Petualangan Vany 3
Reff lagu The Club can’t Handle Me Cerita Hot tiba-tiba mengalun ketika
ada Cerita Skandal panggilan masuk di BB Vani. Nama shasha tampil
dilayarnya. “Hai Shasha” sambut Vani dengan
suaranya yang agak serak-serak basah. Sexy, menurut gue. Di ujung
lainnya Shasha dengan hebohnya mulai nyerocos tentang suatu party di
suatu apartemen salah satu temannya. “Ayo Van, lo ikut ya. Revo bawa
temannya yang ga ada pasangan. Lo temenin aja, biar gue bisa bebas sama
Revo” rajuk Sasha. “Wait.. wait.. Sapa lagi nih Revo? Cowo baru lagi?”
tanya Vani. Vani hampir bisa menebak bahwa diujung sana Shasha nyengir
nakal sambil menjawab “Gitu deh.. Lo mau ya?”. “Okay.. okay.. gue mau.
Awas aja temennya ancur” ancam Vani. “It’s a date! Gw BBM lo nanti
tentang jam berapa lo bakal dijemput” tuntas Shasha lalu memutuskan
sambungan teleponnya. Dan Vani pun beranjak pulang ke kostnya.
Vani
sedang berusaha mengancingkan bra-nya ketika terdengar ketukan di pintu
kamarnya disusul teriakan suara Shasha yang agak cempreng “Vann… ini
gue, Shasha”. Sambil membekap bra yang belum terkancing ke dadanya, Vani
membuka kunci dan pintu kamarnya sebagian asal cukup buat Shasha untuk
masuk. “Ahh.. untung lo udah beres dandan, hottie” ujar Shasha sambil
mengecup ringan pipi Vani. “Bantu gue pake bra Sha, biar cepet nih”
pinta Vani sambil memunggungi Shasha dan menghadap cermin. Shasha
berdiri di belakang Vani dan kedua tangannya meraih kedua ujung kaitan
bra Vani. Bukannya memasangkan, Shasha malah melepaskan bra tersebut dan
kedua tangannya meraup kedua bongkahan daging yang menggunung di dada
Vani. “Aihh….” jerit Vani kaget. “Ihhh… gede amat sih toket lo Van” ujar
Shasha iri dari balik punggung Vani. Dengan jahilnya jari jemari Shasha
meremas-remas gundukan toket 36C (yeap, they HUGE!). “Aahh.. Udah dong
Sha..” rajuk Vani agak sebel sambil melepaskan kedua tangan Shasha.
“Iya.. iya.. gue cuma iseng doang. Habiss, gue iri banget liat toket lo.
Jadi pengen gue sumpel silicon punya gue” rajuk Shasha sambil memasang
kaitan bra Vani. “Eh, lo ga nuduh toket gue palsu kan? Ini asli dari
pabrik bo’” ujar Vani agak sewot sambil memakai pakaiannya. Baby doll
hitam berenda yang memperlihatkan bahunya tapi menutup rapat dadanya
yang massive, dipadankan dengan mini skirt ketat warna putih dan
stilleto hitam, Vani sudah siap untuk party malam ini. Shasha bertubuh
langsing, pinggang ramping tapi mempunyai pinggul yang lebar dan pantat
bulat yang menonjol bikin banyak cowok nafsu untuk meremasnya, memakai
mini dress warna hitam yang sedikit menunjukkan belahan dada 34B-nya
yang sekal.
Shasha duduk di sebelah Revo, cowok cakep berumur sekitar 25an yang
bertubuh tinggi ramping. Jelas kelihatan tajir dari mobil dan
pakaiannya. “Pinter juga ni anak cari gebetan” batin Vani yang duduk di
jok belakang mobil Revo. Di sebelah Vani adalah cowok yang katanya teman
Revo yang butuh pasangan buat party malam ini. Begitu Vani menutup
pintu, dengan ramahnya cowok ini mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Gue Ian” kata cowok itu. Vani menjabat tangan yang besar itu sambil
meyebutkan namanya. “Gendut. Eh? Besar banget nih cowok” pikir Vani
sambil menilai sekilas Ian yang duduk disebelahnya. Ian memang besar.
Dengan tinggi 187 cm dan berat 90 kg, Ian terlihat seperti pegulat.
Well, paling tidak itulah yang dipikirkan oleh Vani pertama kali. Dengan
cepat suasana cair karena Ian ngocol juga anaknya.
