang tegak menantang di wajahnya. Namun lamunan itu sirna bahkan
berakhir dengan kekecewaan yang terbayang di wajahnya yang putih dan
tampak pada lingkaran kemerahan di sekitar matanya seperti menahan
tangis. Betapa tidak, setelah sekian lama dia menimbang tentang siapa
pria yang dipilihnya, sekarang pria yang telah dipilihnya malah akan
menikahi wanita lain, Viana merasa rugi telah memuaskan Tarjo, apalagi
telah membiarkannya memandangi tubuh telanjangnya sepuas hati.
Memang Jodoh itu Tuhan yang mengatur, kalau saja Tarjo tahu Viana
memilihnya, tentu dia tidak akan memilih menikahi Tarmini sebagai hadiah
dari Pak Sumarga, sebaliknya dia akan dengan senang hati memilih putri
sang bos yang demikian cantiknya. Sementara sebagai wanita yang hanya
bisa menunggu aksi dari pria, Viana pun hanya bisa menunggu aksi Tarjo
melanjutkan tembakannya tempo hari atau menagih jawabannya. Hasilnya
kekecewaan yang didapat Viana, dirinya merasa Tarjo telah mempermainkan
perasaannya. Tinggal Udinlah satu-satunya pria yang telah menembaknya,
terlintas juga pikiran untuk menerima sebagai kekasihnya, namun
terlintas juga pikiran buruknya, tentu Udin juga sama dengan Tarjo, yang
hanya ingin bermain-main dengannya. Viana sangat menyesal telah
mengobral tubuhnya untuk orgasme para pembantunya itu. Kini musnahlah
harapannya untuk mendapat pria idaman, namun kenangan akan kejantanan
tubuh seorang pria tidak dapat menghilang dari pikirannya yang telah
terinfeksi oleh gendam cabul Udin dan Tarjo. Dalam pikirannya selalu
terlintas tubuh hitam kekar seorang pria pribumi yang sedang
menyetubuhinya berulang-ulang. Tapi juga terlintas bayangan papanya
dengan wajah galak melarangnya dan akhirnya Viana tertidur kecapean
memikirkan itu semua.
Seminggu kemudian tibalah hari yang ditunggu, pernikahan Pak Sumarga dan
Tarjo dilaksanakan di dua tempat yang berbeda karena pengantin wanita
berasal dari dua kampung yang berbeda pula.
Akhirnya akad nikah pun dilaksanakan, dan resmilah Sumirah menjadi istri muda Pak Sumarga.
Hari itu tampak pesta pernikahan diadakan dikeluarga mempelai wanita
sesuai tradisi mereka. Viana dan Airin tampil seperti dua bidadari
chinesse yang amat berbeda dengan tamu-tamu yang lain. Mereka memakai
gaun putih berdada rendah yang hanya tersangkut oleh tali tipis berwarna
putih yang kebetulan seperti warna kulit mereka yang putih. Gaun itu
tentunya yang hanya cocok untuk pesta-pesta gedung mewah di kota besar,
namun apa daya, hanya gaun itu yang mereka punya dan merekapun sudah
terbiasa memakainya utuk pesta. Kali ini Viana dan Airin canggung sekali
di pesta itu yang mayoritas tamunya malah mengenakan batik kebaya,
sungguh di luar perkiraan mereka sebelumnya, tapi apa mau dikata, pesta
sudah mulai dan mereka harus bersikap anggun sebagai putri dari
pengantin pria. Udin tampak selalu berada didekat Viana, Udinpun baru
menyaksikan Viana mengenakan gaun seperti itu, baginya justru Viana
ataupun Airin yang seperti memakai baju pengantin. Mata Udin tak lepas
dari belahan dada Viana yang begitu putih menggairahkan, pas sekali
dengan usianya yang sudah 18 tahun, yang bagi orang didesa itu sudah
layak untuk dinikmati. Pemandangan di pagi hari itu agak berbeda dengan
pemandangan waktu malam dimana tubuh Viana polos di depannya. Sinar
terang dari matahari begitu mengekspose terangnya kulit putih Viana dan
Airin. Ingin rasanya Udin mengelus kulit yang terlihat sangat lembut
itu, meskipun kemarin-kemarin dia bahkan sudah merayapi seluruh
permukaan kulit Viana, namun kali ini tetap terlihat sekali
perbedaannya. Seperti kebiasaan orang-orang desa yang masih mengutamakan
kekeluargaan, hampir seluruh penduduk desa diundang ke acara pernikahan
itu, tentunya diantara para undangan terdapat pula teman-teman sekolah
Viana, mas Burhan, mas Supri, dan para pemuda lainnya yang berlomba
mendekati Viana. Sepasang pengantin yang berada di pelaminan justru
tidak terlalu menjadi perhatian para tamu yang hadir, justru Viana dan
Airinlah yang menjadi pusat perhatian mereka, tapi meskipun begitu
upacara pernikahan tetap berjalan seperti seharusnya. Sapaan demi sapaan
terus berdatangan pada Viana dan Airin, mulai dari yang sopan sampai
yang kurang ajar, semua itu tidak mereka tanggapi. Untuk mengalihkan
perhatian para tamu, terutama para pemudanya yang mulai bermata nakal,
Viana sengaja berdekat-dekatan dengan Udin seakan mencari perlindungan
dari pembantunya itu. Tentu saja Udin yang sudah mendapat angin dari Pak
Sumarga merasa di atas angin, dan dengan bangganya juga berani
menggandeng pundak telanjang Viana di hadapan para tamu. Viana tentu
merasa risih dengan ulah Udin, segera saja dia menepis tangan Udin,
namun tetap tidak mau terpisah dengan pembantunya itu.
Untuk beberapa waktu Viana aman dengan adanya Udin disampingnya,
tinggallah Airin yang kelimpungan ditinggal sendiri oleh cicinya. Waktu
makan pun dikerumuni para pemuda dan digoda habis-habisan, untunglah
Tatik mendekatinya sehingga para pemuda itu otomatis bubar. Pesta
berlangsung meriah sampai sore hari, setelah semua tamu bubar tinggallah
keluarga kedua mempelai termasuk Viana , Airin dan juga Udin.
