Vany Ethan
Kuliah jam terakhir di kampus S di kawasan Jakarta Selatan baru saja
berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Vani,
mahasiswi semester 4 fakultas Ekonomi dengan rambut sebahu berwarna
brunette berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus.
Sesampainya di halte, Vani merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok
penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya.
Tersadarlah
Vani bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih
lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga
tokednya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari
itu Vani menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi
kulit Vani memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang
digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya
karena Vani memang cukup tinggi, 173cm.
"Buset, baru sadar gue
kalo hari ini gue pake uniform sexy gue demi ngadepin ujiannya si
Hutabarat, biar dia gak konsen", pikir Vani.
Biasanya Vani bila
naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup
dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil
cowok-cowok di jalan. Siang tadi Vani ke kampus datang numpang mobil
temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya
lebih sedikit.
Vani tambah salah tingkah karena cowok-cowok di
halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan tokednya yang nongol
lebih dekat lagi. "Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin toked
gw", membatin lagi si Vani. Vani menggunakan bukunya untuk menutupi
dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Vani
yang memang bulat sekal dan menonjol.
Makin salah tingkahlah si
Vani. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada
pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi
kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Vani tidak kebayang
tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi
tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxi, tapi uang tidak ada. Jam
segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Vani coba
alternatif terakhir dengan menelpon Albert cowoknya atau si Angel atau
Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off. "Buset,
sial banget sih gue hari ini."
Mulailah celetukan mesum
cowok-cowok di halte dimulai "Neng, susunya mau jatuh tuh, abang
pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe". Pias! Memerahlah muka
Vani. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah
balas makin pelototin toked si Vani. Makin jengahlah si Vani.
Tiba-tiba
sebuah sedan BMW hitam berhenti tepat di depan Vani. Jendelanya
terbuka, dan nongolah seraut wajah hitam manis berambut cepak sambil
menyeringai, si Ethan. Cowok fakultas Ekonomi satu tahun di atas Vani,
berkulit hitam, tinggi besar, hampir 180cm.
"Van, jualan lo disini? Hehe".Vani membalas
"Sialan lo, gue ga ada tumpangan neh, terpaksa tunggu bus. Than, anter gue ya" pinta Vani.
Vani
sebenarnya enggan ikut bersama si Ethan karena dia terkenal suka main
cewek. Tapi, dilihat dari kondisi sekarang, paling baik memang naik
mobil si Ethan. Tapi si Ethan malah bilang "Wah sory Van, gue harus
pergi jemput nyokap gue. Arahnya beda sama kosan elo". "Than, please
anter gue ya. Ntar gw traktir deh lo" rajuk Vani. Sambil nyengir mesum
Ethan berucap "Wah kalo ada bayarannya sih gue bisa pertimbangin". "Iya
deh, ntar gue bayar" Vani asal ucap, yang penting bisa pergi segera dari
halte tersebut. "Hehe sip" kata Ethan sambil membuka pintu untuk Vani.
Vani masuk ke dalam mobil Ethan, diiringi oleh pandangan sebel para
cowok-cowok di halte yang kehilangan santapan rohani.Mobil Ethan mulai
menembus kemacetan ibu kota.
"Buset dah lo Van, sexy amat hari ini".
Kata
Vani "Gue sengaja pake uniform andalan gue, karena hari ini ada ujian
lisannya si Hutabarat, Akuntasi Biaya. Biar dia ga konsen, n kasi gw
nilai bagus hehe".
"Gila lo, gue biarin bentar lagi, lo udh dient*tin sama tu abang-abang di halte haha" balas Ethan.
"Sial, enak aja lo ngomong Than" maki Vani.
Sambil
mengerling ke Vani, Ethan berucap "Van, bayaran tumpangan ini, bayar
sekarang aja ya". "Eh, gue bawa duit cuma dikit Than. Kapan2 deh gue
bayarin bensin lo" balas Vani. "Sapa yang minta diduitin bensin, Non"
jawab Ethan. "Trus lo mau apa? Traktir makan" tanya Vani bingung. "Ga.
Ga perlu keluar duit kok. Tenang aja" ucap Ethan misterius. Semakin
bingung si Vani. Sambil menggerak-gerakan tangan kirinya si Ethan
berkata "Cukup lo puasin tangan kiri gue ini dengan megangin toked lo.
Nepsong banget gue liatnya". Seringai mesum Ethan menghiasi wajahnya.
Seperti disambar petir Vani kaget dan berteriak "BANGSAT LO THAN. LO
PIKIR GUE CEWE APAAN!!". Pandangan tajam Vani pada wajah Ethan yang
tetap cengar-cengir. "Yah terserah lo. Cuma sekenyot dua kenyot doang.
Apa lo gue turunin disini" kata Ethan. Pada saat itu mereka telah sampai
di daerah yang gelap dan banyak gubuk gelandangan. Vani jelas ogah.
"Bisa makin runyam kalo gue turun disini. Bisa2 gue digangbang" Vani
bergidik sambil melihat sekitarnya. "Ya biarlah si Ethan bisa
seneng-seneng bentar nggranyangi toked gue. Itung-itung amal. Kampret
juga si Ethan ini". Akhirnya Vani ngomong "Ya udah, cuma pegang susu gue
doang kan. Jangan lama-lama" Vani ketus. "Ga kok Van, cuma sampe kos lo
doang" kata Ethan penuh kemenangan. "Sialan, itu sih bisa setengah jam
sendiri. Ya udhlah, biar cepet beres nih urusan sialan" pikir Vani.
Tangan
kiri Ethan langsung terjulur meraih toked Vani sebelah kanan bagian
atas yang menonjol dari balik t-shirtnya. Vani merasakan jari-jari kasar
Ethan dikulit tokednya mulai membelai-belai pelan. Darah Vani agak
berdesir ketika merasakan belaian itu mulai disertai remasan-remasan
lembut pada toked kanan bagian atasnya. Sambil tetap menyetir, Ethan
sesekali melirik ke sebelah menikmati muka Vani yang menegang karena
sebal tokednya diremas-remas. Ethan sengaja jalanin mobil agak pelan,
sementara Vani tidak sadar kalau laju mobil tidak secepat sebelumnya,
karena konsen ke tangan Ethan yang mulai meremas-remas aktif secara
bergiliran kedua bongkahan tokednya.
Nafas Vani mulai agak
memburu, tapi Vani masih bisa mengontrol pengaruh remasan-remasan
tokednya pada nafsunya "Enak aja kalo gue sampe terangsang gara-gara
ini" pikir Vani. Tapi Ethan lebih jago lagi, tiba-tiba jari-jarinya
menyelusup kedalam t-shirt Vani, bahkan langsung masuk kedalam BH-nya yg
satu ukuran lebih kecil. Toked Vani yang sebelah kanan terasa begitu
penuh di telapak tangan Ethan yang sebenarnya lebar juga. "Ahh...!" Vani
terpekik kaget karena manuver Ethan. "Hehe buset toked lo Van, gede
banget. Kenyal lagi. Enak banget ngeremesinnya. Tangan gue aja ga cukup
neh hehe" ujar Ethan penuh nafsu.
Ethan melanjutkan gerakannya
dengan menarik tangan kirinya beserta toked Vani keluar dari BH-nya.
Toked sebelah kanan Vani kini nongol keluar dari wadahnya dan terekspos
full. "Wuah..buset gedenya. Pentilnya juga gede neh. Sering diisep ya
Van" kata Ethan vulgar. "Bangsat lo Than. Kok sampe gini segala" protes
Vani berusaha mengembalikan tokednya kedalam BH-nya. Tangan Vani
langsung ditahan oleh Ethan "Eh, inget janji lo. Gue boleh ngremesin
toked lo. Mo didalam BH kek, di luar kek, terserah gue". Sambil cemberut
Vani menurunkan tangannya. Penuh kemenangan, Ethan kembali menggarap
toked Vani yang kini keluar semuanya.
Remasan-remasan lembut di
pangkal toked, dilanjutkan dengan belaian memutar disekitar puting,
membuat Vani semakin kehilangan kendali. Nafasnya mulai memburu lagi.
Apalagi Ethan mulai memelintir-melintir puting Vani yang besar dan
berwarna pink. Gerakan memilin-milin puting oleh jari-jari Ethan yang
kasar memberikan sensasi geli dan nikmat yang mulai menjalari toked
Vani. Perasaan nikmat itu mulai muncul juga disekitar selangkangan.
Perasaan geli dan getaran-getara nikmat mulai menjalar dari bawah puser
menuju ujung selangkangan Vani. "Ngehek nih cowok. Puting gue itu tempat
paling sensitif gue. Harus bisa nahan!" membatin si Vani.
Tapi
puting Vani yang mulai menegang dan membesar tidak bisa menipu Ethan
yang berpengalaman. "Hehe mulai horny juga nih lonte. Rasain lo" pikir
Ethan kesenangan. Karena berusaha menahan gairah yang semakin memuncak,
Vani tidak sadar kalau Ethan sudah mengeluarkan kedua bongkah tokednya.
Tangan kiri Ethan semakin ganas meremas-remas toked dan memilin-milih
kedua puting Vani. Ucapan-ucapan mesum pun mulai mengalir dari Ethan
"Nikmatin aja Van, remasan-remasan gue. Puting lo aja udh mulai ngaceng
tuh. Ga usah ditahan birahi lo. Biarin aja mengalir. memek lo pasti udah
mulai basah sekarang". Vani sebal mendengar ucapan-ucapan vulgar Ethan,
tapi pada saat yang sama ucapan-ucapan tersebut seperti menghipnotis
Vani untuk mengikuti libidonya yang semakin memuncak. Vani juga mulai
merasakan bahwa celana dalamnya mulai lembab.
"Sial..memek gue
mulai gatel. Gue biarin keluar dulu kali, biar gue bisa jadi agak
tenangan. Jadi habis itu, gue bisa nanganin birahi gue walopun si Ethan
masih ngremesin toked gue" pikir Vani yang mulai susah menahan
birahinya. Berpikir seperti itu, Vani melonggarkan pertahanannya,
membiarkan rasa gatal yang mulai menjalari memeknya menguat. Efeknya
langsung terasa. Semakin Ethan mengobok-ngobok tokednya, rasa gatal di
memek Vani semakin memuncak. "BUSETT. Cuma diremes-remes toked gue, gue
udah mo keluar". Vani menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah,
ketika kenikmatan semakin menggila di bibir memeknya. Ethan yang sudah
memperhatikan dari tadi bahwa Vani terbawa oleh birahinya, semakin
semangat menggarap toked Vani.
Ketika melihat urat leher Vani
menegang tanda menahan rasa yang akan meledak di bawahnya, jari telunjuk
dan jempol Ethan menjepit kedua puting Vani dan menarik agak keras
kedepan. Rasa sakit mendadak di putingnya, membawa efek besar pada rasa
gatal yang memuncak di memiaw Vani. Kedua tangan Vani meremas jok
kuat-kuat, dan keluar lenguhan tertahan Vani "Hmmmffhhhhhhh….". Pada
saat itu, memek Vani langsung banjir oleh cairan pejunya. Pantat Vani
mengangkat dan tergoyang-goyang tidak kuat menahan arus orgasmenya.
"Oh..oh..hmmffhh" Vani masih berusaha menahan agar suaranya tidak keluar
semua, tapi sia-sia saja. Karena Ethan sudah melihat bagaimana Vani
orgasme, keenakan karena tokednya dipermainkan. "Hahaha dasar lonte lo
Van. Sok ga suka. Tapi keluarnya sampe kelonjotan gitu" Ngakak Ethan
penuh kemenangan.
Nafas Vani masih tidak beraturan, dan agak
terbungkuk-bungkuk karena nikmatnya gelombang orgasme barusan. "Kampret
lo Than" maki Vani perlahan. "Lo boleh seneng sekarang. Tapi berikut ga
bakalan gue keluar lagi. Gue udah ga horny lagi" tambah Vani yang
berpikir setelah dipuasin sekali maka libidonya akan turun. Tapi,
ternyata inilah kesalahan terbesarnya. Beberapa saat setelah memeknya
merasakan orgasme sekali, sekarang malah semakin berkedut-kedut, makin
gatal rasanya ingin digesek-gesek. "Lho, kok memek gue makin gatel.
Berkedut-kedut lagi. Aduuuh..gue pengen memek gue dikontolin
sekaraangg..siaall.." sesal Vani dalam hati. Ethan seperti tahu apa yang
berkecamuk dalam diri (dan memek) Vani. Walaupun Vani bilang dia tidak
horny lagi, tapi nafasnya yang memburu dan putingnya yang semakin
ngaceng mengatakan lain. Ethan menghentikan mobilnya mendadak di pinggir
jalan bersemak yang memang sangat sepi, dan tangannya langsung bergerak
ke setelan kursi Vani.
Tangan satunya langsung menekan kursi
Vani agar tertidur. Vani yang masih memakai seatbealt, langsung ikut
terlentang bersama kursi. "EEHHH...APA-APAAN LO THAN??" Teriak Vani.