Perjalanan ke
lokasi party hanya macet sebentar (tumben). Ramai juga. Free flow bir.
Snack berlimpah. Shasha dan Vani langsung turun. Beberapa saat kemudian
Ian datang menghampiri sambil menyodorkan sebotol bir untuk Van, yang
langsung ditenggak sepertiganya oleh Vani. “Haus neng.. Apa doyan?”
teriak Ian di dekat kuping Vani untuk mengatasi suara musik hip hop yang
berdentam-dentam. Vani hanya tersenyum sambil terus bergoyang. Ian
berusaha mengimbangi goyangan Vani, yang mengakibatkan beberapa orang
nyaris terpental karena kesenggol tubuh besarnya. Tapi semua lagi happy,
jadi no problem.
Setelah beberapa botol bir dan 2 kali ke toilet,
tiba Shasha menarik tangan Vani yang saat itu sedang dikerubungi 3 cowok
yang berebut mengajaknya turun. “Eh, mau kemana Sha” tanya Vani agak
bingung dan sebel karena sedang asyik memilih-milih cowok mana yang mau
diajaknya turun dan bergoyang. “Kita pulang” kata Shasha. Tapi Vani
tidak percaya begitu saja dengan kata “pulang” Shasha karena Vani
melihat senyum nakal Shasha ketika mengatakannya. “Udah deh lo ikut aja”
kata Shasha dengan tetap menyunggingkan senyum nakalnya.
“Shasha
bilang mau lihat rumah gue” kata Revo di mobil ketika Vani menanyakan
tujuan mereka. “Bagus juga. Kita bisa chill out dulu habis party barusan
sebelum pulang” tambah Revo sambil membawa mobilnya berzig-zag menyalip
beberapa mobil lainnya. “Ngeliat cara lo ngebut kaya gini, gue rasa lo
ga pengen sekedar chill out sama Shasha deh” batin Vani nyinyir. Tapi
Vani masih asyik saja. Karena Ian dengan serunya ngocol buat Vani &
Shasha hahahihi sepanjang perjalanan.
Mobil Revo memasuki perumahan
di kawasan Kelapa Gading. Ternyata rumahnya besar juga untuk ukuran
ditinggali sendirian oleh Revo. “Toilet mana Hun?” tanya Shasha manja.
Revo menunjukkannya. “Gue ikut Sha” sahut Vani. Di dalam toilet, Vani
dengan gemasnya meremas pantat sekal Shasha. “Hu uh.. Lo pasti udah
horny ya”. “Aihh.. apaan sih lo Van” jerit Shasha sambil merengut manja.
Sambil duduk di toilet, Shasha merajuk sama Vani “Bantu gue ya Van,
temenin Ian ngobrol. Lo tau ndiri, hampir sebulan gue jomblo sebelum
akhirnya jadian sama Revo tempo hari” ujar Shasha memelas. “Kering
tau..” tambah Shasha dengan senyum nakalnya. “Ihh… slutty banget sih lo”
balas Vani agak sebel tapi juga geli. “Setengaahh jam aja.. Lo temenin
Ian. Habis itu kita pulang. Janji” kata Shasha sambil menaikkan kembali
mini underwear-nya. “Ok deh” sahut Vani. “Ato lo pengen juga digenjot
sama Ian” kerling Shasha jahil.”Ihh.. jangan sampe deh. Bisa gepeng gue”
sahut Vani sewot.
Ketika kedua cewek sintal ini keluar dari toilet,
ternyata Revo dan Ian sedang main billiard di tempat yang seharusnya
ruangan keluarga. “Gue ikutt..” pinta Vani centil. Dengan agak cemberut,
terpaksalah Shasha ikut juga. Dalam sekejap permainan tersebut menjadi
berantakan karena Vani dan Shasha memang tidak bisa main billiard.
Ketika sodokan Vani yang ketiga membuat bola putihnya terbang ke ujung
ruangan, Shasha menimpalinya dengan nyinyir “Gimana ga kaco, lo kan
biasanya disodok Van, bukan nyodok”. “Uu-uhh.. Apaan sih lo Sha” timpal
Vani agak tersipu sambil beranjak mengambil bola putih dari tangan Ian.