“Wah-wah wah, ternyata kamu punya anak gadis yang cantik sekali ya…”
kata Pak Hasan, orang tua Sumirah ketika melihat Viana dan Airin.
“eh, hmm iya pak, mereka anak-anakku dari istriku yang pertama”
“hmmm gitu toh, boleh juga tuh anakmu, sepertinya sudah waktunya
dinikahkan juga tuh” kata Pak Hasan demi melihat Viana yang selalu
bersama Udin, dikiranya Udin adalah pacar Viana.
“hehehe masih lama pak, kedua anakku belum punya calon koq” kata Pak
Sumarga, matanya mendelik ke arah Udin agar sedikit menjauh dari Viana.
Tapi Udin malah bergeser duduknya mendekati Viana.
“Wah, kebetulan kalau gitu, keponakan bapak juga sudah cukup waktunya
buat nikah, bagaimana kalau kita jodohkan saja anakmu dengan ponakan
bapak, Bagaimana?”
Giliran Viana yang merah padam wajahnya, tapi tidak dapat berkata apa-apa.
“ooo, kalau saya sih terserah anaknya, tapi anak saya ini masih sekolah,
bagaimana kalau tunggu sampai sekolahnya selesai baru kita bicarakan
lagi” kata Pak Sumarga menolak secara halus.
“ooo iya juga, masih sekolah ternyata, iya nanti malah mengganggu
sekolahnya, kasian juga ya, apalagi kalau sudah hamil, repot juga tuh,
iya setuju, nanti saja dah” tukas Pak Hasan.
Bergidik juga Viana mendengar kata hamil, sementara Airin
tersenyum-senyum menggoda cicinya yang juga tengah melotot ke arahnya.
Dua jam lamanya mereka mengobrol dengan hangatnya sebelum Tatik pamit
untuk pulang karena tidak mau mengganggu malam pertama suaminya.Viana,
Airin dan Udinpun ikut pulang karena dirumah Sumirah tidak ada tempat
untuk menampung mereka semua. Apalagi mereka juga harus menghadiri
resepsi pernikahan Tarjo di desa tetangga. Meskipun merestui pernikahan
suaminya, Tatik tetap tidak mengizinkan Sumirah tinggal bersama mereka,
sehingga Sumirah tetap tinggal bersama kedua orangtuanya, namun secara
bergilir Pak Sumarga mengunjunginya. Usia Sumirah hanya berbeda tiga
tahun dengan Viana, alias 21tahun, namun tubuhnya begitu sintal dengan
kulit kecoklatan. Sebenarnya Sumirah sudah memiliki kekasih, tapi karena
kekasihnya seorang pemuda pengangguran tanpa masa depan sehingga bujuk
rayu Pak Sumarga dengan iming-iming sejumlah uang membuat Sumirah
menyerahkan tubuhnya pada Pak Sumarga sampai akhirnya Sumirah hamil,
maka terpaksalah Pak Sumarga menikahinya. Jadi begitulah sekarang Pak
Sumarga harus membagi jatah waktu di rumahnya dan di rumah istri barunya
secara adil. Keadaan itu membuat Viana menjadi semakin dalam
terperangkap dalam jerat Udin dan Tarjo.
Viana sebenarnya enggan menghadiri pernikahan Tarjo di desa sebelah
karena beberapa alasan, pertama Via malas bertemu dengan pria yang sudah
dianggap mempermainkan perasaannya, kedua Viana merasa risih
diperhatikan para tamu undangan seperti tadi siang, apalagi karena
bajunya yang terlalu mewah , ketiga Viana tidak mau menghadiri
pernikahan Tarjo hanya dengan adiknya, sementara papanya malah tengah
bersenang-senang dengan istri mudanya. Ketiga alasan itu tampak percuma
saja karena Tatik dan Udin yang menjadi sopir mobilnya malah berkeras
akan ke pernikahan Tarjo. Jadi mau tidak mau, Viana dan Airin harus ikut
bersama ibu tiri dan Udin. Airin tertidur dalam perjalanan itu,
Vianapun tampak enggan berbicara sehingga dia menutup matanya berharap
dapat tertidur seperti Airin, dan juga karena malas melihat Tatik yang
duduk di depan disamping Udin. Tatik mengira kedua anak tirinya telah
tertidur, merasa bebas berbicara dengan Udin, Namun Udin sebagai sopir
selalu memperhatikan Viana dari balik kaca spion, dan tahu juga dari
gerakgerik Viana bahwa gadis ini belum tidur.
“Sekarang, setelah bapaknya tidak di rumah, apa rencanamu Din?” tanya
Tatik sambil kepalanya menoleh ke belakang memastikan Viana benar-benar
tertidur.
Udin agak gelagapan juga ditanya begitu, namun otaknya yang culas seakan menemukan jalan terbentang di hadapannya.
“Apa maksudmu mbak?”
“ya apalagi kalau bukan kedua anak tiriku ini, apa kamu sudah berhasil dengan rencanamu itu?”
“Walah, koq kamu tau sih mbak? Pasti si bos yang bilang ya…..? Aku sih
sejujurnya berminat sama non Via itu, kalau saja dia mau jadi istriku
mbak, pasti bahagia sekali rasanya, tapi apa daya, aku cuma sebagai
pembantu, mana mau non Via nikah sama aku, si Tarjo saja nyerah mbak,
sampai dia mau nikah sama cewek lain” kata Udin panjang lebar sambil
agak mengeraskan suaranya.
Tatik agak berkerut mendengar jawaban yang tidak seharusnya, tapi wanita
ini cukup cerdik waktu melihat kedipan mata Udin. Tatik melirik pada
Viana yang masih menutup matanya, lalu dia tersenyum kecil, mulai
mengerti permainan Udin.