Tidak peduli teriakan Vani, tangan kiri Ethan langsung meremas toked
Vani lagi, sedang tangan kanannya langsung meremas memek Vani.
"OOUUHHHH..........!!" lenguh Vani keras, karena tidak menyangka
memeknya yang semakin gatel dan berkedut-kedut keras akan langsung
merasakan gesekan, bahkan remasan. Akibatnya, Vani langsung orgasme
untuk kedua kalinya. Ethan tidak tinggal diam, ketika badan Vani masih
mengejang-ngejang, jari-jarinya menggesek-gesek permukaan celana dalam
Vani kuat-kuat. Akibatnya, gelombang orgasme Vani terjadi terus-menerus.
"Oouuuhh...Aghhhh...Ouhhhhhhhhhh
Ethaannnnn...!! Teriak Vani makin keras karena kenikmatan mendadak yang
menyerang seluruh selangkangan dan tubuhnya. Kedua tangan Vani semakin
kuat meremas jok, mata memejam erat dan urat-urat leher menonjol akibat
kenikmatan yang melandanya. Ketika gelombang orgasme mulai berlalu, Vani
mulai membuka matanya dan mengatur pernafasannya. Rasanya jengah banget
karena keluar begitu hebatnya di depan si Ethan. "Aseem, napa gue
keluar sampe kaya gitu sih. Bikin tengsin aja. Tapi, emang enak banget.
Udah semingguan gue ga ngentot" batin Vani.
Saat Vani masih enjoy
rasa nikmat yang masih tersisa, Ethan sudah bergerak di atas Vani,
mengangkat t-shirt Vani serta menurunkan BH-nya kekecilan sehingga toked
Vani yang bulat besar terpampang jelas di depan hidung Ethan. Tersenyum
puas dan napsu banget Ethan berucap "Gilaa..toked lo Van. Gede banget,
mengkal lagi. Harus gue puas-puasin ngenyotinnya ni malem". Ethan
langsung menyergap kedua toked Vani yang putingnya masih mengacung
tegak. Mulutnya mengenyot toked yang sebelah kanan, sambil tangan
kanannya meremas-remas & memilin-milin puting yang sebelah kiri.
Diisap-isap, lidah Ethan juga piawai menjilat-jilat dan memainkan kedua
puting Vani. Gigitan-gigitan kecil dipadu remasan-remasan gemas jemari
Ethan, membuat Vani terpekik "Ehhgghh ahh.. ahh.. Ehhtanhnn.. kahtanya..
kahtanya cuma pegang-pegang..kok.. kok sekarangg.. loh ngeyotin tohked
guehh...ahh..ahh.." kata Vani sambil tersengal-sengal nahan birahi yang
naik lagi akibat rangsangan intensif di kedua tokednya. Ethan sudah
tidak ambil pusing "Hajar bleh. Kapan lagi gue bisa nikmatin toked kaya
gini bagusnya".
Sekarang kedua tangan Ethan menekan kedua toked
Vani ketengah, sehingga kedua putingnya saling mendekat. Kedua puting
Vani langsung dikenyot, dihisap & dimainin oleh lidah Ethan.
Sensasinya luar biasa, Vani semakin terhanyut oleh birahinya. Desahan
pelan tertahan mulai keluar dari bibir ranum Vani. Lidah Ethan mulai
turun menyusuri perut Vani yang putih rata, berputar-putar sejenak di
pusernya. Tangan kanan Ethan aktif membelai-belai dan meremas paha
bagian dalam Vani. "Aah..ah.. emhh.. emh..Than.. lo ngapahin sihh.."
keluh Vani tak jelas. Dengan sigap Ethan menyingkap rok mini Vani
tinggi-tinggi. Memperlihatkan mini panty La Senza Vani berwarna merah.
Agak transparan, dibantu cahaya lampu jalan samar-samar memperlihatkan
isinya yang menggembung montok. Jembi Vani yang tipis terlihat hanya
diatas saja, dengan alur jembi ke arah pusernya. "Buseett..sexxyy
bangett.. bikin konak gue ampir ga ketahan." syukur Ethan dalam hati.
Tanpa
babibu lagi jari-jari Ethan langsung menekan belahan memiek Vani, dan
Ethan langsung mengetahui betapa horny-nya Vani "Wah Van, memek lo udah
becek banget neh. Panty lo aja ampe njeplak gini hehe". Vani cuma bisa
menggeleng-geleng lemah, sambil tetap menggigit bibir bawahnya, karena
jemari Ethan menenekan dan menggesek-gesek memeknya dari atas panty.
"Thaan..than..singkirinn tangan lo doong....emh..emh.." keluh Vani
perlahan, tapi matanya memejam dan gelengannya semakin cepat. "Wah,
harus cepat gw beri teknik lidah gue neh, biar si Vani makin konak hehe"
pikir Ethan napsu.
Cepat Ethan ambil posisi di depan
selangkangan Vani yang terbuka. Kursi Vani dimundurkan agar beri ruang
cukup untuk manuver barunya. Paha Vani dibuka semakin lebar, dan Vani
nurut saja. Jemari Ethan meraup panty mungil Vani, dan membejeknya jadi
bentuk seperti seutas tali sehingga masuk kedalam belahan memek Vani.
Ethan mulai menggesek-gesekkan panty Vani ke belahan memiawnya dengan
gerakan naik turun dan kiri kanan yang semakin cepat. "Aah..
aahh...ehmm..ehhmm.. uuh.. hapaan itu Etthann ahh..." desah Vani
keenakan, karena gesekan panty tersebut menggesek-gesek bibir dalam
memeknya sekaligus clitorisnya. Ethan juga semakin konak melihat memek
Vani yang terpampang jelas.
Dua gundukan tembem seperti bakpau, mulus tanpa ada jembi di sekelilingnya, cuma ada dibagian atasnya saja.
"Van,
memek lo ternyata mantap & montok banget. Pasti enak kalo gue makan
neh. Apalagi sampe gue genjot nanti hehe" ujar Ethan penuh nafsu. Panty
Vani dipinggirkan sehingga lidah Ethan dengan mudah mulai menjilati
bibir memiaw Vani. Tapi sebentar saja Ethan tidak betah dengan panty
yang mengesek pipinya. Langsung diangkatnya pantat Vani, dan
dipelorotkan panty-nya.
Kini antara Ethan dan memek Vani yang
tembem dan mulus, sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Ethan
langsung menyosorkan mulutnya untuk mulai melumat bakpao montok itu.
Tapi, Vani yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya, karena ada jeda
sesaat ketika Ethan melepaskan pantynya, berusaha menahan kepala Ethan
dengan kedua tanggannya. "Gila lo Than, mo ngapain lo?? Jangan kurang
ajar ya. Bukan gini perjanjian kita!" ujar Vani agak keras. Tapi kedua
tangan Vani dengan mudah disingkirkan oleh tangan kiri Ethan, dan tanpa
dapat dicegah lagi mulut Ethan langsung mencaplok memek Vani. Ethan
melumatnya dengan gemas, sambil sekali lidah menyapu-nyapu clitoris dan
menusuk-nusuk kedalam memiaw. Bunyi kecipakan ludah dan peju Vani
terdengar jelas. Konak Vani yang sempat turun, langsung naik lagi ke
voltase tinggi. Kepala Vani mengangkat dan dari bibirnya yang sexy
keluar lenguhan agak keras.
"Ouuuffhhh....eeahh...ah..ah lo apain mehmmek gue Thann.." erang Vani nyaris setengah sadar.
Rasa
gatal yang hebat menyeruak dari sekitar selangkangannya menuju
bibir-bibir memeknya. Rasa gatal itu mendapatkan pemuasannya dari
lumatan bibir, jilatan lidah dan gigitan kecil Ethan. Tapi, semakin
Ethan beringas mengobok-obok memek Vani dengan mulut, dibantu dengan
ketiga jarinya yang mengocok lubang memek Vani, rasa gatal nikmat itu
malah semakin hebat. Vani sudah tidak dapat membendung konaknya sehingga
desahan dan erangannya sudah berubah menjadi lenguhan.
" OUUHHHHG..... HMMPPHH... ARRGGHH.. HAHHH.. OUHHH..".
Kepala
Vani menggeleng ke kiri dan kanan dengan hebatnya. Kedua tangannya
menekan kepala Ethan semakin dalam ke selangkangannya. Pantatnya naik
turun tidak kuat menahan rangsangan yang langsung menyentuh titik
tersensitif Vani. Rasa ogah & jaim sudah hilang sama sekali. Yang
ada hanya kebutuhan untuk dipuaskan.
"ETHAANN...GILLAA... HOUUUHHH.. ENAAKK.... THANN...AHHH" Vani semakin keenakan.
Ethan
yang sedang mengobok-obok memek Vani semakin semangat karena memek Vani
sudah betul-betul banjir. Peju dan cairan pelumas Vani membanjir di
mulut dan jok mobil Ethan. Jempol kiri Ethan menggesek-gesek clitoris
Vani, sedang jari-jari Ethan mengocok-ngocok lubang memek dan G-spot
Vani dengan cepat. "Heh, ternyata lo lonte juga ya Van. Mulut lo bilang
nggak-nggak mulu. Tapi memek lo banjir kaya gini. Becek banget" kata
Ethan dengan semangat sambil tetap ngocok memiaw Vani.
Dalam
beberapa kocokan saja Vani sudah mulai merasakan bahwa gelombang orgasme
sudah diujung memeknya. Ketika Ethan melihat mata Vani yang mulai merem
melek, otot-otot tangan mulai mengejang sambil meremas jok mobil
kuat-kuat dan pantat Vani yang mulai mengangkat, Ethan tau bahwa Vani
akan sampai klimaksnya. Langsung saja Ethan menghentikan seluruh
aktivitasnya di wilayah selangkangan Vani. Vani jelas saja langsung
blingsatan " Ah..ah napa brentii..." sambil tangannya mencoba mengocok
memeknya sendiri. Ethan dengan tanggap menangkap tangan Vani, dan
berujar "Lo mau dituntasin?". Vani merajuk "Hiyah.. Than.. gue udah
konak banggett nih. Pleasee.. kocokin lagi gue ya". "Kalo gitu lo
nungging sekarang" kata Ethan sambil menidurkan kursi sopir agar lebih
lapang lagi dan ada pijakan buat Vani nungging. "Napa harus nungging
Than" Vani masih merajuk dan tangannya masih berusaha untuk menjamah
memeknya sendiri. "Ayo, jangan bantah lagi" kata Ethan sambil mengangkat
pantat Vani agar segera menungging.
Vani dengan patuh menaruh
kedua tangannya di jok belakang, dengan kedua lutut berada di jok depan
yang sudah ditidurkan. Posisi yang sangat merangsang Ethan, demi melihat
bongkahan pantat yang bulat, dan memek tembem yang nongol mesum di
bawahnya.
Cepat Ethan melepas sabuk dan celana panjangnya, lalu
meloloskan celana dalamnya. Langsung saja kontol hitam berurat sepanjang
17cm dan berdiameter 4.5cm itu melompat tegak mengacung,
mengangguk-ngangguk siap untuk bertempur. Vani yang mendengar
suara-suara melepas celana di belakangnya, menengok dan langsung kaget
melihat kontol Ethan sudah teracung dengan gagahnya.
"Buset, gede juga tu kontol, hampir sama dg punya Albert" pikir Vani reflek.
"Eh, lo mo ngontolin gue Than. Enak aja!" teriak Vani dan mencoba untuk membalik badan.
Tapi
Ethan lebih cepat lagi langsung menindih punggung Vani, sehingga Vani
harus bertelekan lagi dengan kedua sikunya ke jok belakang. Ethan
menggerakkan maju mundur pantatnya sehingga kontolnya yang ngaceng,
menggesek-gesek bibir memek Vani. "Sshh...Than...mmhh.. jangan
macem-macem lo ya!" ujar Vani masih berupaya galak, tidak mau dikentot
oleh Ethan.
Kedua tangan Ethan meraih kedua toked besar Vani yang
menggantung dan meremas-remasnya dengan ganas. Sambil menciumi dan
menggigit tengkuk Vani, Ethan berkata "Udah deh, lo ga usah sok ga doyan
kontol gitu. Kan lo yang mau dituntasin. Ini gue tuntasin sekalian
dengan kontol gue. Lebih mantep timbang cuma jari & lidah hehe".
Remasan & pilinan di kedua toket dan serbuan di tengkuk dan telinga
membuat gairah Vani mulai naik lagi. Nafas Vani mulai memburu. Tapi Vani
masih mencoba untuk bertahan. Namun, gesekan kontol yang makin intense
di bibir memek Vani, betul-betul membuat pertahanan Vani makin goyah.
Kepalanya mulai terasa ringan, dan rasa gatal kembali menyerang memeknya
dengan hebat.
"Hmffh...shh...awas lo Than kalo sampe hhemm..
sampe berani masukin kontol lo, lo bakal gue..hmff..gue....OUUHHHHH"
omongan Vani terputus lenguhannya, karena tiba-tiba Ethan mengarahkan
pal-kon nya ke lubang memek Vani yang sudah basah kuyup dan langsung
mendorongnya masuk, hingga kepala kontol Ethan yang besar kaya jamur
merah amblas dalam memek tembem Vani, sehingga ada peju Vani yang
muncrat keluar.