“Lo berdua terusin aja mainnya ya. Gue mo ngobrol bentar sama Shasha”
kata Revo tiba-tiba sambil menarik tangan Shasha untuk ikut naik ke
lantai dua dan mengerdip penuh arti ke Ian dan Vani. “Kan belum kelar
maennya Hun” rajuk Shasha manja pura-pura keberatan ditarik pergi,
padahal Vani yakin memek Shasha sudah menjerit-jerit minta
disodok-sodok.
Sepeninggal mereka berdua, Ian menatap Vani sambil cengar-cengir
dan berkata “Baiknya lo gue ajarin dulu deh cara nyodoknya sebelum ada
yang terluka”. “Emang gue seberbahaya itu?! Sebel” tukas Vani sambil
menyubit pinggang Ian yang tebal. Tapi Vani tidak keberatan ketika Ian
mengarahkan tangannya untuk memegang stick billiard dengan cara yang
benar. “Biar lo bisa lihat arah bola putih dengan baik, lo harus nunduk
Vani, paling bagus punggung lo jadi sejajar dengan tongkat. Kaki lebarin
dikit biar seimbang” jelas Ian. Vani pun membungkuk, dan membungkuk
lebih dalam lagi karena Ian menekan punggungnya sehingga dada Vani lebih
mendekati meja lagi. “Gini bener An?” tanya Vani. Dua detik kemudian
dengan agak kaget Ian baru menjawab “Eh iya, bener. Nah sekarang coba
hit bola putihnya perlahan saja. Rasakan ujung stick lo hit ditempat ya
lo mau. Hit tengah aja dulu.” jelas Ian panjang lebar. Vani tidak tau
bahwa perhatian Ian sempat teralih sejenak tadi karena begitu Vani
membungkuk, mini skirt-nya ikut terangkat dan Ian sekilas melihat dua
bongkah pantat putih Vani dan segaris tipis linen merah ditengahnya.
“Anjrit! Ni cewek pake tong. Buseet tadi sekilas gue liat pantatnya
mulus dan montok banget” batin Ian gembira.
“Yess.. bolanya lurus
larinya” jerit Vani gembira. “Tapi pelan An” kata Vani sambil berbalik
ke Ian yang otaknya masih dipenuhi pemandangan sekejap pantat Vani. “Oh
iya, jelas pelan. Posisi tangan lo masih ga nyaman pas megang
tongkatnya. Dan kaki lo kurang lebar, jadi posisi lo kurang kokoh” balas
Ian yang otaknya bekerja keras untuk cari cara agak bisa melihat
pemandangan indah itu lagi. Yang sebenaranya sangat gampang terjadi lagi
karena rok Vani mini banget memperlihatkan sebagian besar paha putih
mulusnya.
“Ayo gue bimbing lo” kata Ian sambil memegang kedua tangan
Vani dan meletakkan di posisi stick billiard yang tepat. Vani
membungkukkan badannya sejajar dengan meja, membuka kakinya lebih lebar.
“Gini bener?” tanya Vani. “Bentar..” kata Ian sambil melangkah dari
samping Vani ke belakangnya sehingga kali ini bisa melihat dengan jelas
bagaimana setengah bongkah pantat Vani dan tong merah yang membelahnya
dengan indah. “Uhh.. itu pasti gundukan memek Vani” batin Ian dengan
penuh mesum sambil sedikit membungkukkan badannya. “Kaki lo lebarin
dikit lagi Van. Pokoknya sampe lo ngerasa kokoh posisi lo” tambah Ian
agak bergetar suaranya karena nafsu birahi mulai naik.
“Gue bantu
arahi tangan lo” kata Ian. Tanpa minta persetujuan Vani, Ian ikut
membungkuk di atas tubuh Vani dan memegang stick di belakang tangan
Vani, sedang satunya berlagak memperbaiki posisi tangan jari kiri Vani.
“Awas gue ketindih badan lo ya. Gepeng nanti gue” kata Vani manja.
Mendengar suara manja Vani yang agak serak-serak basah, Ian semakin
mupeng saja. Apalagi selangkangannya hampir menempel di pantat Vani.