“Oo iya yah Din, mana mau anakku ini sama kamu hihii… Aku juga Ibu
tirinya tirinya merasa aneh, koq suamiku itu malah ngizinin kamu merayu
anaknya ini, padahal kalau aku pribadi gak bakal ngizinin anakku pacaran
sama orang macem kamu Din” Kata Tatik dengan cerdiknya merangkai kata
agar terdengar Viana.
“Yah itulah mbak, nasibnya jadi orang kecil, cewek jarang ada yang mau,
padahal bapaknya malah sudah merestui lho kalau aku pacaran dengan
anaknya”
“Lho, kapan bapak bilang sama kamu Din?”
“Itu lho mbak, waktu bos memberi Tarjo hadiah, dia juga menawarkan akan
nikahkan aku sama gadis desa ini, tapi aku tetep gak mau mbak, karena
aku cinta mati sama non Viana”
“Wah, beruntung kamu Din kalau bisa dapetin Viana”
“Jangan keras-keras mbak, nanti kalau Non Via bangun, malah jadi marah
sama aku, bisa gawat nanti. Gak apalah kalau non Via gak mau sama aku,
aku akan bawa cinta ini sampai mati, tapi mbak harus bisa jaga rahasiaku
ini lho mbak, jangan sampai non Via tau, bisa malu aku…” kata Udin
dengan suara mengecil dengan cerdiknya supaya tidak terdengan berlebihan
di telinga Viana.
Viana dari awal mendengar percakapan itu sungguh merasa seperti terbang
di langit, betapa Udin yang memujanya seperti itu, dan juga Tatik
ternyata bukan ibu tiri yang selama ini dia bayangkan. Viana merasa
sangat tersanjung mendengar cerita mereka, namun andai saja dia berani
membuka matanya, akan tampak Udin dan Tatik saling mengedipkan mata.
Hilanglah sudah keraguan di hati Viana akan kata-kata Udin yang pernah
menembaknya beberapa hari lalu. Ternyata Udin berbeda dengan Tarjo,
Viana merasa Udin benar-benar tulus mencintainya, lebih plong lagi
mendengar bahwa papanya sendiri sudah mengizinkan Udin jadi kekasihnya,
itulah surprise terbesar dalam hidupnya meskipun papanya tidak secara
langsung bicara padanya, Viana merasa Udin tak mungkin bohong karena
mengira dia tidur dan tak mendengar semua pembicaraan mereka. Tatik
tersenyum melihat telinga Viana menjadi merah, dia mengacungkan
jempolnya pada Udin. Udin pun tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi
anak bosnya di kaca spion. Satu jam kemudian sampailah mereka di tempat
resepsi Tarjo, pesta itu tidak semewah pernikahan Pak Sumarga, tapi
berlangsung penuh kekeluargaan, tidak seperti pernikahan Pak Sumarga
yang mewah tapi miskin suasana kekeluargaan, mungkin karena perbedaan
budaya yang menyebabkan keengganan kedua belah pihak untuk saling
berinteraksi. Bagi Viana tetap saja pesta itu memojokkan dirinya dan
Airin, bahkan disini lebih parah lagi kejadiannya, karena ada seorang
pemuda kampung telah berani mencolek dada Airin hingga membuat adiknya
menangis, hingga terpaksa Tatik mengajak Udin untuk langsung pulang
setelah bersalaman dengan Tarjo.
“Selamat ya mang” begitu sepatah kata dari Viana begitu menyalami Tarjo
“Iya, terima kasih non mau datang kesini. Eh, jangan panggil mang lagi
ah, aku kan belum 40 tahun, panggil mas aja ya non, kan baru nikah nih”
Viana mengangguk tersenyum kecil menahan kekecewaan hatinya “Iya deh mas, selamat ya”
“Nah lho, berarti ke aku juga jangan panggil mang, mas aja ya biar lebih
akrab gitu” celetuk Udin yang menunggu antri salaman di belakang Viana.
Viana mendelik “Ihhh maunya…yeee” sambil tertawa kecil, sambil
menggandeng adiknya yang salaman terlebih dulu dengan mata sembab akibat
insiden colekan tadi.
“Cici di depan ah..” kata Airin karena melihat di depannya ada pemuda yang tadi mencoleknya bersama dengan para pemuda lainnya.
Viana pun agak ngeri melihatnya, jadi dia sengaja menunggu Udin
bersalaman dengan Tarjo di belakangnya. Udin seakan tau masalah nona
majikannya, dengan beraninya menggandeng bahu Viana seakan mereka sedang
pacaran, padahal dipesta sebelumnya Viana sudah menolak tangan itu.
Tapi kali ini Viana membiarkan tangan kekar Udin memegang bahunya, entah
karena ketakutan melihat kumpulan pemuda kurang ajar tadi atau memang
sengaja membiarkan Udin berbuat demikian. Airin pun memandang aneh pada
cicinya yang mau saja dipeluk oleh pembantunya seperti itu, tapi dia
tidak berpikir panjang, keinginannya adalah untuk secepatnya pergi dari
situ. Terdengar suitan waktu mereka melewati kumpulan pemuda tadi, tapi
mereka tidak lagi berani mengganggu Airin, entah kenapa. Mereka berempat
kembali dalam perjalanan pulang, kali ini benar-benar pulang ke rumah
Viana. Kali ini pula Viana dan Airin benar-benar tertidur dalam keadaan
lelah. Udin mengedipkan mata dan Tatik tersenyum penuh arti. Rupanya
Tatik telah mengetahui keadaan yang terjadi pada anak tirinya, segera
saja dia melapor perkembangan keadaan Pak Sumarga pada Kosim kakaknya
yang masih di Jakarta. Dari Kosimlah Tatik mendapat kabar bahwa memang
rencana Kosim untuk mengorbankan kedua putri Pak Sumarga pada Udin dan
Tarjo sehingga Tatik tidak mendapat saingan dalam mengambil sisa-sisa
kekayaan Pak Sumarga. Sayang sekali Tarjo malah memilih menikah dengan
gadis lain. Dalam keluarga Chinesse, seorang anak gadis harus ikut
suaminya dan memang tidak berhak mendapat warisan kecuali kalau memang
diberikan oleh orangtuanya secara sukarela atau karena tidak ada anak
lain yang lebih berhak. Keadaan inilah rupanya yang akan dimanfaatkan
Kosim untuk membalas perlakuan Pak Sumarga padanya dahulu. Tentu saja
Tatik sangat mendukung rencana kakaknya itu, maka dia sengaja membiarkan
Viana dalam kekuasaan teman-teman kakaknya.