"Hah..hah...shhh...brengsek lo Ethannn. kontol
lo...kontol lo...itu mo masuk ke memek guee..." erang Vani kebingungan,
antara gengsi dan birahi. Ethan diam saja, tapi memajukan lagi pantatnya
sehingga tongkolnya yang besar masuk sekitar 2 cm lagi, tapi kemudian
ditarik perlahan keluar lagi sambil membawa cairan pelumas memek Vani.
Sekarang pantat Ethan maju mundur perlahan, mengocok memiaw Vani tapi
tidak dalam-dalam, hanya dengan pal-konnya aja. Tapi, hal ini malah
membuat Vani blingsatan, keenakan.
"HMFPHH....HEEMMFFHH...SSHH
AAHH...Ethannn kontol lo... kontol lo... ngocokin memek
guee....hhmmmff". Rasa gatal yang mengumpul di memek Vani, serasa
digaruk-garuk dengan enaknya. Vani yang semula tidak mau dikontolin,
jadi kepengen dikocok terus oleh kontol Ethan.
Kata Ethan "Jadi
mau lo gimana? Gue stop neh". Ethan langsung mencabut kontolnya, dan
hanya menggesek-gesekkan di bibir memek Vani. "Ethaan...pleasee.. kentot
gue. Masukin kontol lo ke memek gue. Gue udah ga tahan gatelnya..gue
pengen dikenttooott!!!" rengek Vani sambil menggoyang-goyangkua
pinggulnya, berusaha memundurkan pantatnya agar kontol Ethan yang
dibibir memeknya bisa masuk lagi.
"Hahahaha sudah gue duga, elo
emang lonte horny Van. Dari tampang & body elo aja gue tau, kalo elo
itu haus tongkol" tawa Ethan penuh kemenangan. "Ayo buka paha lebih
lebar lagi" perintah Ethan. Vani langsung menurutinya, membuka pahanya
lebih lebar sehingga memeknya makin terpampang. Ethan tanpa tedeng
aling-aling langsung menusukkan kontolnya kuat-kuat ke memek Vani.
Dan...BLESHH...seluruh tongkol hitam itu ditelan oleh memek montok Vani.
Air peju Vani terciprat keluar akibat tekanan tiba-tiba benda tumpul
besar.
"AUUGGHHHH............!!!" pekik Vani yang kaget dan kesakitan.
"Hehehe
gimana rasa kontol gue Van" kekeh Ethan yang sedang menikmati hangat
dan basahnya memek Vani. Vani masih shock dan agak tersengal-sengal
berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar yang sekarang menyesaki
liang memeknya. "Buseet..tebel banget nih kontol, memek gue penuh
banget, keganjel. Mo buka paha lebih lebar lagi udah ga bisa.. mhhmff"
erang Vani dalam hati. Karena Vani diam saja, hanya nafasnya saja yang
terdengar memburu.
Ethan mulai menarik keluar kontolnya sampai
setengahnya, kemudian mendorongnya masuk lagi. Demikian terus menerus
dengan ritme yang tepat. "Hehh..heh...mmm legit banget memek lo Vannn.."
desah Ethan keenakan ngentotin memek Vani yang peret tapi basah itu.
Hanya butuh tiga kocokan, Vani mulai didera rasa konak dan kenikmatan
yang luar biasa. Menjalari seluruh tangan, pundak, tokednya, sampai
selangkangan dan seluruh memeknya. Rasa gatal yang sangat digemari oleh
Vani seperti mengumpul dan menjadi berkali lipat gatalnya di memeke
Vani. Vani sudah tidak mendesah lagi, tapi melenguh dengan hebat. Hilang
sudah gengsi, tinggal rasa konak yang dahsyat.
"UUHHHHH.....UHHH......OUUHHGGGG... ENNAAKKNYAA...".
"OH GODD..memek GUE...memek GUE.."
Vani terbata-bata disela lenguhannya yang memenuhi mobil..
"memek GUE..GATELLL BANGETT....KENTTOOTTT GUE TTHANN...ARGGHH..."
Lenguhan
Vani semakin keras dan omongan vulgar keluar semua dari bibir sexy-nya.
Kepalan tangan Vani menggegam keras, kepalanya menggeleng semakin
cepat, pinggulnya bergerak heboh berusaha menikmati seluruh kontol
Ethan. Ethan pun terbawa napsunya yang sudah diubun-ubun. Tangannya
meremas-remas toked Vani tanpa henti dengan kasarnya, dan Ethan sudah
tidak menciumi pundak & tengkuk Vani, melainkan menggigitnya
meninggalkan bekas-bekas merah. Pantatnya bergerak maju mundur dengan
ritme yang berantakan, cepat lalu perlahan, kemudian cepat lagi, membuat
kontol Ethan mengocok memek Vani seperti kesetanan.
Bunyi pejuh
Vani yang semakin membanjir menambah nafsu mereka berdua semakin
menggila. SLEPP..SLEPP..SLEPP..PLAK..PLAK...suara kontol yang keluar
masuk memek dan benturan pantat Vani dengan pangkal kontol Ethan
terdengar di sela-sela lenguhan Vani & Ethan. Tak sampai 10 menit
Vani merasakan aliran darah seluruh tubuhnya mengalir ke memeknya. Rasa
gatal sepertinya meruncing dan semakin memuncak di tempat-tempat yang
dikocok oleh tongkol Ethan.
"GUEE KELUAARRRR
THANNN......OUUUHHHHHHHHH....AHHHHHHH..." teriak Vani melampiaskan rasa
nikmat yang tiba-tiba meledak dari memeknya. Ethan merasakan semburan
hangat pada tongkolnya dari dalam memek Vani. Karena Ethan tetap
mengocokkan kontolnya, bahkan lebih cepat ketika Vani mencapai
klimaksnya, Vani bukan saja dilanda satu orgasme, melainkan beberapa
orgasme sekaligus bertubi-tubi.
"OAHHH...OHHH....UUUHH..KOK..KOK..
KLUAR TERUSSS NIIIHHH..." erang Vani dalam klimaksnya yang berkali-kali
sekaligus. Hal ini membuat Vani berada dalam kondisi extacy dalam 30
detik lamanya. Badan Vani berkelonjotan, air pejunya muncrat keluar dari
dalam memeknya. "Gilaa..enak bener than... gue sampe keluar
berkali-kali" ujar Vani agak bergetar karena Ethan masih dengan nafsunya
mompain memek Vani. "Hehehe demen banget liat lo keluar kaya gitu Van.
Betul-betul nafsuin. Tapi ini baru setengah jalan. Gue bikin lo lebih
kelonjotan lagi. Gue kentot lo sampai peju lo keluar semua" kata Ethan.
Vani
hanya bisa merutuk dalam hati, karena memang dia merasa keenakan
dientot Ethan dengan cara sekasar itu. Kemudian Ethan membalik tubuh
Vani agar terlentang dan bersandar di jok belakang. Kedua kaki Vani
diangkat dan mengangkang lebar sehingga Ethan bisa dengan jelas melihat
memek Vani yang chubby itu berleleran dengan peju Vani. "Than, udahan
dulu ya. Gue lemes banget" Vani terengah-engah minta time-out. Tapi
bukan Ethan namanya kalo nurutin kemauan si cewek. Bagi Ethan, si cewek
harus digenjot terus sampai betul-betul lemes, baru disitu si cewek
dapat klimaksnya yang paling hebat. Tidak pedulian rengekan Vani, Ethan
langsung mengarahkan kontolnya ke memek Vani yang menganga, dan langsung
BLEESHH..!! Dengan mudahnya memek Vani menelan kontol Ethan.
"Hmmffpp..sshiitt.."
Vani cuma bisa mengumpat perlahan karena tiba-tiba saja (lagi) kontol
Ethan sudah amblas kedalam memeknya. Ethan langsung menggenjot Vani
dengan kecepatan tinggi. SLLEPP...SLEEPP... SLLEPPP...SLEPP.... kontol
Ethan keluar masuk memek Vani dengan cepat. Vani yang sudah lemes dan
kehabisa energy, tiba-tiba mulai merasakan sensasi horny lagi. "Oh
shit..gue kok horny lagi. Lagi-lagi memek gue minta digaruk shhhh.."
mengumpat Vani dalam hati. Ethan yang kini berhadapan dengan Vani, bisa
melihat perubahan mimik muka Vani yang dari lemes dan ogah-ogahan,
menjadi mimik orang keenakan dan horny abis. "Hehehe gue kata juga apa.
Elo memang harus dikentot terus, dasar memek lonte" ujar Ethan sambil
terus memompa memek Vani. Kedua tangan Ethan kini bertelekan di toked
Vani, dan meremasnya seperti meremas balon.
"AAHH...AHH...AHH..EEMMPPHH....EKKHH...."
erang Vani yang merem melek keenakan dientot. Kali ini tidak sampai 5
menit, seluruh otot tubuh Vani sudah mengejang. Kedua tangan Vani
memeluk dan mencakar punggung Ethan kuat-kuat. Lenguhan yang keluar dari
mulut Vani semakin keras.
"HOUUUHH....HOOOHH....UUUGGHHH...ENNAAKKKKK..TERUS SS THANN.... GENJOTTT TERUSS.... GUE AMPIIRR NEEHHH........".
"Woe,
lonte, lo udah mo keluar lagi? Tunggu gue napa" damprat Ethan tapi
tetapi malah mempercepat genjotannya. Tanpa dapat dihalangi lagi, memek
Vani kembali berkedut-kedut keras dan meremas-remas kontol Ethan yang
berada didalamnya. Diiringi pekikan keras, Vani mencapai klimaksnya yang
kesekian.
"AAGGGHHHHHHHHHHHHH....................GUE KLUUAARRR ........".
Vani
merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa itu lagi, dan seluruh
tulangnya serasa diloloskan. "Hhhh.....enak bangetttttt. Lemes banget
gue" membatin si Vani. Melihat Vani yang sudah keluar lagi, kali si
Ethan agak kesal karena dia sebenernya juga sudah hampir keluar. Tapi
kalo si cewek sudah nggak binal lagi, si Ethan merasa kurang puas.
"Sialan, lo Van. Main keluar aja lo. Kalo gitu gue entot diluar aja lo.
Di sini sempit banget".
Maka Ethan langsung membuka pintu mobil,
keluar dan menarik Vani keluar. "Eh..eh.. apa-apaan ni Than. Gue mo
dibawa kemana?" tanya Vani lemes. "Kaki gue lemes banget Than, susah
banget berdiri" tambah Vani. Ethan langsung bopong Vani keluar dari
mobil. Langsung dibawa kedepan mobil. Lantas badan Vani ditenkurapkan di
kap depan BMW-nya.
Posisinya betul-betul merangsang. Pinggang ke
atas tengkuran di kap mobil, dengan kedua tangan terpentang. Kedua kaki
Vani yang lemes menjejak tanah, dibuka lebar-lebar pahanya oleh Ethan.
Vani jengah sekali karena kini dia bugil di tempat terbuka. Siapa saja
bisa melihat mereka. "Than, balik dalam lagi aja yuk" ujar Vani sambil
berupaya berdiri. Tapi dengan kuatnya tangan Ethan menahan punggung Vani
agar tetap tengkurap di kap mobil, sehinggu pantatnya tetap nungging.
"Kan gue udah bilang, gue bakal kentotin lo sampai habis peju lo Van"
ujar Ethan yang nafsunya makin berkobar melihat posisi Vani.
Hawa
dingin malam malah membuat Ethan merasa energinya kembali lagi. Kedua
tangan Ethan meremas bongkahan semok pantat Vani, dan membukanya
sehingga memek Vani yang masih berleleran peju ikut membuka. Ethan
langsung melesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Vani. "AHHHH..."
pekik Vani tertahan.
Kali ini Ethan betul-betul seperti
kesetanan. Tidak ada gigi 1, atau 2, bahkan 3. Langsung ke gigi 4 dan 5.
Genjotan maju mundurnya dilakukannya sangat cepat, dan ketika
menusukkan tongkolnya dilakukan dengan penuh tenaga. PLAK PLAK PLAK PLAK
PLAK..bunyi pantat Vani yang beradu dengan badan Ethan semakin keras
terdengar. "GILAA...ENAKKK BANGET NIH memekKK....." Ethan mengerang
keenakan.
Tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kepala
Ethan mendongak ke atas, keenakan. Vani yang mula-mula kesakitan, mulai
terangsang lagi. Entah karena kocokan Ethan, atau karena sensasi
ngentot di areal terbuka seperti ini. Perasaan seperti dilihat orang,
membuat memek Vani berkedut-kedut dan gatel lagi. Maka lenguhannya pun
kembali terdengar.
"OUUHHH....HHHMMFFPPPPP....OHHH..UOOHH...ENAK..ENA K..ENAAKKK...." Vani meceracau.