Tapi, Ian jago juga “Tenang.. little brother.. tenang. Pelan-pelang aja
majunya” ujar Ian dalam hati menenangkan nafsunya yang makin bergejolak
dan menahan dirinya untuk tidak langsung menempelkan selangkangannya di
pantat Vani (brother, ini sangat susah. Believe me). Dengan dipandu
tangan Ian, Vani menyodok bola putihnya lagi. Kali ini karena dibantu
power dan arahan Ian, bola putih melaju dengan lurus & cukup kencang
untuk hit bola sasarannya. Bunyi benturan bola membuat Vani tertawa
puas.. “Yeahh… gue berhasill” jerit Vani senang sambil mengangkat kedua
tangannya. Ian ikut terkekeh puas. “Ayo kita coba lagi An, pokoknya
sampe gue bisa” ajak Vani yang disambut gembira oleh Ian.
Vani
mencoba lagi dan lagi untuk menyodok sementara Ian berlagak membantu
Vani memperbaiki poster shootingnya sambil mengambil kesempatan untuk
membelai dan meremas pelan tubuh Vani. Yang Ian tidak sadari adalah,
remasan Ian di pantat Vani untuk memintanya merendahkan sedikit, dan
sentuhan agak lama di paha dalam Vani untuk memintanya melebarkan
sedikit pahanya, mulai membuat memek cewek binal ini berkedut-kedut
gatal. Jantung Vani mulai berdebar lebih keras dan nafasnya sedikit
tersengal. Vani mulai horny. “Sialan, kok gue jadi horny gini sih” umpat
Vani dalam hati. Vani melirik jam dan berkata dalam hati “Masih 20
menit lagi sampe si Shasha tuntas dientot Revo”. Bayangan bagaimana
pantat sekal Shasha dipompa oleh Revo malah membuat memek Vani menjadi
agak basah.
“Nah, kita coba lagi ya” suara Ian yang tiba-tiba
menyentak Vani dari lamunan mesumnya. “Eh, iya. Ayo kita coba lagi” agak
tergagap Vani menyahut. Kembali Vani mengambil posisi membungkuk. Dan
Ian kembali Ian terkesiap melihat pemandangan tersebut. Ian sudah nyaris
tidak tahan untuk menerjang pantat yang menonjol itu. “Lebarin kaki lo
dikit lagi Van” kata Ian sambil memegang dan meremas kedua paha dalam
Vani. Vani nyaris mendesah karena sentuhan tiba-tiba di bagian tubuhnya
yang sensitif itu. Vani harus menggigit bibirnya ketika tangan Ian yang
besar menekan dan meremas pantatnya untuk sedikit diturunkan. Kali ini
Ian agak memanjakan tangan kanannya dan meremas-remas pantat Vani lebih
lama dari seharusnya. “Sampe kapan tangan lo mo disitu?” damprat Vani
pelan belagak galak. “Eh sorry Van. Salah pantat lo sih, manggil-manggil
tangan gue” ngeles Ian. “Ih.. kok jadi salah pantat gue” balas Vani
dengan senyum dikulum. “Ayo, arahin lagi tangan gue Ian” pinta Vani.
Dengan bersemangat Ian menerima permintaan ini.
Ian kembali menempatkan tubuhnya diatas tubuh Vani, dan kedua
tangannya memperbaiki posisi kedua tangan Vani. Bedanya kali ini Ian
sudah tidak tahan lagi. Ian menempelkan selangkangannya ke gundukan
pantat Vani. Vani agak terhenyak kaget ketika merasakan tonjolan
kejantanan Ian yang menekan pantatnya. Vani sedikit bingung mau
menyentak Ian agar menyingkirkan batangnya dari pantatnya, tapi tuntutan
birahi di sekujur tubuhnya menginginkan agar Ian menekankan batangnya
lebih dalam lagi. “Shit, gue ga tau ni cowok mau ngentotin gue apa ga”
batin Vani gundah, karena saat Ian menekankan selangkangannya, Ian masih
ngomong tentang posisi tangan Vani yang kurang tepat dalam megang stick
billiardnya. Vani jelas tengsin kalau memulai duluan.
Sedang Ian
sendiri yang merasa tidak ada penolakan dari Vani ketika selangkangannya
ditempelkan, dan Ian juga yakin Vani pasti merasakan tonjolan kontolnya
menekan pantatnya, merasa mendapat lampu hijau. Sambil terus menyeracau
tentang posisi tangan yang tepat untuk pegang stick, Ian mulai
menggoyangkan pantatnya dan menekankan selangkangannya lebih keras lagi
di pantat Vani. Beberapa saat digoyang seperti itu Vani hampir lepas
kendali. Tapi akhirnya gengsinya menang. “Hei… enak lo ya goyangin
pantat gue” damprat Vani. Agak tersipu Ian bangkit dari atas tubuh Vani
“Sorry Van, kebablasan”. “Mau ngajarin beneran ga sih lo” tambah Vani
digalak-galakin sambil berkacak pinggang menatap Ian. “Iya.. iya Van.