Jam 8 malam ketika mereka berempat sampai di rumah yang lebih tepat
dibilang toko. Kantuk Viana segera saja hilang, digantikan oleh rasa
tidak nyaman akibat keringat yang keluar sepanjang hari tadi, ditambah
lagi dalam mobil tadi penuh dengan aroma bau badan Tatik dan Udin,
untunglah mobil mereka ber AC sehingga bau itu menjadi agak tawar.
Mereka semua masuk dalam kamarnya masing-masing. Segera saja Viana dan
Airin mandi membersihkan sisa kotoran dan make up yang menempel pada
tubuhnya. Kedua kamar kakak beradik itu letaknya berhadapan dipisahkan
oleh ruang keluarga berukuran 5x4 m. Sebagai gadis belia, keduanya
mempunyai privasi sendiri-sendiri sehingga keduanya sepakat untuk tidak
memasuki kamar tanpa seizin yang punya kamar, disamping itu pintu kamar
mereka terbuat dari kayu jati yang terkenal kuat dan tebal membuat kedua
gadis itu merasa nyaman dalam kamar masing-masing. Viana masih
mengenakan baju daleman dari gaun yang dipakainya tadi. Ia merasa enggan
mengganti baju daleman yang terbuat dari kain sutra pilihan itu. Yang
penting gaun luarnya sudah dilepas barulah ia merasa nyaman dari rasa
panas. Baju dalem berwarna putih bening itu memang pas sekali kalau
untuk tidur, hamper mirip daster, namun lebih ketat dan lebih mewah
tentunya. Kulitnya yang putih menjadi agak kekuningan diterpa cahaya
lampu neon dikamarnya. Saat itu ia masih bersantai sambil merebahkan
badan di kasurnya. Ia ingin keluar dari kamar itu tapi malu juga kalau
membiarkan dirinya dicolakcolek Udin, rasanya gengsi juga. Tubuh Viana
terkapar diatas ranjang angin semilir dari jendela yang sedikit terbuka
menelusuri kedua kaki Viana sampai ke selangkangannya, terasa sejuklah
seluruh tubuhnya. Setelah mandi air hangat, hilanglah rasa lelahnya
akibat kegiatan hari itu yang lumayan padat. Rasa nyaman yang dirasakan
tubuhnya kembali membuat Viana merasa sendiri, apalagi papanya tidak
dirumah, sedangkan Airin tentu sudah tertidur dikamarnya tanpa mau
diganggu. Disaat-saat seperti itulah pengaruh gendam cabul dari Udin dan
Tarjo bekerja. Pikiran Viana membayangkan Tarjo, pria yang dianggap
telah mempermainkan perasaannya itu tentu sedang bersenang-senang
menikmati malam pengantinnya, ada rasa panas dalam dadanya akibat
cemburu. Cemburu? Pikirnya, sedetik kemudian pikiran itu hilang kembali
mengingat Tarjo adalah jongos papanya, tentu dia tidak pantas untuk
merasa cemburu. Hanya tinggal Udin yang tertinggal dalam benaknya.
Terngiang kembali kata-kata Udin dalam mobil tadi siang sewaktu dirinya
pura-pura tidur.Tiba-tiba terdengar bunyi SMS masuk dari HP Viana,
dengan malas Viana membaca isi sms itu, ternyata dari Udin. Ada rasa
bangga dalam hatinya, ternyata Udin benar-benar mencintainya, tidak
seperti yang dia kira sebelumnya. Sebelumnya dia mengira Udin seperti
pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya, Viana menyesali
kekeliruannya selama ini. Pandangan cabul yang selama ini selalu
terpancar dari mata Udin kini mulai dirasakan Viana sebagai pernyataan
cinta. Kata-kata cabul yang pernah dikeluarkan pembantunya itu pun
terngiang-ngiang kembali dalam sanubarinya dan dirasakannya sebagai
kata-kata cinta yang begitu menginginkannya.
Viana seperti juga gadis normal seumurnya tentu menginginkan cinta dalam
hidupnya, setelah dia mengalami kegagalan waktu pacaran di Jakarta
dulu. Viana tidak lagi peduli meskipun di desa itu hanya ada para pemuda
kampung yang dulu selalu dijauhinya karena merasa tidak level bergul
dengan mereka, tapi kenyataan sekarang dia tidak punya pilihan lain
karena sejauh mata memandang yang ada hanya pemuda-pemuda kampung. Sudah
hampir setahun Viana tinggal di desa itu, dan lama kelamaan dirinya
mulai tertarik dengan fisik para pemuda kampung yang rata-rata hitam,
kekar dan berotot, namun ketertarikannya itu dibatasi oleh sikap papanya
yang selalu menentangnya jika ketahuan berhubungan dengan mereka.