Mendengar
lenguhan Vani, Ethan tambah nafsu lagi "Ooo.. lo demen ya dikentot
kasar gini ya Van..Gue tambahin lagi kalo gitu" kata Ethan dengan nafas
memburu. Jari-jari Ethan tetap mencengkram bongkahan montok pantat Vani,
tapi bedanya kedua jari jempolnya dilesakkan kedalam lubang pantatnya.
Dan digerakkan berputar-putar didalamnya. Lubang pantat Vani adalah juga
merupakan titik sensitif bagi Vani, sehingga mendatangkan sensasi baru
lagi. Apalagi 2 jari jempol yang langsung mengobok-oboknya. Vani makin
blingsatan dan makin heboh lenguhannya.
"GILAA LO THAN...UUHHHHHH.. UHH..UHH.. OUUUUUUHHHHHHH.....!
Vani
sudah tidak bisa berkata-kata lagi, cuma lenguhan yang kluar dari
mulutnya. Ethan tidak sadar bahwa setelah hampir 10 menit mengocok Vani
dari belakang, Vani sudah dua kali keluar lagi. Vani yang sudah agak
lewat sensasi orgasmenya, mulai menyadari bahwa gerakan Ethan mulai
tidak beraturan dan tongkolnya jadi membesar. "Oh shit, Ethan mo keluar.
Pasti dia pengen nyemprot dalam memek gue. Harus gue cegah" pikir Vani
panik. Tapi, pikiran tinggal pikiran. Badan Vani tidak mau diajak kerja
sama. Mulutnya meneriakkan "THAAN, JANGAN NGECRET
DIDALLAMM....PLEASEE!!!". Tapi Ethan yang memang sudah berniat
menyemprotkan pejunya dalam memek Vani, malah semakin semakin semangat
menggenjot dalam-dalam memek Vani. Vani sendiri karena memeknya semakin
disesaki oleh kontol Ethan yang membesar karena hendak ngecret, jadi
terangsang lagi dan langsung hendak ngecret juga.
Maka, ketika
Ethan mencapai klimaksnya, tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat,
dan kontolnya ditekan dalam-dalam dalam memek Vani, Ethan meraung keras.
"HMMUUUUAHHHHH....AAHHHH" cairan peju hangat Ethan menyemprot
berkali-kali dalam liang memek Vani. Vani pun bereteriak keras "
OUUUAAHHHH....GUE KELUARRRRR...." dan pejunya pun ikut muncrat lagi.
Kedua
mahluk lain jenis itu berkelonjotan menikmati setiap tetes peju yang
mereka keluarkan. Cairan peju Ethan dan Vani berleleran keluar dari
sela-sela jepitan kontol & memek Vani. Banyak sekali cairan yang
keluar meleleh dari memek Vani turun ke pahanya.
Ethan puas
sekali bisa menembakkan pejunya dalam memek cewek sesexy Vani. Apalagi
si Vani ikutan keluar juga. "Komplet dah" pikir Ethan. Karena lemas,
Ethan ikut tengkurap, menindih tubuh Vani di atas kap mobil. kontolnya
yang mulai mengecil, masih dibiarkan di dalam memek Vani. Sedang Vani
sendiri, masih memejamkan mata menikmati setiap sensasi extasy
kenikmatan orgasme yang masih menjalarinya seluruh tubuhnya. Belum
pernah ia ngentot sampai keluar lebih dari 4 kali seperti ini. Apalagi
sebelumnya dia sempat menolak. Rasa tengsin dan malu mulai menjalar
lagi, setelah gelombang kenikmatan orgasmenya memudar.
Ethan yang
masih menindihnya berkata "Hehehe enak kan. Gue demen banget ngentot
sama lo Van. Betul-betul binal & liar. Memek lo ga ada matinya,
nyemprot peju mulu" kata Ethan seenaknya. Vani cuma bisa diam dan
ngedumel dalam hati. "Udah, bangun lo. Anter gue pulang sekarang.
Berlebih banget nih gue bayarnya" ujar Vani ketus. "Heheh ok..ok gue
udah dapet apa yang gue mau. Sekarang gue anter lo pulang" balas Ethan.
Ethan
pun bangun dari punggung Vani dan beranjak ke pintu mobil dan mulai
memakai pakaian dan celananya. Tapi kemudian dia heran, kok si Vani
masih tengkurapan aja di kap mobil. "Hei, katanya mo pulang. Kok masih
tengkurapan aja" tanya Ethan. Vani tidak menjawab, hanya terdenger
dengusan nafas saja. Ketika Ethan menghampiri, terlihatlah betapa
merahnya muka Vani, karena menahan malu. "Than, bantuin gue bangun dong.
Kaki gue lemes banget. Selangkangan gue rasanya kaya masih ada yang
ngganjel" ujar Vani malu-malu. "Hahaha...KO juga lo ya, cewe paling
bahenol di kampus" tawa Ethan membahana. Bertambahlah merahlah muka si
Vani. Ketika mau bopong Vani, tiba-tiba pikiran mesum Ethan keluar lagi.
Dikeluarkanlah HP-nya yang berkamera. Ethan ambil beberapa shot posisi
Vani yang mesum banget itu plus dua close up memek Vani yang berleleran
peju.
Karena Vani memejamkan mata untuk mengatur nafas, dia tidak
sadar akan tindakan Ethan. Akhirnya Ethan kasihan juga, tubuh Vani
dibopong masuk kedalam mobil. Bahkan dibantuin memakai pakaian dan
roknya lagi. Tapi ketika Vani meminta panty-nya, Ethan berkata "Ini buat
gue aja. Kenang-kenangan. Lo ga usah pake aja. Memek lo butuh udara
segar kelihatannya, habis tadi gue sumpalin pake kontol gue terus".
"Sial lo Than. Ya udah, ambil dah sana" ketus Vani.
Vani langsung
tertidur di kursi mobil. Baru terbagun ketika mobil Ethan sudah sampai
di depan pagar kos-kosan Vani. "Lo bisa jalan ga Van? Kalo masih lemes,
gue papah deh masuk ke kamar lo. Itung-itung ucapan terima kasih sudah
mau ngentot ama gue malam ini hehe" kata Ethan nakal. Vani tidak bisa
menolak tawaran itu, karena memang dia masih merasa lemas dikedua
kakinya. Maka Ethan pun memapah Vani berjalan menuju kosnya.
Kamar
Vani ada di lantai 2. Kamar-kamar di lantai 1 sudah pada tertutup
semua. Tidak ada penghuninya yang nongkrong di luar. Diam-diam Vani
merasa lega. Apa kata orang kalo dia pulang dipapah seperti ini. Kalo ga
dibilang lagi mabok, bisa dibilang yang enggak-enggak lainnya. Tapi
sialnya, ketika dilantai 2 mereka berpapasan dengan si Mirna yang baru
dari kamar mandi. Mirna yang selama ini jealous dengan kesexy-an Vani,
perhatiin Vani dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tiba-tiba si
Mirna ketawa sinis "Napa lo Van". "Sedikit mabok Mir" jawab Vani
sekenanya. "Mabok apa lo? Mabok peju kelihatannya" kata Mirna nyelekit
sambil mandangi paha Vani. Reflek Vani nengok kebawah, betapa kagetnya
Vani, karena dia baru sadar tadi belum bersihin leleran peju Ethan dan
pejunya sendiri. Lelehan peju mengalir dari dalam memek Vani, sampai
lututnya. Cukup banyak, sehingga kelihatan jelas.
PIASS! Muka Vani langsung memerah. Vani langsung berpaling, sedang Mirna terkekeh senang.
"Kalo
elo kelihatannya malah kekurangan peju neh. Mana ada cowo yang ikhlas
kasi pejunya ke cewe kerempeng kayo elo?" tiba-tiba Ethan nyeletuk
pedes. Muka Mirna berubah dari merah, kuning sampai jadi ungu.
"Heh, gue juga punya cowok yang mau ngentot sama gue tanpa gue minta" balas Mirna ketus.
"Nah,
berarti kan lo bedua sama, sama-sama butuh kontol & pejunya. Napa
saling hina. Urus aja urusan lo masing-masing, dan kenikmatan lo
masing-masing. Ga usah saling sindir" tandas Ethan.
Mirna
langsung terdiam, dan ngloyor masuk dalam kamarnya. Vani sedikit
terkejut, ga nyangka kalo si bejat Ethan bisa ngomong cerdas seperti
itu. Betul-betul penyelamatnya. Setelah ditidurkan di ranjangnya Ethan
pamit "Gue cao dulu ya Van. Thanks buat malam ini. Betul-betul sex yang
hebat. Baru kali ini gue ngrasain. Kalo lo pengen, call gue aja ya.
kontoll gue selalu siap melayani hehe". "Enak aja. Ini pertama dan
terakhir Than. Kapok gue naik mobil lo" balas Vani pedas.
Ethan
cuma tertawa saja, lalu berbalik menutup pintu dan pergi. Sebenarnya
Vani merasakan hal yang sama dengan Ethan, betul-betul sex yang luar
biasa malam ini. Vani ragu-ragu, bila Ethan ngajak lagi, emang dia bakal
langsung nolak. Kok ga yakin ya? Sialan maki Vani pada diri sendiri.
Sekarang gue butuh tidur. Dalam sekejap Vani langsung terlelap, tanpa
berganti pakaian.
========================================
Sudah
setengah jam ini suara dengusan nafas yang memburu dan lenguhan penuh
birahi terdengar sayup-sayup dari sebuah kamar kos di bilangan Jakarta
Selatan. Suaranya tentu saja lebih heboh dan tidak beraturan bila di
dalam ruangannya sendiri. Ethan sedang nafsu-nafsunya menggenjot Dea,
anak Psikologi semester 5, dengan posisi Missionaris. Tangan kiri Ethan
menjambak rambut Dea, tangan kanannya sibuk meremas tak karuan toked Dea
yang bulat kencang, dengan pinggul sibuk menggenjot naik turun. "Aahh..
ahh... egghh.. Thann.. janghan kenceng-kenceng ngocoknyaaa... Gue..
gue.. jadi mau kluarr lagiiii...." rengek Dea yang sudah kelelahan.
Tapi, Ethan malah memutar-mutar pantatnya sehingga batang kontholnya
semakin ganas mengobel-ngobel mhemek sempit si Dea. "Akh.. mhemek lo
masih ngremes-ngremes konthol gue gini kok. Nih.. rasainn.." tukas
Ethan. Benar saja, tak sampai semenit Dea sudah merasakan sensasi gatal
mau meledak di sekujur selangkangannya. Sambil memeluk erat (plus
cakaran di punggung), lenguhan klimaks Dea terdengan:"MMMHHHHH...
HUUAGGHHH...EUUHHHH... FUCCKK...". Dea kelonjotan, kepalanya mendongak,
seluruh tubuhnya menegang karena sensasi kenikmatan yang membanjiri.
"Gimana rasanya keluar yang ke-5 ini De?" tanya Ethan iseng. Masih
megap-megap, Dea nyahut "Setan lo Than. Gila, gw sampai melengkung
gara-gara orgasme". "Tapi enak kan.. hehehe" balas Ethan. "Iya sih" kata
Dea dalam hati.
Tiba-tiba si Dea sadar sesuatu. Benda yang tebal
besar masih mengganjal dalam mhemeknya. "Eh, Than, lo blum kluar ya?"
tanya Dea khawatir. "Dikit lagi ya Yang" ujar Ethan sambil mulai
mengeluar-masukkan kontholnya. "Hiya.. cepetan than" desah Dea lemas.
Ethan memutar tubuh Dea, menginginkan posisi semi Doggy. Sambil memeluk
guling, Dea mengangkat pantatnya yang bulat tinggi-tinggi sambil membuka
pahanya lebar-lebar. Cengiran lebar Ethan muncul, melihat posisi yang
konak habis. Mhemek Dea sudah basah kuyup dan warna pink-nya semakin
semburat. Tanpa tedeng aling-aling, Ethan langsung membenamkan 3/4
kontholnya dan langsung masuk RPM tinggi. SLEP..SLEP..SLEP.. suara
kecipak cairan birahi mhemek Dea hanya ditutupi oleh lenguhan Dea yang
birahinya naik lagi. "Mulut aja lo ngomong cukup-cukup. Tapi kalo gw
enthot, tetep aja lo demen" ejek Ethan. Tapi, gerakan genjotan Ethan
sendiri semakin cepat dan tak karuan. Ujung pal-konnya sudah
berdenyut-denyut. Sensasi gatal yang menuntut untuk di'garuk' semakin
memuncak. "Hh..hhh...hahh...." dengus Ethan yang semakin bernafsu.
"Thannn.. jangan di dalem keluarrnyaaa..." rengekan desperate Dea
terdengar. Tapi, Dea sendiri sebenarnya sadar kalo si Ethan pasti akan
ngeluarin di dalam. Ga ada tanda-tanda dia bakal nyabut kontholnya. Dea
merasakan konthol yang semakin membengkak di dalam mhemeknya. Membuat
Dea semakin blingsatan dan mau orgasme lagi.