Gue ajarin bener. Dimulai lagi ya” pinta Ian. “Huu.. yang bener ya kali
ini” sungut Vani sambil kembali mengambil posisi membungkuk siap
menyodok.
Tapi kali ini Ian sudah tidak bisa menahan birahinya lebih
lama lagi. “Sebodolah, udah ga tahan lagi gue” batin Ian penuh nafsu
mesum. “Rendahin dikit lagi badan lo Van” kata Ian agak bergetar sambil
tangan kirinya menekan punggung Vani agar lebih rendah. “Bener, segini?”
tanya Vani tanpa prasangka. Sambil tetap menahan punggung Vani dengan
tangan kiri, tangan kanan Ian menyasar pantat Vani lagi. “Rendahin
sedikit lagi pantat lo Van” pinta Ian. Vani menuruti tekanan tangan Ian
pada pantatnya untuk sedikit direndahkan. Tapi, beberapa detik kemudian
Vani sadar bahwa tangan kanan Ian tidak berpindah dari pantatnya, bahkan
mulai meremas-remasnya.
“Ehhhh… ngapain tuh tangan lo??” pekik Vani
protes. Vani mau berdiri dari memarahi Ian lagi, tapi tangan besar Ian
menahan punggunggnya semakin menempel pada meja billiard. “Ian.. jangan
macam-macam lo yah!” ancam Vani tidak meyakinkan. “Bentar aja Van.. Gue
nafsu banget liat bokong lo. Semok banget” ujar Ian dengan suaranya yang
mulai serak karena birahi. “Gue mau lihat pantat lo ya Van” ujar Ian
sambil langsung mengangkat mini skirt Vani sampai naik ke pinggang.
“Aihh…. sialan lo” pekik Vani. Kaget, dan merasakan hembusan dingin AC
menerpa kulit pantatnya yang nyaris tidak tertutupi karena menggungkan
tong. Dengan gemas jemari Ian yang besar meremas bergiliran kedua
bongkahan putih kenyal pantat Vani yang sedang menungging tak berdaya
itu.
Vani yang semula menjerit-jerit marah, kini sadar dia tidak bisa
bergerak karena kalah kuat dengan tekanan tangan Ian, mulai memelas.
“Pleasee.. Ian.. Jangan lakuin ini ke gue dong. Pleasee” rengek Vani.
Tapi Ian sudah dikuasai nafsu birahi, malah semakin semangat
meremas-remas pantat Vani. Bahkan kini jemarinya sesekali menyerempet
gundukan di bawahnya. “Ian.. udah dong..” Vani masih merengek. Tiba-tiba
Vani melenguh tanpa bisa ditahan “Houuhhh…” ketika dengan tiba-tiba
jemari Ian meremas gundukan memeknya. “Ian.. ian.. ian… please stop it”
agak tersengal dan kaget akibat rangsangan tiba-tiba pada bibir memeknya
walau masih dari balik kain tongnya. “Hehehe.. gila, desahan lo
betul-betul bikin gue tambah nafsu Van” kekeh mesum Ian yang semakin
semangat meremas-remas gundukan bakpao Vani. Vani blingsatan mencoba
melepaskan diri namun tiada hasil.
Vani masih berusaha mengangkat tubuhnya ketika tiba-tiba Vani
merasakan ada benda asing memasuki tubuhnya. “Aihh.. Iann… ngapain loo”
pekik Vani tak berdaya. Jemari Ian dengan mudahnya menyingkirkan secarik
tipis tong yang memisahkan jari-jarinya dengan lubang kenikmatan Vani.
Dengan sedikit memaksa, jari tengah Ian yang besar menyelusup ke jepitan
bibir memek Vani yang montok sampai langsung 2 ruas. “Ohh.. lo belagak
ga sudi, ternyata memek lo udah basah Van” kata Ian penuh kemenangan.
“Ga.. ga.. gue ga mau Ian… jangan.. Ahhhh… ouuhhhh…” kata-kata Vani
terpotong dengan desahannya yang tidak tertahankan karena jari tengah
Ian digerakkan keluar masuk mengocok memek Vani yang sudah mulai basah.