Karena itulah Viana rela berhubungan dengan Udin dan Tarjo, sampai rela
pula telanjang bulat di depan mereka dan membuat kedua pembantunya
mengalami klimaks meskipun hanya dengan tangan dan lidahnya. Viana
samasekali tidak menyadari semua itu karena ulah kedua pembantunya juga
yang selalu menanamkan gendam cabul dalam pikirannya sejak awal mereka
bekerja, malah gadis sipit itu menjadi terobsesi pada penis kedua
pembantunya yang memang jantan dan perkasa itu. Udin dan Tarjo pada
awalnya memang hanya ingin mempermainkan putri bosnya karena permintaan
dendam dari Kosim, yang terhitung teman atau kakak seperguruan mereka,
namun melihat kemajuan usaha Pak Sumarga, mereka semakin berniat buruk,
selain menghancurkan nama baik Viana sekaligus menaklukkannya juga ingin
merampas usaha keluarga mereka. Viana tidak dapat membayangkan tubuh
pria lain selain Udin dan Tarjo yang memang pernah dilihatnya telanjang,
jadi ketika pikiran cabul itu datang, tentu tubuh kekar kehitaman milik
Udin yang menghantui otaknya. Dia berusaha membuang bayangan Tarjo,
karena tidak ingin membayangkan pria yang sudah menikah. Begitu juga
malam itu Viana begitu resah membayangkan keperkasaan Udin ketika
membuatnya orgasme untuk pertama kalinya meskipun tanpa adanya hubungan
badan diantara mereka. Viana merasa celana dalamnya menjadi lembab
hingga terasa agak basah. Pikiran Viana sibuk membayangkan bagaimana dia
akan menjawab tembakan Udin beberapa hari yang lalu, dia merasa gengsi
juga, namun senang karena menurut Udin, papanya telah menyetujui kalau
Udin mendekatinya, ini berarti lampu hijau juga untuknya. Viana saat itu
masih belum mengerti tujuan Pak Sumarga mengizinkan pembantunya
mendekati putrinya sendiri, tapi Viana tidak mau berpikir terlalu jauh,
yang penting sekarang Viana merasa bebas menentukan pilihan hatinya. Dan
rasanya Viana sekarang telah memilih Udin sang jongos untuk menjadi
kekasihnya, tapi dia masih bingung bagaimana cara menyampaikan pada Udin
karena dia merasa gengsi juga apalagi kalau teman-temannya di Jakarta
mengetahuinya, tentu dia akan malu sekali.
“Hmmm duhh koq keluar lagi sih ni cairan” gumam Viana.
Gadis berkulit terang itu sengaja membuka celana dalamnya sambil tetap
posisi di ranjang, lalu melempar celana dalam itu ke sudut ruangan,
angin sepoi-sepoipun kembali menghantam pahanya, kali ini menyapu
vaginanya yang sengaja dengan maksud supaya kering. Tubuh belianya
ternyata memang membutuhkan sentuhan pria, cairan yang keluar itu
menjadi saksi seolah menyatakan bahwa tubuh mulus itu ingin segera
disetubuhi. Bayangan akan tatapan cabul pada setiap lekuk tubuhnya
justru membuat cairan vagina Viana tambah banyak. Sama halnya dengan
Udin yang kini sedang berada di dalam gudang tempat kamarnya berada.
Setelah mandi dia merasa gairahnya kembali meletup-letup, betapa
seharian ini dia bersama dengan Viana yang terbalut gaun yang serba
terbuka, memperlihatkan kulit tubuhnya yang bagi Udin sangat mewah itu.
Sejak di resepsi Pak Sumarga, mata liar Udin selalu berusaha
menelanjangi tubuh mulus Viana dan Airin, meskipun dia sudah melihat
tubuh polos Viana, namun tetap saja keinginan melihat lagi tubuh itu
datang tiap saat. Udin begitu bernafsu terhadap putri bosnya itu,
terutama setelah mendengar Pak Sumarga memberi lampu hijau untuknya.
Udin yang cukup cerdik memang agak curiga dengan “lampu hijau” nya Pak
Sumarga, maka dari itu sebelum semuanya berubah, dia harus cepat
mengambil tindakan untuk segera menaklukkan Viana dengan atau tanpa
paksaan. Tubuh putih mulus putri bosnya itu terbayang terus di pelupuk
matanya yang cabul dan membuat penisnya berkedut kencang dan membesar.
Timbul niat Udin untuk meminta Viana datang lagi kegudang. Udin mulai
aksinya dengan mengirim SMS yang isinya mengajak lagi Viana ke kamarnya.
Tak lama kemudian Viana membalasnya.
“Gak mau ah, mang, Via mau istirahat, kalau mau juga Mang Udin kesini pijitin Via”
Bukan main senangnya Udin membaca SMS dari nona majikannya itu.
“Lho, koq non masih bilang mang? Tadi siang kan non setuju panggil mas biar mesra gitu”
Di dalam kamarnya tampak Viana tersipu membaca sms balasan Udin itu,
rasanya janggal sekali melakukan panggilan yang tidak pernah dia ucapkan
sebelumnya. Tapi keadaannya saat itu yang sedang dilanda gairah birahi,
tentu saja semua sms dari Udin ditanggapinya dengan hati yang berdesir.
“udah deh, kesini aja pijit Via sekarang ya, tapi masuknya lewat jendela
aja biar gak ada yang tau” Viana merasa risih sekali kalau ada yang
melihat Udin masuk ke kamarnya, jadi melihat jendela kamarnya yang
sengaja dibuka, ia segera mendapat ide cemerlang.
Kamar Viana terletak di lantai dua dan kebetulan tepat di atas gudang
tempat kamar Udin. Jendela kamar Viana sebetulnya menghadap tembok rumah
tetangga hanya dibatasi oleh celah ruang kosong sepanjang 1 meter yang
gunanya untuk menerangi gudang agar tidak berbau dan tidak lembab. Udin
pun dengan cekatan memanjat dinding dari arah gudang, berbekal
kemampuannya sebagai bekas pencuri kampung akhirnya Udin berhasil
mencapai jendela kamar Viana yang setengah terbuka, namun cukup untuknya
dapat masuk ke kamar anak gadis bosnya itu. Menyadari Udin akan datang
ke kamarnya, Viana segera memakai kembali celana dalamnya, dia tidak mau
Udin mengetahui keadaannya barusan yang asyik berfantasi dengan
pembantunya itu, tapi dia masih mengenakan baju sutra halus yang
merupakan baju dalam dari gaun yang dipakainya tadi siang. Melihat Udin
telah masuk kamar melalui jendela, jantung Viana berdebar kencang, baru
kali ini dia berani memasukkan seorang laki-laki dalam kamarnya. Segera
Viana berdiri di samping meja belajarnya. Udin menyeringai mesum pada
Viana. Vianapun balas tersenyum pada Udin.