"HIIAAHHHH......AUUUUUUUUHHHHHHHHHHH..."
jeritan klimaks Dea membahana. Ethan juga tidak mau kalah. Sambil
meremas kuat-kuat pantat Dea, Ethan menancapkan dalam-dalam kontholnya
untuk membanjiri mhemek Dea dengan pejunya. "HUAHHH... ENNAKKKNYAA..."
lenguh Ethan penuh kepuasan. Tulang-belulang serasa diloloskan dan
lemas. Tapi, puasss. Setelah itu, Ethan langsung menindih tubuh Dea yang
banjir keringat (dan banjir peju tentunya). Berbisik di telinga Dea
"Gila, emang mantep banget ngenthot same elu pagi-pagi gini Dea". Dea
cuma tersipu, tapi membales dengan agak ketus "Iya, tapi gue harus minum
pil KB lagi. Males tau". "Hehehe.. ahh kan ga sebanding dg nikmatnya.
Eh, Gue cabut dulu ya. Ada kuliah sejam lagi" kata Ethan. Tapi Dea tidak
membalas, karena sudah jatuh tertidur. Lemesss... Sambil-sambil
cengar-cengir puas, Ethan mandi dan bersiap-siap cabut dari kos Dea.
Sebelum berangkat, Ethan menikmati pemandangan tubuh bugil Dea yang
tertidur pulas. Dea anak Bogor dengan tubuh cukup mungil (cuma 158cm
tingginya), tapi punya pantat bulat dan kencang. Tokednya yang kencang
dan bulat (34B), terlihat besar karena tubuhnya yang mungil.
"Lumayanlah.. Gratis ini" batin Ethan. Dan meluncurlah Ethan ke
kampusnya di kisaran Jakarta Selatan juga.
Nafsu sudah
tersalurkan, badan bersih habis mandi, pikiran Ethan jernih dan rasanya
siap hadapi kuliah Pak Marto. Jalanan Jakarta pukul 9 sudah macet. Tapi,
Ethan tenang saja karena kuliahnya baru mulai jam 10. Paling jam 9.45
sudah sampai. Masih sempat kongkow-kongkow dulu di kantin. Kali-kali ada
cewek bening yang nyantol wkwkwkwk. Kampus S sudah ramai. Berbagai
macam mahasiwa dan mahasiswi sibuk berkeliaran di koridor atau berkumpul
duduk-duduk di plasa. Mata Ethan cepat menyisiri areal kampus,
mencari-cari teman-temannya. "Yeh, itu dia anak-anak kampret" batin
Ethan sambil berjalan cepat ke pojok plasa. Roy yang melihat si Ethan
menghampiri, langsung bangkit dan menonjok Ethan. Sambil memiting leher
Ethan, Roy berbisik "Setan kampret! Lo habis garap si Dea anak psikologi
kan? Gue liat lo semalem di Kemang". Senyum tulus Ethan langsung terbit
"Eh, kok lo tau. Cuma sekali semalem, sekali lagi paginya kok. Dan gw
jamin, dienya puas. Lo tenang aja sob." imbuh Ethan. Jepitan Roy semakin
keras "Bukan itu maksud gue buduk! Gue juga ngincer diaaa..!" Mimik
memelas Ethan langsung muncul "Aduh sory SOb. Gue betul-betul ga tau.
Lagian ini semua salah si Dea. Ngapain pake tank top pas minta temenin
Gue nyari buku kemarin. Ya mana tahan gue." Roy jelas-jelas tidak terima
dengan penjelasan Ethan yang tidak bertanggung jawab "Pokoknya, ntar
sore lo harus makcomblangin gw ama die. Gue udah pengen ngremes
bokongnya dari kapan tau." Demi menyelamatkan kepalanya, Ethan dengan
suka cita menyetujui permintaan Roy. Begitu Ethan setuju, cengir lebar
Roy langsung muncul. "Jago ga dia, Than? Males gue kalo masih amatir"
tanya Roy antusias. "Lumayan Sob. There're still room for improvement.
But overall, she's GOOD!" balas Ethan sambil acungin jempol. Sambil
terkekeh-kekeh penuh aura mesum, kedua penjahat kelamin itu melangkah
menuju kelas, karena Pak Marto sudah terlihat di ambang pintu.
Setelah
1 mata kuliah lainnya yang selesai pukul 4 sore, Ethan & Roy
berjalan cepat penuh nafsu (Roy aja sih. Ethan sedikit kurang
termotivasi jalan ke Fak Psikologi karena kurangnya insentif buat
dirinya). Di koridor menuju areal parkir mereka berpapasan dengan cewek
berambut pendek brunette yang sexy. "Hai Vani.." sapa Ethan berusaha
semanis mungkin. Tapi, tetap dengan nuansa mesum. Vani yang hari itu
memakai halter neck ungu tanpa lengan dengan celana jeans skinny gelap
sehingga pantatnya yang montok tercetak jelas malah hanya meleletkan
lidah ke arah Ethan sambil berlalu cuek "Wuiihh... Than, lo lihat ga?
Perasaan tokednya Vani makin gede aja. Aduuhh.. gue mau bayar berapa aja
biar bisa ngremesin tu melon" ratap Roy penuh harap sambil terus
memandangi pantat Vani yang megal-megol menjauh. "Emang mantep &
kenyal banget toked tuh anak" ujar Ethan. Si Roy langsung memandang
Ethan tajam "Kaya lo pernah megang aja. Gue aja ditolak dengan sukses
pas ngajak di nge-date. Gue bayarin lo full time di ******** kalo lo
bisa bawa Vani ke tempat tidur" tantang Roy. Ethan langsung semangat
"Bener ya? Awas lo, jangan kabur lo ya". "IYA. Roy ga pernah ingkar
janji kecuali ke cewek" balas Roy dengan jantannya. Ethan cengar-cengir
senang. Dia ga pernah cerita ke Roy storynya dengan Vani. Walo dalam
hati Ethan agak ga yakin gimana caranya ngajak Vani ngenthot lagi. Sejak
itu si Vani jaga jarak dan sok cool gitu kepada Ethan. "Ya udahlah.
Dipikir nanti aja. Sekarang beresin urusan si kupret satu ini dulu
dengan Dea" batin Ethan.
Di Fak Psikologi suasana sudah mulai
lengang. Cuma ada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang berkeliaran untuk
ikut kuliah terakhir hari itu. Tiba-tiba terdengar teriakan manis
memanggil Ethan "Ethaannnnn....". Sesosok cewek manis berlari kecil
menuju Ethan & Roy. Melihat Dea datang, Roy langsung meremas tangan
Ethan kuat-kuat. Yang ditepiskan dengan kasar oleh Ethan. "Ngehek. Apa
pikiran orang kalo lihat dua cowok tinggi besar pegang-pegangan tangan
di tempat umum?" bisik Ethan seVan. Begitu menemui Ethan, Dea langsung
dengan centilnya menggandeng tangan Ethan. "Jadi kan temenin gue
Supermarket?" tanya Dea. Sikutan keras terasa di rusuk Ethan. Ethan
langsung tanggap "Wah sory Dea. Gue ga bisa. Mendadak bokap minta
dianterin ke Bintaro. Sory banget ya." Dea langsung cemberut "Yahhh, kok
gitu sih lo". "Tapi tenang neng... Temen gue yang ganteng ini bersedia
untuk nganterin" ujar Ethan cepat-cepat sambil menepuk-nepuk bahu Roy.
"Ya udahlah" terima Dea pasrah. Roy hampir melonjak kegirangan. "Tapi
awas kalo lo coba-coba ngajak gue ke tempat tidur" ancam Dea ke Roy.
"Eh.. nggak lah" jawab Roy salah tingkah dan bingung (Lah rugi dong gue,
kali pikir si Roy). Dea ngomong lagi "Eh, tapi anterin gue balik kelas
bentar ya. Ada yang mo gue ambil". Mereka bertiga beriringan menuju
kelas Dea.
Di kelas, Dea langsung menghampiri seorang cewek yang
masih sibuk dengan HPnya. Mata Ethan & Roy langsung membesar melihat
itu cewek. "Buseeettt.... hot juga yaa..." pikir mereka berdua dengan
sinkronnya. Dengan berlari centil, kedua cowok mesum ini langsung
menghampiri Dea dan temannya. "Don, ini gue kenalin sama Ethan &
Roy. "Hai Donna" sapa Ethan & Roy kompak. Donna memang one hell of a
equipment. Ketika Donna berdiri untuk menyalami kedua mahkluk
menyedihkan itu, Ethan bisa menikmati seluruh lekuk tubuhnya. Dengan
tinggi hampir 175cm, tubuhnya yang berlekuk indah jadi makin menawan.
"Hmm bodynya OK banget. Tokednya paling 34-an. Tapi, kelihatannya
mancung" terawang Ethan sambil curi-curi pandang ke toked Donna yang
tidak terlalu jelas terlihat karena Donna menggunakan kemeja putih agak
longgar lengan panjang yg dilipat sampai ke siku. Wajah oval Donna lebih
ke manis dan menyenangkan, timbang dibilang cantik. "Tapi, dengan body
se-hot , tampang udah jadi no3" batin Ethan. Suara Dea membuyarkan
pikiran mesum Ethan. “Don, kita perginya jadinya sama si Roy. Ethan ada
urusan sama bokapnya di Bintaro”. “O gitu. Yaudah, bisa kita pergi
sekarang” Tanya Donna. “Eh, Donna juga ikut?” Tanya Ethan kaget. “Iya.
Nyesel sekarang lo batal antar gue?” sepet Dea pedes. “Agak sih” kata
Ethan polos. Donna tertawa kecil mendengarnya. “Aduuhh.. jadi tambah
nggemesin ni anak kalo ketawa” batin Ethan. “Tapi tengsin gue kalo narik
kata-kata gue. Lagian ga enak sama si Roy. Moga-moga aja si Donna ga
tergoda threesome sama kupret ini” doa Ethan dalam hati. Mereka pun
berpisah.
Ethan menyetir mobilnya santai menuju kostnya di daerah
Cilandak. Walopun bonyok anak ini tinggal di Jakarta juga, sejak kuliah
Ethan sudah ngekost. Bonyoknya juga tidak mempermasalahkan. Toh kalo
kehabisan duit ni anak juga pulang, pikir mereka. Lagian mereka juga
sebel liatin tingkah Ethan nyelundupin cewek-cewek ke kamarnya. Dipikir
kita-kita ga tu kali ya, pikir bonyoknya. Jadilah Ethan ngekost, pisah
tinggal dari bonyoknya. Everybody happy. Mampir warung padang untuk
makan, 45 menit kemudian Ethan sudah di jalanan lagi. Tiba-tiba HP Ethan
berdering. Nyokapnya telepon. “Than, mampir ke Ace hardware dong.
Beliin mama curtain showare yang baru. Plus Selang semprotan buat toilet
juga. Yang warna.hitam ya selangnya, biar matching sama toiletnya” ujar
Mamanya Ethan genit. “Lha, napa ga minta pak Sudin aja Ma yang beli”
Ethan menyebut nama sopir keluarga mereka. “Pak Sudin nganterin Papa ke
Bintaro lihat ruko yang mau dijual itu”. “[i]Eh kok bisa pas ya Papa ke
Bintaro hari ini” Ethan ga habis pikir. Berbaliklah mobil Ethan menuju
Ace Hardware Fatmawati.
Sesampainya di Ace Hardware, Ethan
langsung naik ke lantai 3 menuju tempat dijualnya peralatan untuk kamar
mandi dan toilet. Tapi di lantai 2, mata & radar Ethan yang awas
menangkap gerakan mahkluk sexy. “Weh, kayaknya boleh nih. Tapi kok gw
kaya kenal nih cewek”pikir Ethan sambil berjalan menghampiri seorang
cewek yang sedang melihat-lihat lampu duduk. “Lho, Donna. Ngapain lo
disini? Bukannya mo ke Carrefour?” Tanya Ethan surprise. Donna agak
kaget, tapi senyumnya langsung mengembang melihat Ethan (pada saat yang
sama konthol Ethan juga mulai mengembang). “Udah tadi. Sekarang gue lagi
nyari lampu hias buat di rumah. Nyokap nyuruh. Dea juga lagi nyari
kursi malas kecil buat di kost” kata Donna ramah. Ethan tidak berkedip
memandang bibir Donna yang penuh dan sensual, yang menelurkan kata demi
kata dengan indahnya. “Aduhh, bisa ga ya gue nidurin si Donna” harap
Ethan sepenuh hati dan sepenuh konthol. Akhirnya Ethan menemani Donna
memilih-milih lampu, kemudian mereka berdua menuju bagian peratalan
mandi. Sepanjang waktu itu Ethan mulai menebarkan jurus-jurus andalannya
agar si Donna terpikat. Tapi, Ethan merasa Donna masih anteng-anteng
aja. Tiba-tiba ucapan Donna berikutnya mengagetkan Ethan “Than, lo aja
yang nganterin gue pulang ya”. “Lah, emang napa sama si Roy & Dea”
Tanya Ethan antusias (yang masih berusaha ditutup-tutupi ambisinya). “Lo
liat aja sendiri deh” kata Donna sambil menarik tangan Ethan ke pojok
lantai 2 yang sepi. “Waow.. waow.. agresif juga ne cewek” sorak Ethan
dalam hati. Dipojokan rak-rak yang tinggi, Ethan baru sadar makna ucapan
Donna. Di situ Ethan melihat si Dea bergelayutan ke lengan Roy. Sedang
tangan Roy dengan aktifnya meremas-remas pantat sekal si Dea. Bahkan
kadang-kadang jari tengahnya kaya menekan-nekan di area lubang
pantatnya. Membuat Dea menggelinjang-gelinjang dan membalas dengan
gigitan kecil ke lengan Roy. “Busyet. Jago amat si Roy. Ilmunya naek
setingkat lagi neh. Dulu butuh minimal 2 hari buat nidurin cewek.