Vani berusaha menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya, tapi
tetap saja suara tersengalnya keluar dari tenggorakan karena Ian juga
sudah membenamkan jari tulunjuknya ke dalam memek Vani dan
berputar-putar, mengobel-ngobel memek lonte satu ini. “Hmmppfffh…
hmpfffh… Haaahhhh…. Iannnn” desah Vani yang matanya merem melek karena
kenikmatan dilanda nafsu birahi yang akhirnya mulai mendapat pemuasnya.
Dengan gemasnya Ian menggigit-gigit bongkahan pantat Vani sambil terus
mengerjai lubang memek Vani dengan kedua jarinya, sampai pantat Vani
mengejang-ngejang menahan ectassy kenikmatan yang melandanya. “Kalo lo
mo keluar, lo harus bilang Vani keluar” perintah Ian, ketika melihat
Vani mulai mengejang-ngejang. Dan benar, setengah menit kemudian jemari
Ian merasa diremas-remas oleh dinding memek Vani, dan lenguhan Vani
terdengar “Vhaannii kkheluuarrr….hhhaahhhh…”. Mengejang-ngejang sedikit
Vani, lalu Vani mulai membuka matanya dan menatap Ian “Sialan lo” maki
Vani pelan.
Kedua jari Ian masih di dalam memek Vani, ketika Ian
bertanya “Lalu bagaimana sekarang?”. Dengan masih tertelungkup di atas
meja billiar, agak malu-malu dan memerah mukanya, Vani berkata pelan dan
agak mendesah “Please sekali lagi”. Dengan senang hati Ian memenuhi
request ini. Kedua jarinya dihujamkan dalam-dalam ke memek Vani, yang
membuat Vani memekik kaget “Aiiihhh…”. Tapi kocokan dan diselingi
gesekan intens di g-spot Vani membuat gelombang birahi kembali melanda
Vani. Rasa gatal disekeliling memeknya menggila lagi dan menuntut untuk
digaruk, digesek, dan dikocok dengan cepat. Bunyi kecipakan memek Vani
yang banjir, ditingkahi oleh desahan dan lenguhan Vani yang keras
membuat nafsu Ian semakin diubun-ubun. “Busetttt nih cewek hot banget… ”
batin Ian gembira. Tangan kiri Ian tidak lagi perlu menahan punggung
Vani. Kini tangan kirinya sibuk meremas-remas toket Vani. “Hahhh…
hahhhh… shhhhhhh… ya.. ya… kaya gitu.. kaya gitu… ouuhhh..” ceracau Vani
tidak karuan.
Ian sudah tidak tahan lagi. Sambil terus tangan
kanannya mengocok memek Vani yang banjir habis sampai tetesan cairan
pelumasnya membasahi paha Vani dan jemari Ian, tangan kirinya sibuk
melepaskan gesper dan risluiting celananya. Tidak sampai 3 menit dari
orgasme pertamanya, Vani merasakan gatal di memeknya semakin memuncak,
mengumpul di ujung klitorisnya. Semakin dikocok, rasa gatal tersebut
semakin terasa menyiksa, menuntut untuk digesek lebih cepat lagi.
Akhirnya rasa gatal itu meledak dan menyemburkan arus kenikmatan dari
selangkangannya ke seluruh kujur tubuhnya. “Ooaaahhhhh……hhhaahhhh hhh
kellluarrrr…. Vani kheeluuuarrr…” pekik Vani dengan mata yang membeliak
dan tubuh bergetar-getar mengejang penuh kenikmatan.
“hah.. hah..
hah..” Vani memejamkan mata sambil berusaha mengatur nafasnya yang
memburu setelah terpaan orgasme yang kedua. Tubuhnya tertelungkup lemas
di atas meja billiard dan kakinya mangangkang menapak tidak kokoh di
lantai. Ian sudah berhasil mengeluarkan kontolnya yang sepanjang 16 cm
tapi gemuk kokoh dari balik risluitingnya. Ian tidak menurunkan
celananya, hanya mengeluarkan kontolnya dari dalam celah risluitingnya.
Pelan-pelan Ian memelorotkan tong Vani. Vani yang masih di awang-awang
sensasi kenikmatan, tanpa sadar menurut saja ketika kaki kirinya
diangkat untuk meloloskan tongnya. Tong merah Vani kini hanya tergulung
tidak rapi di pergelangan kaki kanannya. Memek tembem Vani yang halus
tanpa jembi, terkespos jelas. Bibir memeknya yang merah basah sudah agak
terbuka akibat serangan pertama dari Ian, seperti siap menyambut
serbuan berikutnya.