“mang, tolong pijit punggung Via ya, seharian ini pegal baget” kata
Viana. Udin sebenarnya mengerti Viana hanya pura-pura minta dipijat,
tapi diapun menuruti keinginan Viana.
“boleh non, tapi kan syaratnya kudu ganti panggilan tadi, ayo panggil
mas, jangan malu-malu gitu ah” kata Udin sambil mencolek pantat Viana
yang berjalan di depannya.
Viana otomatis berbalik, tapi wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, malah tersenyum manja.
“ehh maunya tuh! .. pijat dulu, baru dipanggil mas.. hehehe” Viana langsung telungkup di atas ranjangnya.
Tanpa diperintah dua kali Udin langsung naik ke ranjang Viana yang
berseprai putih, tangannya mulai bekerja meraba pundak halus Viana, lalu
pelan-pelan memijatnya sampai ke punggung. Matanya menatap liar
menelusuri sekujur tubuh Viana yang hanya dibatasi oleh selapis pakaian
dalam sutra mahal yang dikaitkan kelehernya oleh seutas tali tipis.
“hehehe non Via kangen ya sama dipijat sama mas” seringai Udin sambil
tak hentinya menahan liur melihat keindahan tubuh Viana. Tapi Viana tak
menjawabnya. Lima menit kemudian Viana tiba-tiba membalikkan tubuhnya
menjadi posisi telentang, wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah
Udin yang agak kaget karena tadi sedang asyik-asyiknya menikmati
kehalusan kulit pundak Viana yang terbuka.
“Papa pernah bilang apa tentang Via?” tanya Viana, matanya menatap Udin.
Udin cepat mengerti, pertanyaan itu tentu karena pembicaraannya dengan Tatik tadi siang yang sengaja supaya didengar Viana.
“Sebenernya papa non minta supaya mas ngawinin Via” jawab Udin
“Terus mas jawab apa sama papa? Kenapa papa bisa sampai bilang gitu?”
“Ya, mungkin papa non sudah kepingin punya cucu, lagian non Via kan sudah bisa dikawini” jawab Udin seenaknya.
“Terus mas jawab apa?” tanya Viana makin tak sabar
“aku sih mau non, justru mas udah ngebet sama non Via dari dulu, Cuma tinggal non Via nya aja, mau ga kawin sama mas?”
Kalau saja posisi Viana tidak sedang telentang, tentu dia sudah membuang
mukanya karena malu ditanya seperti itu oleh pembantunya sendiri, tapi
posisinya mengharuskan Viana memperlihatkan ekspresi wajahnya yang
merah, bukan karena marah, tapi malu dan hatinya berdebar kencang. Udin
maklum reaksi seorang gadis seperti itu artinya setuju. Perlahan Udin
mendekatkan wajah mesumnya ke wajah Viana yang putih oriental, lalu
bibirnya mulai menciumi bibir Viana dengan lembutnya tanpa perlawanan
dari Viana, malah Vianapun membalas ciuman itu dengan mesranya.
“Gimana non? Mau kan dikawin sama mas?” bisik Udin ditelinga Viana sambil terus menciumi leher gadis itu.
“ehhh hmmmmmm, memangnya mas mau kapan?”
“non maunya kapan?” Udin balas bertanya.
“ehhmm, abis Via lulus aja, gak lama lagi, gimana?” jawab Via
“mungkin maksud Via nikah ya, wah kalau mas diajak nikah sih kapan juga
mau, maksudnya kawin tadi tuh ngentot, ngerti ga kamu Via?” jawab Udin
sambil menyeringai mesum di depan wajah Viana.
“Idiih mas, Via kirain resepsi, tapi mas benerkan mau nikahin Via?”
“ya pasti mauu dong Via, kalau sudah nikah kan kita bisa ngewe tiap
hari, gak usah sembunyi-sembunyi kayak sekarang, tapi gak apa-apa gitu
Via nikah sama mas, kita kan beda keturunan, terus mas ini kan hitam,
jelek, gak kayak Via, udah cantik, putih, muluss lagi”
“Ya gak apa-apa mas, yang penting masnya serius dan papa juga setuju,
Via mah suka-suka aja dikawinin…eh di nikahin sama mas Udin” jawab Viana
polos tersipu.
Udin yang tadinya hanya mau “kawin” merasa senang bukan main bakal
mendapatkan istri anak bosnya sendiri yang tentu saja hidupnya akan
sangat terjamin tanpa dia harus bekerja keras.
“kawinnya sekarang aja yu non” ajak Udin
“Koq mas masih panggil non sih? Panggil Via aja” jawab Viana sambil
membiarkan saja tangan Udin merengkuhnya sampai posisinya menjadi duduk.