Sekarang itungin jam, udah bisa remes-remes bokong. Kampret! Gue jadi
makin konak neh” runtuk Ethan dalam hati. “Ya gitu itu. Mereka bedua
udah kaya gitu semenjak di Carrefour” ucap Donna agak sebel. “Bentar
lagi gue rasa kepala si Roy udah nyusup ke selangkangan si Dea” analisis
Ethan dengan tajam. “Hihihi.. gue setuju Than” balas Donna terkikik
kecil. “Eh, tadi mukanya agak merah ya si Donna?” harap Ethan. Ethan
mendekati kedua pasangan yang sedang di mabuk birahi itu. Kemudian
dengan kasarnya ditaboknya si Roy. “Woi, cari kamar napa?” sentak Ethan.
Gelagepan si Roy dan Dea cepat-cepat ambil jarak. “Anjrit lo Than!
Ngagetin aja” tukas Roy yang lega cuma Ethan yang nge-gap tingkah
mereka. Dea juga membalas dengan menghadiahi Ethan cubitan bertubi-tubi.
Donna langsung berkata “De, gue pulang bareng Ethan ya. Kasian kalo Roy
nganter gue dulu. Kan muter lagi arahnya ke kos lo”. “Ya udahlah kalo
gitu. Sorry ya Don”. Kemudian Dea berpaling ke Ethan “Lo gapapa kan
nganter Donna? Eh, btw ngapain lo dimari?” Tanya Dea curiga. “Nyokap
minta dibeliin curtain shower” jawab Ethan cepat. Selanjutnya mereka
berempat langsung menuju kasir dan setelahnya langsung bergegas ke mobil
masing-masing.
“Asyiikkk… Gue punya kesempatan untuk deketin
Donna. Kalo emang jodoh, ga akan kemana hihihihi” pikir Ethan bahagia.
Tapi, baru aja mau memundurkan mobil, Roy tiba-tiba menggedor jendela
Ethan. ”Sob, sorry banget. Lo keliatannya harus nganterin kita bertiga
deh. Boil gue mogok” kata Roy tanpa beban. “Bangsat lo Roy” desis Ethan
kesal setengah konak. “Tunggu 15 menit ya, sampe derek bengkel gue
datang” tambah Roy. 20 menit kemudian mobil Ethan baru meluncur keluar
dari Ace Hardware. Tampang Ethan tertekuk. Buyar sudah semua rencananya.
Mana kedua mahkluk itu terkikik-kikik mesum di jok belakang. Bikin
Ethan ga tahan bolak-balik noleh belakang. “Buseett.. udah mulai cipokan
aja” runtuk Ethan. Di jok belakang, Roy sudah mulai gencar menyerang
pertahanan Dea, yang memang ga bikin pertahanan sama sekali. Bibir Roy
yang agak tebal sudah melumat bibir mungil Dea. Kadang Roy
menggigit-gigit kecil bibir bawah Dea sehingga membuat Dea
terkikik-kikik. Tangan kiri Roy sudah masuk dari bawah t-shirt Dea dan
sibuk meremas-remas toked Dea yang bulat kencang itu. Tawa kecil Dea
berubah menjadi dengusan nafas yang memburu, ketika Roy mulai
memilin-milin puting Dea sambil menjilati lehernya.
“Woe, lo
bedua bisa ga nahan sampe kos dulu?” Tanya Ethan tanpa harapan. “Udeh lo
nyetir aja Pir. Jangan pikirin kita bedua. “ jawab Roy seenaknya.
“Iyaah nih Ethan rese. Hhhhh.. uhhh” tambah Dea disela-sela desahannya.
“Don, lo servis Ethan napa..ehh..ahhh..” kata Dea lagi. Semburat merah
muncul di wajah Donna. “Enak aja lo ngomong” jawab Donna agak tengsin.
Tapi, Ethan yakin, pas ngomong gitu si Donna ngelirik dirinya (tapi
memang dasarnya nih orang super PD). Ketika Ethan menoleh ke arah Donna,
Donna langsung berkata tegas “Ga usah mikir macem-macem lo ya!” “Eh
nggak kok Don. Gue Cuma mikir gimana caranya biar cepet sampe dan cepet
lepas dari kedua mahkluk konak di belakang” jawab Ethan innocent. “Iya
nih. Dasar Dea geblek” runtuk Donna sambil memanyunkan bibirnya.
Tapi
situasi di jok belakang semakin tidak terkendali. Desahan Dea sudah
berubah mejadi lenguhan liar. Ethan & Donna juga sudah mulai
mendengar bunyi berkecipakan becek. Slep.. slep.. slep… “Auuhhhh…
huaahhhhh.. ahhhhh.. ahhhh…” lenguh Dea yang keenakan mhemeknya dikocok
oleh Roy. Tangan Roy yang sudah menyelusup ke dalam celana Dea, dengan
aktif jari tengah & telunjuknya mengobel-ngobel mhemek Dea yang
rapat dan becek. Tendangan Dea tiba-tiba menghentak jok Ethan ketika
orgasmenya meledak. “EAAHHHHHHH… AGGHHHHHH…. GUE KELUARRRR…!!!” jerit
Dea penuh kepuasan. Cengiran lebar menghiasi wajah Roy. “Bangsat lo
bedua. Udah sampe neh. Sana keluar dari mobil gue. Sekaraangg..!!!
Bentak Ethan. Cepat-cepat Dea & Roy merapikan pakaian masing-masing
dan keluar dari mobil Ethan. Cengiran lebar keduanya mengiringi langkah
mereka menuju kamar kos Dea untuk menuntaskan apa yang mereka sudah
mulai.
Selama 10 menit Ethan dan Donna diam saja. Ethan bingung
mau mulai speak-speak dari mana, karena tingkah Roy-Dea tadi merusak
semua scenario yang sudah disusunnya. Donna juga keliatan masih agak
jengah. Jadi Ethan menyalakan radio. Mendengar lagu-lagu yang keluar, si
Donna jadi keliatan lebih relaks. Mereka mulai membicarakan lagu-lagu
yang sedang dimainkan. Tapi, ketika penyiar radionya mulai bicara,
topiknya ternyata tentang seksologi; tepatnya tentang multi orgasme pada
wanita, Ethan jadi panik lagi. Takut mood Donna jadi rusak. Ethan sudah
mau pindahkan gelombang, ketika tiba-tiba Donna berkata “Emang ada ya
cewe yang bisa orgasme sampe berkali-kali?” Ethan yang masih agak kaget
akan pertanyaan tersebut butuh 3 detik untuk bisa menjawab “Seingat gue,
sebagian besar cewek yang gue kenal kalo orgasme lebih dari 2 kali.
Termasuk multi kan tuh”. “Maksud lo cewek yang pernah lo tiduri?” tukas
Donna tangkas. “He-eh, iya. Gitu deh” jawab Ethan agak tersipu-sipu.
“Lah, emang kalo elo nge-sex sama cowo lo biasanya orgasme berapa kali”
Tanya Ethan polos. Dengan agak malu-malu Donna menjawab “Satu kali lah.
Biasanya hampir barengan ama cowo gue. “Lah emang pas foreplay ga
orgasme?” Tanya Ethan lagi. “Foreplay kan cuma bentar, gimana bisa
orgasme gue” tandas Donna heran. “Berarti bokin lo yang kurang sabar
nggarap lo di foreplay-nya. Pengen cepet-cepet nancepin batangnya” jawab
Ethan. “Lah, lo liat tadi, si Dea dikobel-kobel sama si Roy hampir 10
menit kan. Makanya tadi bisa sampe keluar gitu. Pake acara nendang jok
gue segala pula” kata Ethan masih agak seVan. “Bener juga ya. Gue ga
pernah mikir sampe situ. Iihhhh.. jadi horny nih” batin Donna. Mendengar
jawaban dan melihat reaksi Donna, Ethan langsung paham kalo nih cewek
pengalaman seksnya masih kurang. Atau paling nggak partner sexnya selama
ini pada kurang jago. Jadinya dia belum mengeksplore seluruh potensi
seksnya.”Hihihihi.. pasti bisa gue enthot si Donna” pikir Ethan dengan
bahagianya.
Tahap ke-1: Tunjukkan bahwa si cewek punya masalah
dengan kehidupan seksnya dan kita perhatian dan bersedia untuk
‘membantu’ untuk mengatasinya (pada tahap ini ‘bantuan’ sebatas saran
Bro. Begitu kata pakar mesum Dr. Ethan). “Nurut pengalaman gue ya Don,
dan dari artikel-artikel seksologi yang pernah gue baca, cewe itu lebih
susah capai klimaksnya dibanding cowok. Walo kaya Dea tadi dia udeh
keluar sekali. Tapi itu baru orgasme kecil. Si Dea belum capai
klimaksnya. Lah, kalo si Roy sudah maen tancep aja dari menit-menit
awal, bisa barengan mereka. Habis itu game over dah. Kasihan ceweknya.
Kalo cowok udah keluar, rata-rata butuh setengah jam lagi bisa ngaceng
lagi. Kebanyakan langsung molor” kata Ethan panjang lebar kaya ahli
beneran. “Iya, cowo gue kaya gitu tuh. Kalo udah puas, langsung molor”
saut Donna bersemangat. “Itulah sebabnya si cowok sebaiknya di
menit-menit awal permainan, merangsang ceweknya, kalo bisa sampe si cewe
orgasme. Fokus di daerah-daerah sensitif si cewek, Remas-remas
tokednya, pilin-pilin dan jilatin putingnya, gigit-gitiin perutnya,
mhemeknya dikobel-kobel” tambah Ethan lagi. “Iihh.. Ethan bahasanya
vulgar banget. Gue kan jengah” kata Donna malu. “Weh, sorry Don. Baru
sekali ini bahas kaya ginian sama cewek. Biasanya cuma antar cowok.
Makanya bahasanya ngaco gini. Gapapa ya. Biar gampang gue neranginnya“
Ethan menjelaskan (ini jelas-jelas bohong besar. Ethan malah seringnya
menjelaskan ini ke cewek yang lagi curhat dan pengen dilahap sama
Ethan). “Ya udah, tersera lo lah Than. Tapi, gue baru sadar kalo gue
bisa lebih menikmati ngeseks ya. Selama ini ada yang mengganjal setiap
gue habis ngeseks, ternyata gue belum klimaks kali ya” kata Donna agak
menerawang. “Yesss.. Tahap 1 clear” sorak Ethan dalam hati.
Tahap
ke-2: Kalo cewe merespon baik penjelasan di tahap 1 (ditunjukkan adanya
pertanyaan dan mengikuti alur penjelasan. Kalo si cewek cuek-cuek aja
atau malah berusaha mengalihkan topik, berarti penjelasan lo ga masuk di
hatinya . Rugi ajak kalo masuk ke tahap ke-2), kita bisa masuk ke tahap
ke-2, yaitu: mensimulasi situasi dimana si cewek mendapat treatment
seksnya yang menjadi solusi masalahnya. Disini cowok harus pinter-pinter
milih kata-kata dan intonasi (atau pitch control wkwkwk). Tapi inget
ya, kalo cewe target lo dasarnya berjiwa lonte ato matre, kagak perlu
sampe repot-repot begini. Ajak minum ato tawarin duit, langsung aja
coblos. Ini cuma buat cewek-cewek yang punya kelas. “Don, mau gue kasi
tips ga buat Lo dan cowok lo agar seks kalian lebih asyik lagi” Ethan
menawarkan. “Mau.. mau than..” sambut Donna agak kelewat bersemangat,
yang kemudian dia jadi agak malu sendiri. “Gini caranya, lo harus
bayangin apa yang gue katakan. Lo inget-inget sensasinya. Jadi lo bisa
lebih mudah njelasinnya ke cowok lo past nge-seks nanti. Si Donna tidak
sadar kalo laju mobil jadi jauh lebih melambat. “Pejemin mata lo Don.
Bayangin lo lagi bercumbu sama Cowo lo” Ethan memulai therapinya. “Eh
btw, lo paling demen di rangsang dimana sih” Tanya Ethan sok tanpa
tendensi. “Di susu gue Than” jawab Donna pelan dengan wajah memerah.
“Ok. Pejemin mata lo lagi. Bayangin bibir lo bedua sudah saling melumat.
Dia gigit-gigit bibir bawah lo. Lidahnya sekali-kali masuk ke dalam
mulut lo, dan mainin lidah lo. Tangannya mulai meremas-remas toked lo.