Ian sedikit menarik pinggul Vani agar lebih
menungging dan memposisikan memek Vani tepat di depan kontolnya yang
sudah ereksi penuh. Vani baru sadar bahwa Ian siap memprenetasinya
ketika merasakan ada desakan benda tumpul besar yang menyibak bibir
memeknya. Vani berusaha membalik, tapi lagi-lagi tangan besar Ian
mencegah hal itu. Sambil berusaha melirik ke belakang, Vani bertanya
agak panik “Eh.. lo mo ngapain Ian? Kita sudahan kan?” Tanpa
memperdulikan keberatan Vani, Ian semakin menekan pinggulnya dan
berusaha membenamkan kontol tebalnya ke belahan memek Vani. Karena
dinding-dinding memek Vani sudah basah kuyup, kepala kontol Ian relatif
mudah menerobos masuk. “Iaaaannn… Jangan masukin.. jangan masukin…. ”
teriak Vani makin panik. Vani berusaha bangkit dengan menggoyangkan
tubuhnya. Tapi efeknya malah sebaliknya. Akibat goyangan tubuh dan
pinggulnya, batang kontol Ian mendapat momentum untuk melesak makin
dalam. Diiringi gerungan, Ian menekan dalam-dalam pinggulnya
“Hhrrrrrhmmm….”. Dengan indahnya memek temben Vani menelah utuh-utuh
kontol Ian.
Mata Vani mendelik kaget dan tanpa sadar lenguhan keluar dari bibir sexynya ketika dinding-dinding memeknya merasakan benda asing yang tebal menyesaki liang senggamanya. “Hoouuuhhhhh….” lenguh Vani diiringi getar tubuhnya. “Hah.. hah.. please jangan entot gue Ian” suara Vani agak bergetar ketika memohon Ian. Bergetar karena bingung memutuskan apakah harus mempertahankan gengsinya tidak mau disetubuhi oleh cowok yang baru dikenalnya 2 jam yang lalu, ataukan menuruti desakan birahi dari selangkangannya yang bergetar keenakan karena disesaki batang tebal kontol yang berurat. “Hoh.. hoh.. sorry Van.. Memek lo memohon kontol gue biar dientot sampe puas hehe” kekeh Ian disela nafasnya yang memburu.
Sambil tetap menahan punggung Vani, Ian mulai menggerakkan pinggulnya
maju mundur. Ditarik perlahan, kemudian dilesakkan lagi dalam-dalam.
Tarik perlahan-lahan lagi, lalau dibenamkan lagi sampai mentok. Vani
merasakan setiap inci dinding-dinding memeknya gesekan perlahan dari
kontol Ian yang keluar masuk. Ini membuatnya gila. “Hiaan…hiaann… lo
ngentotin gue… hah..hah.. gue kok dientot…hmmpppfffffhhh..” ceracau Vani
yang makin kebingungan dan blingsatan karena nafsu birahinya naik lagi
tanpa bisa ditahan. Ian semakin bernafsu begitu sadar Vani ikut
menikmati persetubuhan ini. Memeknya makin banjir, membuat suara
berkecipakan ketika dikocok. Ian mempercepat tempo genjotannya.
“huhh..huuhhh..huhhh.. rasain nih.. rasainn… enakk kan..” gerung Ian
penuh nafsu menggenjot memek Vani sambil meremas-remas pantat putihnya.
Vani yang sudah kepalang tanggung melenguh-lenguh kenikmatan sambil
menggoyang-goyang pinggulnya berusaha mengimbangi Ian “Ouhh..ouhhh..
Hhahhhh… hahhh… iya.. iya… entot terus gue.. entott gueeee…” lenguh Vani
binal.
“Woaa… lagi pada asyik rupanya” tiba-tiba ada suara cowok
lain di ruangan tersebut. Kedua insan lain jenis itu reflek
menghentikannya kegiatannya dan menoleh ke arah asal suara. Di pintu,
Boris berdiri sambil menyengir penuh maksud. Baru saja Vani mau
bersuara, suara Ian terdengar lebih dulu “Woe, Bor, tau aja kita lagi
disini” sapa Ian kasual. “Eh, lo kenal Boris” tanya Vani kaget dari
posisi tertelungkupnya. “Yoi. Dia temen gue SMA” sahut Ian sambil mulai
menggenjot Vani lagi. Vani yang masih panik karena ke-gap lagi ngentot,
jadi blingsatan. “Eh.. eh.. stop.. stop dulu Ian” pinta Vani panik.