Matanya memperhatikan Udin yang sedang membuka baju dan celananya hingga
tersisa hanya celana dalam, Tubuh hitam Udin terlihat kekar dan tampak
jantan sekali bagi Viana. Dirinya duduk di tengah-tengah ranjang
memperhatikan tubuh pembantunya yang sedang mendekatinya. Jari-jari
tangan Udin yang kasar membelai rambut Viana dari belakang. Udin mulai
menciumi kulit leher Viana sampai ke daerah kuping. Tentu saja Viana
merasa geli, tapi dia menahannya bahkan birahinya malah naik. Setelah
puas menciumi wajah dan leher Viana, Udin mulai menurunkan tali
penyangga dari bahu Viana hingga melorot sampai ke pinggang, dan
tampaklah kulit mulai dari bahu, dada dan perut yang sangat putih. Udin
semakin bernafsu melihatnya, Lidahnya menjilati kulit tubuh Viana itu
dan menciuminya sementara tangannya melepas bra gadis itu hingga
terlihatlah payudara Viana yang juga sangat putih dengan putting mencuat
kemerahan. Memang ukuran payudara Viana tak terlalu besar, namun sangat
proporsional dengan bentuk tubuhnya. Viana yang memang sedang dilanda
birahi, membiarkan saja ketika mulut Udin dengan bibir tebalnya
mencaplok payudaranya dengan buas. Lidah Udin bermain-main di putting
Viana dengan gerakan memutar-mutar, sesekali menyedotnya. Viana makin
hilang kendali diperlakukan seperti itu, tangannya memeluk punggung
Udin. Puas mempermainkan tubuh bagian atas Viana, Udin melanjutkan
pekerjaannya yang tertunda yaitu melepas baju dalam Viana yang cuma
selapis itu, sekalian dengan celana dalam Viana. Kini poloslah tubuh
Viana tanpa sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya dihadapan
Udin. Udin ternganga melihat tubuh gadis di hadapannya, sungguh putih
sekali, berbeda dengan yang dilihatnya sewaktu mereka didalam gudang
yang hanya fiterangi oleh cahaya lampu kuning. Sekarang dalam kamar
Viana yang diterangi lampu neon tampaklah tubuh Viana begitu indah,
putih mulus menggairahkan siapapun pria yang melihatnya. Dilihat seperti
itu Viana merasa bangga sekali dengan tubuhnya, ia merasa bangga bisa
memuaskan “calon suami” di hadapannya itu.
“kenapa melihat seperti itu mas?”
“Via, kamu cantik sekali kalau polos seperti ini, badan kamu putih sekali Via, mas belum pernah liat badan gadis seperti ini”
“Mas suka?”
“Suka sekali non, eh Via. Ayo, sekarang kamu baring dulu aja, kakinya agak dibuka ya, mas mau periksa memek kamu.”
Viana yang diam-diam menyukai pemuda pribumi seperti Udin, tak menolak kata-kata Udin tadi, langsung saja melakukannya.
Vagina Viana terlihat kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya
yang tertata rapi dan masih dalam keadaan tertutup. Tangan Udin membuka
vagina Via perlahan-lahan, terlihat genangan cairan di sekitar kulit
penutupnya.
“Wah, koq sudah basah begini ? Via sudah kepingin ya..”goda Udin sambil menjilati lender yang membasahi vagina Via.
“Aduhh mas, enakkk…” rintih Viana.
“Tuh kan non, enak.., kakinya buka lebih lebar lagi ya”
Tangan kasar Udin membuka kedua kaki Viana lebih lebar, lidahnya terus
menjilati permukaan Vagina Via, sesekali lidah itu masuk ke dalamnya
tapi belum bisa terlalu dalam.
10 menit Udin mengerjai vagina Viana membuat gadis itu orgasme kala
lidah Udin menyapu bagisn dalam vaginanya, Via tak kuat lagi menahan
gelora birahinya, dengan rinihan panjang gadis itu melepas orgasmenya.
Kali ini giliran Viana memainkan penis Udin yang sudah bugil. Penis itu
sudah tegak sepenuhnya. Udin berdiri di hadapan Viana yang bersimpuh
dengan wajah di depan penis Udin yang sedang ereksi total. Viana pun
semakin jelas melihat penis Udin dibandingkan dengan waktu dalam gudang.
Cahaya terang lampu neon seolah memperlihatkan detail alat kelamin pria
yang sebentar lagi akan mengawininya itu. Viana kagum juga dalam
hatinya, penis Udin yang tegak 20 cm itu terlihat sangat besar, hampir
sepanjang wajahnya. Via mulai memasukkan penis itu dalam mulutnya. Udin
memejamkan matanya, tak kuat melihat tubuh putri bos di depannya yang
sedang bersimpuh mengulum ujung penisnya sambil sesekali mengocoknya
pelan. Namun efek dari kocokan tangan Viana yang halus itu sungguh luar
biasa dirasakan Udin, tak pernah ada pelacur yang disetubuhinya memiliki
kehalusan dan kelembutan seperti kulit Viana. Sepuluh menit kemudian,
Udin merebahkan tubuh Viana di ranjangnya.
“Via, belum pernahkan ada kontol yang masuk?”
Viana menggeleng, memang selama ini belum pernah ada yang
menyetubuhinya. Keperawanannya hilang juga karena permainan tangan
pacarnya dulu.
“mau dicoba ya, sekarang”
Tanpa menjawab, Viana merenggangkan kedua pahanya, berarti gadis itu
telah siap menyerahkan tubuhnya pada Udin. Udin bersiap memasukkan
penisnya yang keras seperti besi, daritadi dia disuguhi pemandangan
tubuh polos seorang gadis, tentu saja penisnya yang sudah terlatih itu
tegak terus, apalagi sekarang melihat Viana membuka kedua pahanya yang
amat putih hingga ke pangkalnya, dan terlihatlah vagina yang kemerahan
itu telah siap menanti penisnya.
Tangan Udin membimbing penisnya sendiri menjejali vagina Via, tapi
gagal, penis itu meleset kepaha Via, sentuhan kepala penisnya dengan
kulit halus paha Via membuat sensasi tersendiri, membuat penis itu
semakin tegang. Tusukan kedua agaknya berhasil membuat kepala penis itu
masuk menyeruak vagina. Viana memejamkan mata sipitnya, tampak menikmati
sekali malam pertamanya bersama Udin itu, ingin rasanya memuaskan pria
di atas tubuhnya yang dikira nantinya bakal menjadi suami. Vaginanya pun
menjadi semakin basah, dan itu malah memudahkan penis Udin memasukinya.