Awalnya pelan-pelan, terus semakin keras, semakin kasar. Putting lo di
pilin-pilin, dan sekali-kali ditarik.”. Donna yang memejamkan mata,
nafasnya mulai agak memburu. Dadanya naik turun lebih cepat. Ethan
semakin bersemangat “Cowok lo mulai nyiumin leher lo. Turun terus,
sampai di toked lo. Toked lo masih diremas-remas, sambil digigit-gigit.
Puting lo diisep kuat-kuat. Lidah cowok lo mainin puting lo”. Pada saat
itu, Donna sebenarnya sudah horny berat. Cuma rasa tengsin dan ego saja
yang mencegahnya menerkam Ethan dan mengajaknya bergumul. Tangan Donna
menegang dan meremas jok mobil kuat-kuat. Bibir bawahnya digigit
kuat-kuat. Kata-kata Ethan mengalir masuk melalui kupingnya, membawa
aliran hangat ke tokednya. Putingnya menegang dan gatal ingin dihisap.
“Huummppfffff aduhh mhemek gue gatel banget. Udah mulai banjir rasanya
dibawah” desah Donna dalam hati. Tapi Donna tidak ingin berhenti. Donna
suka sensasi ini. Ditambah ada cowo asing disebelahnya, malah membuat
sensasi itu semakin kuat. “Cowo lo masih menjilati puting lo. Tangan
kirinya meremas-meremas toked lo dengan kasarnya. Sedang tangan kanannya
mulai membelai-belai selangkangan lo. Donna mendesah agak keras
“Ehhhmmm….Uhh..”. Tangan kanannya mulai membuka celana lo dan menurunkan
resleting lo. Jari tengahnya mulai membelai bibir mhemek lo. Eh, Don
gue ga bisa nerusin neh” potong Ethan tiba-tiba.
Donna yang
libidonya semakin memuncak, membuka mata dengan kaget “Eh napaa..? Tanya
Donna lebih keras dari yang diinginkannya. “Habis kemeja lo ga
dikancing atasnya. Jadinya gue bisa ngliat sebagian besar belahan toked
lo dari samping sini. Jadi ga konsen lah gue. Sorry ya, gue jadi horny
sendiri “kata Ethan tampak penuh penyasalan (percayalah pembaca, ini
cuma akting die aja). Donna memang tidak mengancingkan 2 kancing atas
kemeja putihnya. Belahan tokednya, dan sebagian isinya, bisa terlihat
jelas dari sisi Ethan. Apalagi ketika Donna semakin horny, tubuhnya
semakin menegak dan dadanya semakin membusung, membuat Ethan semakin
jelas melihat belahan toked Donna. “Wah sory Than, bukannya gue ga mau
ngancingin. Emang ga bisa gue kancingin “jawab Donna tersipu. “Sory ya
Than. Apa yang bisa gue bantu?” tawaran Donna mengejutkan Ethan. Dan
langsung reflek dijawab “Kasi gue blow job dong Dona”. Muka Donna
bersemu tambah merah lagi “Ih, kamu maunya”. Karena tidak terlihat
reaksi penolakan yang berlebih, Ethan memberanikan diri meraih pundak
Donna dan menarik Donna mendekati dirinya dan langsung melumat bibir
Donna yang sensual. Donna membalas cipokan Ethan selama beberapa detik,
kemudian melepaskan diri dan berkata “Cuma blowjob aja ya. Lo jangan
grepe-grepe gue. Awas lo” ancam Donna manis. “Iya, gue usahakan” cengir
Ethan sambil berusaha melepaskan sabuknya dengan tangan kiri. Walaupun
Donna masih agak malu-malu, tapi sensasi gatal di dada dan
selangkangannya mengatasi logikanya sehingga keinginannya untuk menjamah
konthol Ethan menang. Donna membuka celana Ethan, dan terlonjak kaget
ketika konthol Ethan yang 17.5cm meloncat keluar “Ehh.. gede banget!”
pekik Donna ga sadar. “Aduhh.. cukup ga ya mulut gue” batin Donna. Tapi
karena tangan kiri Ethan sudah menekan kepala Donna, Donna tidak sempat
berpikir ulang lagi dan langsung membuka mulutnya untuk mencaplok palkon
Ethan. “Ehhmm…” desah Ethan keenakan ketika Donna mulai mengemut-ngemut
palkonnya. Rasa geli dan nikmat menjalar di seluruh konthol,
selangkangan dan menjalar keseluruh tubuh.
Sambil tangan kanannya
mengocok konthol Ethan, bibir Donna melumat-lumat palkon dengan penuh
nafsu. Lidah Donna kadang-kadang menjilati lubang konthol dan sepanjang
batang konthol Ethan. Ethan mulai blingsatan duduknya. Konsen menyetir
jadi lebih susah lagi. Untung jalanan macet, jadi jalan pelan banget.
Tangan Ethan menjambak rambut Donna, dan memaksanya menelan kontholnya
lebih dalam lagi, kemudian mengocoknya dengan gerakan kepala naik turun.
Donna agak megap-megap melakukan manuver ini karena konthol Ethan yang
hampir 5cm lebarnya betul-betul memenuhi mulutnya. Ethan yang makin
horny semakin tidak tahan memegang janjinya untuk tidak grepe-grepe.
Apalagi melihat Donna yang penuh nafsu menyepong kontholnya. Tangan
kirinya bergerak ke bawah badan Donna dan menyasar area tokednya. Dengan
mudah toked Donna diraih oleh Ethan. Langsung menyusup kedalam
kemejanya, dan meremas toked montok dari balik bra Donna. Donna sempat
kaget ketika tokednya tiba-tiba diremas “Ughhh..si Ethan kurang ajar
banget sih. Toked gue diremes-remes.. Tapi enak banget.. Gue stop ga ya”
pikir Donna bingung ambil keputusan. Tapi, pada saat itu tangan Ethan
malah berenti meremas-remas toked Donna. Donna yang sedikit merasa
sayang, meneruskan blowjobya. Sebenarnya Ethan malah berusaha melepas
kaitan BH Donna, yang untungnya, ada dibelakang. Dengan jari yang sudah
terlatih, kaitan BH langsung lepas. Donna juga langsung merasakan bahwa
tokednya langsung jatuh bebas tidak ada lagi yang menyangga. Belum
sempat melepaskan konthol Ethan dari mulutnya, Donna sudah merasakan
jemari kasar Ethan menjamah dan langsung meremas-remas tokednya yang
kini tanpa pelindung. Sensasinya luar biasa..! Libido Donna langsung
naik tinggi. “Ethannn.. sialan Lo. Kan udah janji eahh.. hahhhhh…”
ucapan Donna terputus desahan erotisnya karena Ethan memilin-milin
putingnya dengan ahli. Rasa gatal di areola tokednya yang sedari tadi
terpendam, langsung bereaksi dan menebarkan sensai nikmat yang sangat.
Tubuh Donna menggeliat-geliat tanpa bisa ditahan. “ Ajrit! Ternyata
toked ni anak gede bener. Ini sih 36D! Mana kenyal banget. Mujurr…” kata
Ethan dalam hati. Melihat Donna menggeliat-geliat keenakan dan sibuk
mendesah-desah lupa akan blowjobnya, Ethan semakin aktif meremas-remas
sepasang toked montok Donna. Kini dua tangan Ethan juga meremas-remas
dan mempermainkan putting Donna sekaligus. Donna semakin belingsatan
karena didera gelombang libido yang semakin memuncak.
Tiba-tiba
Ethan mengangkat badan Donna agar tegak lagi. Kemudian sambil merapikan
kancing-kancing kemeja Donna yang terbuka 2 kancing lagi, Ethan berkata
“Rumah lo yang mana neh? Udah di jalan ****”. Donna yang masih dibuai
gairah birahi, agak bingung dengan pertanyaan Ethan dan berhentinya
acara remas-meremas yang mulai memanas. “Eh, oh.. Rumah gue ya? Oo udah
sampe sini toh” jawab Donna kebingungan dan jengah. “Itu rumah gue yang
pagar coklat” tambah Donna sambil merapikan rambut dan pakaiannya. Nafas
Donna masih agak tersengal-sengal karena pacuan birahi tadi. Ethan
memarkir mobilnya di depan pagar rumah Donna yang megah. “Anak tajir
ternyata. Gede amat rumahnya” batin Ethan. “Than, lo mampir ga?” tanya
Donna setengah berharap. “Iyalah. Kan lo blum nuntasi gawean lo” jawab
Ethan blak-blakan. “U-uh. Ternyata gara-gara itu doang ya lo mau
mampirnya” jawab Donna merajuk, yang bikin Ethan tambah gemes dan horny.
“Ya udah. Ayo masuk yuk” ajak Donna.
Weh, ternyata
bokap-nyokapnya Donna ada di rumah. Lagi nonton film di ruang
keluarganya yang simple tapi terlihat berkelas. Setelah dikenalkan dan
basa-basi dikit, Ethan ditinggal di ruang tamu, bonyoknya Donna balik
lagi nonton film. “Gue ganti baju dulu ya Than. Tunggu aja disini
bentar” kata Donna sambil mengerdipkan mata. “He-eh” balas Ethan dengan
tampang bodoh. “Anjrritt… Napa juga bonyoknya ada di rumah. Ga bisa
ngikut ke kamarnya si Donna dong gue. Gimana nasib adek gue neh” runtuk
Ethan dalam hati. Tiba-tiba seorang wanita setengah baya masuk ke ruang
tamu sambil berkata “Neng Donna pesen, Mas Ethan diminta nunggu di taman
samping. Minuman juga sudah Mbok taruh disana”. Diantar pembantu itu,
Ethan melangkah ke luar rumah menuju taman di samping rumah. Ethan
bersorak dalam hati melihat tempat yang dimaksud. Di pojok taman ada
area kursi dan kolam kecil. Yang bikin Ethan bahagia, tempat tersebut
terlindungi dari rumah karena dibalik pohon dan semak bunga-bungaan.
Berbagai skenario mesum langsung berkelebat di benak Ethan.
Tiba-tiba
terdengar suara langkah kaki mendekat. Donna muncul dengan hanya
menggunakan kemeja putih kedodoran yang panjangnya hampir selututnya.
Dua kancing atas tetap terbuka. Entah mengapa, penampilan yang diluar
harapan Ethan ini malah membuat Donna terlihat lebih sensual. Nafas
Ethan langsung memburu. Ethan berdiri menghampiri Donna. “Mau langsung
dimulai nih Than?” tanya Donna lirih tapi sambil tersenyum malu-malu.
“Ga usah Don. Lo lupain aja blowjobnya. Gue udah ga minat lagi” kata
Ethan mengejutkan Donna. “Loh, gue pikir..”. Belum habis ucapan Donna,
tangan Ethan sudah meraih pinggang Donna kedalam pelukannya, dan bibir
Ethan melumat bibir Donna penuh nafsu. Beberapa saat Donna gelagepan,
tapi langsung bisa mengimbangi. Tangan Ethan bergerak turun dan
meremas-remas bongkahan pantat Donna, yang walaupun tidak semenonjol
punya Dea tapi proporsional dan kencang.
Ethan mendudukkan Donna
di kursi taman, lalu dengan kasar membuka kemeja Donna. Sepasang toked
besar dan bulat seperti melompat keluar. Mata Ethan melotot melihat
ukuran toked Donna yang supersize seperti di film-film bokep. Impian
jadi nyata! Karena cuma diliatin saja, Donna menjadi jengah “Cuma mo
liatin aja Than?” “Sorry Don. Toked lo indah bener. Besar dan bulat”
ujar Ethan jujur. Kedua tangan Ethan langsung meraup kedua bongkahan
bulat tersebut dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu. Gerakan
memutar-mutar dari pangkal toked kemudia merucut ke putingnya, sambil
diremas-remas dengan kasar. Donna sepertinya menyukai tokednya
diperlakukan dengan kasar. Terbukti Donna langsung memejamkan mata dan
mengeluarakan lenguhan tertahan “Uuuhh….sshhhh.. hmmmpppfff”. Puting
Donna yang super sensitif tak lepas dari ransangan Ethan. Dipilin dan
ditarik-tarik. Lalu lidah Ethan mulai menjilatinya, dan ditengahi oleh
hisapan-hisapan dalam mulutnya. “[i]Hhmmmppffff.. enak bangetttt.. Belum
pernah susu gue diginiin[i] ceracau Donna dalam hati. Sensasi lidah
Ethan yang kasar di putih Donna, belum lagi gigitan-gigitan kecil,
membuat sensasi gatal yang menyenangkan menyebar keseluruh tubuh. Mhemek
Donna sudah mulai basah dan berkedut-kedut. Seperti bisa membaca
tuntutan hati (dan mhemek Donna), jemari Ethan mulai menjamah
selangkangan Donna. Celana dalam sutranya ternyata sudah basah. Jari
tengah Ethan langsung menekan gundukan mhemek Donna dan menggeseknya
kuat-kuat. Tubuh Donna agak melengkung oleh sensasi kenikmatan yang
menjadi-jadi “Ouuhhh…. Etthhannn….” lenguh Donna yang mencapai orgasme
pertamanya hari ini. Setelah kelonjotan kecil, Donna menarik napas
panjang. “Gila Than, enak bangett..” bisik Donna di telinga Ethan. “Ini
baru pemanasan Sayang” bisik Ethan sambil meloloskan celana dalam Donna.