Pelan-pelan kepala penis Udin masuk menembus kesempitan celah kemaluan
gadis yang sudah pasrah itu. Kerasnya batang penis itu amat dirasakan
oleh Via, betapa vaginanya kini mulai terasa penuh dan hangat, meskipun
ada sedikit rasa nyeri dan perih saat penis itu berhenti memasukinya.
Tiba-tiba Udin menarik penisnya keluar setelah tadi dirasakannya
menabrak sesuatu. Tampaklah sedikit darah di sekitar kepala penis Udin.
“Via, masih ada sisa keperawanan kamu nih” katanya bangga ternyata masih
tersisa keperawanan Viana yang tidak semuanya terenggut jari-jari
Johan, mantan pacarnya. Viana tersenyum manis
“yah, buat mas aja”
Kembali Udin memasukkan penisnya, kali ini terasa lebih mudah, tapi
tetap perlahan agar gadis itu tidak merasa sakit. Ketika Udin mulai
memompanya pelan, rasa nyeri itu lama-lama hilang dan vaginanya serasa
ditembus benda padat yang keras dan hangat. Cairan vagina Via sangat
membantu Udin melancarkan gerakannya, kini vagina Via terasa licin oleh
pelumas yang dihasilkannya sendiri, membuat pompaan Udin semakin cepat.
Viana terlihat melentingkan tubuhnya tanda telah mencapai orgasme.
Sementara Udin tanpa henti terus memompa lubang vagina Via, penis besar
itu menabrak-nabrak dinding rahim Viana membuat Viana merasa
diawang-awang hingga orgasme berkali-kali.
Tubuh hitam sang pembantu itu tampak perkasa sekali menyetubuhi tubuh
halus anak majikannya yang amat putih dan halus. Namun kedua manusia itu
terus tenggelam dalam lautan nafsu birahi tanpa mempedulikan status
sosial yang sebenarnya. Tubuh kekar sang pembantu terlihat naik turun
diatas tubuh mulus putri majikan. Sang putri pun merintih menikmati
setiap hentakan dan sodokan pria yang menyetubuhinya. Sementara Udin, si
pembantu itu semakin memuncak birahinya, tatkala posisi mereka berubah
menjadi gaya doggy, pemandangan punggung Viana yang putih halus,
ditambah jepitan vaginanya amat membuat penisnya berkedut.
Menyadari dirinya akan keluar, Udin segera membalikkan tubuh Viana seperti posisi semula, namun tanpa mencabut penisnya.
“Via, kamu lagi masa subur?” tanyanya sambil terus menggenjot Via.
Viana menggeleng sambil tetap memejamkan matanya, terus menikmati tiap gerakan Udin.
“Semprot di dalem ya?” bisik Udin.
Viana tidak menjawab, pikirannya sedang terbang menikmati persetubuhan pertamanya.
Udin semakin mempercepat pompaannya. Viana merintih-rintih agak keras
saat dirasakan penis Udin berkedut dalam vaginanya, nalurinya sebagai
wanita seakan memberitahu bahwa pria yang menyetubuhinya akan orgasme
juga. Namun pompaan Udin begitu dalamnya hingga membuat Viana orgasme
untuk kesekian kalinya, secara reflek Viana memeluknya erat tanda diapun
sangat menikmati orgasmenya itu. Udinpun tak bisa menahan lebih lama
lagi spermanya segera menyembur deras dalam rahim Viana. Lidahnya
memainkan lidah Viana membuat gadis itu mengusap-usap punggung Udin yang
sedang menyelesaikan hasratnya. Dirasakannya juga penis Udin
memuntahkan cairan hangat di dalam vagina membuat hangat juga rahimnya.
Lima menit mereka meresapi kenikmatan terakhir itu sebelum akhirnya Udin
mencabut penisnya. Mereka saling berpelukan, tampak wajah Viana merona
merah tanda gadis itu merasa sangat puas, Udin pun menutup matanya
menikmati kepuasan tak hingga yang baru saja dialaminya. Setelah dirasa
cukup lama, badan merekapun terasa lelah. Lelehan sperma terlihat di
celah lubang vagina Via yang sekarang telah bolong.
“Mas, mandi dulu yuk..” ajak Viana. Udin mengangguk dan langsung
membopong tubuh bugil Viana ke kamar mandinya yang terletak dalam
kamarnya juga. Sisa air bekas tadi mandi masih terasa hangat, mereka
berdua berendam dalam bathtub. Udin merasa berada di surga, baru kali
ini dia mandi dalam kamar mandi yang mewah seperti itu. Selesai mandi
merekapun tertidur pulas, letih akibat kegiatan resepsi tadi siang, juga
letih akibat senggama tadi.
Malam itu, ditempat yang berbeda, Pak Sumargapun terlihat habis melepas
hajatnya, dia tertidur dalam pelukan Tumirah istri barunya yang amat
muda. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa putri pertamanyapun saat itu
tengah bermalam pengantin bersama Udin, pembantu tangan kanannya.
Malam yang sama, nun jauh di kota Jakarta sana, Kosim terlihat
menyeringai puas sekali memandangi tubuh telanjang wanita di dekatnya
yang sedang tidur dalam keadaan telanjang bulat. Keadaannya mirip
seperti keadaan Viana putrinya.Nyonya Irene terlihat puas sekali dalam
tidurnya setelah sebelumnya Kosim memberi jatah kenikmatan padanya.
Sesekali dilihatnya bunyi sms dilayar HPnya.
“Mas, malam ini dendam mas mulai terbalas, cewek itu sudah jadi milik Udin malam ini, rencana kita berhasil”
Tersungging senyum kejam di bibir Kosim melihat sms dari Tatik adiknya,
Viana, gadis anak mantan majikannya yang membuatnya terusir dulu kini
telah bisa dihancurkan. Sebentar lagi Airin, lalu semua usaha majikannya
dapat dikuasai berikut tubuh telanjang yang tidur dalam pelukannya
sekarang ini. Jam telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Kosimpun
tertidur dengan pulasnya sambil membayangkan keberhasilan semua
rencananya kelak…..