Ethan mengambil posisi berjongkok di depan Donna yang duduk di kursi,
di tengah-tengah paha Donna yg dipentangkan lebar oleh Ethan. “Eh, lo mo
ngapain Than?” tanya Donna agak jengah karena muka Ethan hanya
sejengkal dari bibir mhemeknya. Ethan tidak menjawab, tapi langsung
mengangkat paha Donna lebih tinggi sehingga pantat Donna agak tarangkat
dan mhemek lebih terekspos. Ethan melihat dua gundukan putih yang montok
tanpa jembi dengan penuh nafsu. Tanpa tedeng aling-aling Ethan langsung
melumat bibir mhemek Donna dengan semangat. “Ethann.. gue belum pernah
diginiin..” jerit kecil Donna, sambil berusaha menjauhkan kepala Ethan
dari selangkangannya. Tapi, Ethan tetap berkeras. Malah lidahnya mulai
menyelusup ke dalam mhemek yang sudah basah kuyup itu, sambil
menggerakkan lidahnya naik turun dengan cepat. “Fuahhhhhh… ahhh..ahhh..
ouuuuhhhh..” lenguh Donna lebih heboh lagi, karena rasa gatal yang sudah
sempat terpuaskan tadi, muncul kembali dengan lebih dahsyat. Rasanya
ada yang berusaha hendak keluar dari mhemeknya dan rasa itu berkumpul,
bergetar, mengirimkan gelombang kenikmatan ke sekujur tubuh Donna.
Tangan Donna kini tidak lagi berusaha menjauhkan kepala Ethan, malah
menekannya semakin erat ke selangkangannya. Sambil menjilati klitoris
Donna yang makin menonjol, jari tengah Ethan juga aktif mengocok lubang
mhemek Donna. Suara becek berkecipakan, ditingkahi oleh lenguhan Donna
yang dibanjiri oleh sensasi birahi yang semakin memuncak.
SLEP..SLEP..SLEP..” Auhh.. Auhhh.. Ekkhhhhh… Ehhhhhffffmmpppp…” Donna
mendesah keenakan. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan.
Punggungnya semakin melengkung. Tidak sampai 5 menit, Donna sudah
berkata “Than.. thann.. ehhmm.. gue mo kluar.. gue mo kluar..”kata Donna
terbata-bata. Ethan cepat mengocok lubang mhemek yang smakin banjir.
Dan…” OUUUHHHHHH….. HAAHHHHHHHHH…” jeritan orgasme Donna keluar seiring
banjir cairan orgasmenya. Tidak ingin membiarkan Donna istirahat, ketika
Donna mencapai orgasme, Ethan malah semakin kencang mengocok dan
melumat klitori Donna. “AUUHHH… AHH.AHHH .. ETH..ETH..ANN…GUE GA KUATT…”
rengek Donna yang dilanda gelombang orgasme 2 sekaligus… Pantat Donna
sampai terangkat dan kelonjotan karena sensasi orgasme yang
bertubi-tubi. Baru Ethan melepaskan rangsangannya. “Lebih enak lagi kan
pas lo keluar yang kedua ini Don?” tanya Ethan sambil nyengir jail.
Donna berusaha mengatur nafasnya yang memburu baru menjawab “Sialan lo
Than.. Gue udah ga kuat, masih juga lo kocok-kocok vagina gue”. Ini
bedanya Donna sama Dea & Vani, walopun dipuncak nafsu, ga ada
kata-kata vulgar yang keluar. Tapi harus dicek, goyangannya kalah ga
sama mereka. “Tapi, lo demen kan. Ini pengalaman pertama lo capai
orgasme seperti ini” balas Ethan. “Iya sih..” jawab Donna tersipu-sipu.
Ethan
langsung melepaskan celananya dan celana dalamnya. Kontholnya yang
sudah ngaceng dari tadi langsung mengacung tegak di hadapan Donna. Kedua
tangan Ethan langsung mengangkan paha Donna lebar-lebar. Donna agak
gelagepan “Eh..oh.. Lo mo ngelakuinnya di sini? Gue blow job aja ya
Than” tawar Donna agak panik. Kalo urusan petting dan blowjob itu
ok-lah, kalo urusan mhemeknya mau dipenetrasi konthol asing bukan milik
cowoknya, itu beda lagi. Donna merasa belum siap. Apalagi melihat ukuran
kontol Ethan yang jauh lebih besar dari konthol cowoknya. Tapi, Ethan
nafsunya sudah diubun-ubun. Pantatnya semakin ditekan lagi ke arah
selangkangan Donna. Walopun kedua tangan Donna berusah menahan gerakan
pinggang Ethan, tapi tenaganya yang sudah terkuras orgasme-orgasme yang
bertubi-tubi, tak mampu berbuat banyak. Sekejap saja, pal-kon Ethan
sudah mencium bibir mhemek Donna, dan mulai menyeruak masuk. “Ethannnn…
jangan dimasukinn..” erang Donna tanpa daya. Blesssh..! Palkon dan
batang kontol Ethan masuk sebagian ke mhemek Donna yang sudah basah
kuyup. Cairan peju dan pelumas Donna memudahkan batang konthol Ethan
untuk melesak masuk. “Ummpppfff..” Donna agak tersedak karena sensasi
benda asing yang sangat menyesaki dinding-dinding mhemeknya. “Busettt..
besar bangett.. Vagina gue penuh banget rasanya” erang Donna dalam hati.
Konthol Ethan mulai bergerak keluar masuk dengan teratur. Semakin lama
semakin cepat. Karena mhemek Donna sempit, banyak cairan peju Donna yang
ikut keluar ketika Ethan menarik kontholnya. Itupun kontholnya baru
masuk setengahnya. Ethan tidak mau memaksa langsung membenamkan seluruh
batangnya, karena Ethan ingin Donna terbiasa dulu dan ikut menikmatinya
(walopun Ethan setengah mati nahan nafsu untuk langsung membenamkan dan
masuk RPM tinggi).
Seiring semakin lancarnya gerak masuk-keluar
konthol Ethan dalam mhemek Donna, semakin keras lenguhan birahi Donna
terdengar. Kepalanya kembali menggeleng-geleng dengan heboh. Ethan
langsung menancapkan penuh-penuh kontholnya dan dilanjutkan dengan
kocokan gigi 4. “Hhh..Hhh.. Hhh.. sempit banget mhemek lo Don.. Konthol
gue kaya diperet-peret. Lo jarang ngenthot ya?” ujar Ethan penuh birahi,
ditambah pemandangan raut muka Donna yang diliputi nafsu dan goncangan
kedua tokednya yang bergerak naik turun tidak karuan karena goyangan
Ethan. Ucapan Ethan yang vulgar membuat sensasi gatal di sekujur
selangkangan Donna semakin menghebat. “AHHHH.. AHHH… OUUHH..OUUGGHHHH…!
Donna melenguh hebat ketika rasa gatal di mhemeknya digaruk-garuk kasar
oleh konthol Ethan, sehingga meledak tanpa bisa dibendung. Orgasmenya
kali ini lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya. Dengan masih
membiarkan kontholnya di dalam mhemek Donna, Ethan mengangkat Donna dan
dibaringkan di atas rumput. Dengan posisi yang lebih nyaman ini, Ethan
semakin ganas mengocok dan mengobel-ngobel mhemek Donna. Gerakan naik
turun pantatnya, diselingi gerakan memutar-mutar yang heboh, membuat
Donna memasuki fase birahi yang lebih tinggi lagi. “AHHH.. AHH.. ENAK
BANGET THAN.. ENAK BANGETT..!! jerit Donna penuh nafsu. Toked Donna yang
mengkal sudah penuh bekas cupangan Ethan yang tidak bosan-bosannya
mengerjai sepasang toked melon itu. Selama 10 menit, Donna mengalami dua
orgasme lagi, yang dicapainya nyaris tanpa jeda karena Ethan tetap
menggenjot dengan torsi tinggi ketika Donna keluar.
“Than..
than.. break bhentar..uhhmm. bentar aja” pinta Donna tersengal-sengal.
Ethan menghentikan goyangannya, dan menarik keluar kontholnya. Donna
memanfaatkan waktu itu untuk memejamkan mata dan menarik nafas
dalam-dalam. Kepalanya terasa ringan karena sensasi orgasme yang
bertubi-tubi. Rasa bahagia dan nikmat masih meliputi seluruh tubuhnya,
sehingga udara dingin malam tidak terasa. Tiba-tiba Donna merasa
tubuhnya dimiringkan ke kanan dan kaki kirinya diangkat lebar-lebar.
Membuka matanya, Donna melihat Ethan sedang berusaha memasukkan
kontholnya dalam posisi menyamping. “Eh, lo masih pingin ya than. Jangan
keras-keras ya Than” pinta Donna merajuk. Tapi, mana mungkin Ethan
memenuhi permintaan seperti ini. Palkonnya sudah terasa semakin
berdenyut-denyut dan semakin gatal ingin digaruk oleh mhemek sempit
Donna. Tanpa tedeng aling-aling Ethan langsung membenamkan seluruh
batang kontholnya “BLESSS..SLEPPP..” . “AUUHHH….” Pekik Donna kaget.
Dalam posisi menyamping begini, konthol Ethan masuk lebih dalam dan
lebih mudah menggesek-gesek g-spot Donna. Tangan kirinya pun lebih mudah
meraih toked Donna. Sambil meremas toked Donna, Ethan menggerakkan
pinggulnya maju-mundur dengan kecepatan tinggi. PLAK..PLAK.. PLAK..
SLEPPHH..SLEPPHH.. “Damn, mhemek lo kok makin sempit aja Don” maki Ethan
keenakan. Donna sebenarnya sadar kenapa Ethan merasa mhemeknya semakin
sempit. Itu karena aliran spema Ethan sudah berada di batangnya dan siap
menyembur keluar. Berlawanan dengan akal sehatnya yang menyuruhnya
mendorong Ethan menjauh dan melepaskan kontholnya, Donna malah semakin
heboh melenguh dan bergoyang sedapatnya “YESS.. YESS…
OUUUHHMMMMM..OUUHHHGGHHHH…”. Rasa gatal yang memuncak dan berkumpul di
mhemeknya membuat Donna semakin histeris ingin cepat-cepat dipuaskan.
Tiba-tiba Ethan meremas toked Donna kuat-kuat, dan menekan kuat-kuat
kontholnya ke dalam mhemek Ethan, sambil melenguh puas konthol Ethan
menyemburkan pejunya kuat-kuat “AOOUUUUHHH… HHHEEHHHHHH.. Enakknnyaa…”.
Lenguhan Donna yang lebih keras lagi menandakan Donna mencapai
klimaksnya. Semprotan peju dan tekanan kuat konthol Ethan menjebol
dinding pertahanan Donna “OOOAAAHHH..HHAHHHHHHHH….Ahh..AHH..AHH..”.
Donna kelonjotan selama beberapa saat sampai akhirnya tenang setelah
badai orgasme berlalu.
“Gila lo Than. Baru kali ini gue ngalamin
seks kaya gini. Ternyata nikmatnya luar biasa” bisik Donna lirih pada
Ethan yang terlentang di sebelahnya. “Gue juga nikmatin banget Don. Ga
nyangka lo jago goyangnya, dan mhemek lo peret banget. Blum pernah gue
lemes kaya gini sehabis ngenthot (ini jelas boong)” balas Ethan.
Mendengar itu, Donna agak bersemu merah “Gue harusnya bangga, gitu”
balas Donna, yang maunya pedes tapi senyum malu-malunya menghapus kesan
judesnya. “Untung sekarang bukan masa subur gue” rajuk Donna lagi.
“Thanks ya sexy” kata Ethan lembut sambil mengecup bibir Donna. Donna
tersenyum manissss sekali. “Sayang, lo udah punya cowok. Ga enak gue
ganggu lo lagi setelah ini” tambah Ethan. Donna diam aja. Setelah
bebenah dan bersih-bersih dikit, Ethan pamit pulang kepada bonyok Donna.
Ketika berpisah di pagar depan, sambil mengecup ringan Donna, Ethan
masih sempat meremas toked Donna sekali.
Esoknya. Sehabis kuliah
jam pertama, Ethan beranjak menuju kantin. Tiba-tiba HP nya berbunyi.
Dea nelpon. “Ngapain ni Anak? Kurang puas kali sama Roy” pikir Ethan.
“Halo, apaan De?” sapa Ethan. Suara Dea yang tinggi langsung terdengar
“Hei, kupret. Lo apain si Donna kemaren hah?” damprat Dea. “Lah, emang
napa? Gue ga apa-apain kok” jawab Ethan berusaha keliatan innocent. “Dia
mutusin si Sinyo cowo-nya barusan”. “Hah?” jawab kaget Ethan. “ puji
syukur. Kalo jodoh emang ga kemana ya” ucap Ethan dalam hati sambil
membelai selangkangannya.
Comments
Post a Comment