Jelas panik, karena Boris sohib kental Albert pacar Vani. Kalau Boris
ngember ke Albert, hilanglah cowok ganteng bin tajir itu dari tangan
Vani.
“Iann… gue bilang stop dulu” pekik Vani. Tapi Ian tidak peduli
dan tetap menggenjot memek Vani semakin semangat. “Tenang Van, Boris ga
akan ikutan sekarang. Gue jamin” kata Ian meyakinkan. “Bor, lo duduk
manis aja ya disitu. Nonton aja. Jangan macem2″ kata Ian ke Boris.
“Iya.. iya.. tenang aja..” balas Boris nyengir sambil menarik kursi
untuk bisa melihat lebih jelas live bokep Ian vs Vani. “Tapi.. tapi…”
ucapan Vani langsung dipotong Ian “Kalau lo masih protes aja, Boris gue
ajak join loh” ancam Ian. Vani langsung bungkam.
Tapi bungkam Vani
tidak berlangsung lama. Gocekan kontol Ian membuat birahinya melambung
lagi. “Sebodo ah sama Boris nonton. Habis ini gue langsung cabut sama
Shasha. Ouhhhhh… tebel banget kontolnya. Enaknya makk..” batin Vani.
“Gaahhh… ngahhh.. hahhhhh… shhhhhh….” desahan Vani memenuhi ruangan
lagi. Boris nyengir bahagia melihat cewek idamannya kelonjotan penuh
kenikmatan di depan matanya. Tangannya reflek membelai-belai
selangkangannya.
Tidak sampai 5 menit digenjot, Vani mulai merasakan
bahwa desakan orgasme mulai menyodok-nyodok. Lenguhan dan teriakan Vani
mulai semakin tidak terkendali seperti halnya goyangan pinggulnya.
“Ouhh.. ouhh.. Ya.. Ya.. Cepetin.. cepetin… Kocok makin cepat.. Ayoo..
hahh.. hahhhh…” ceracau Vani yang sudah diambang klimaksnya. Ian
menanggapi request Vani dengan semakin cepat memompa lubang kawin Vani.
Akhirnya, “Hiaaahhhhh…. Ouughhhhhh…. Shhhhhhhhh…” lenguh orgasme Vani
membahana lagi. “Lo ga bilang keluar Van” perintah Ian. “Hiya… hiyaa..
Vhan… Vhani klluarrr.. hah.. hah..” desah Vani.
Ian yang belum orgasme, mengangkat tubuh Vani yang masih lemas
karena orgasme yang terakhir. Membopongnya dan merebahkannya ke sofa
besar. Vani pasrah saja melihat Ian melucuti kemeja dan celananya, dan
berdiri telanjang bulat dengan kontol gemuk masih tegak mengacung,
berkilatan basah karena cairan cinta memek Vani. “Buka baju lo Van”
perintah Ian. Vani langsung menyanggupinya. Ketika Vani mengangkat baby
dollnya keluar dari kepalanya, toket Vani yang disangga bra merah
langsung menyedot perhatian Ian. Dengan mata membeliak, Ian memandang
dua bongkah melon putih dalam kemasan bra merah yang menggemaskan. “Buka
BeHa lo. Cepet!” perintah Ian penuh nafsu. Tanpa diperintah dua kali,
tangan Vani langsung bergerak ke belakang pungggungnya melepas kait
bra-nya. Belum lagi Vani meloloskan branya dari tangannya, kedua tangan
Ian yang besar sudah menyergap kedua bongkah daging kenyal itu.
“Ahhhhhh…!!!” Vani menjerit kaget karena tidak menduga Ian akan
menyergapnya seperti itu. Ian tidak ambil peduli, kedua tangannya yang
besar masih tidak cukup untuk menutupi gunungan toket 36C milik Vani.
Dengan penuh nafsu jemari Ian meremas, menekan, memilin kedua toket
Vani. Lalu dengan rakusnya mulut Ian menelan dan melumat puting Vani.
“UUhhhhhh….. hhhhmmpfffff…” Vani mendesah kesakitan sekaligus keenakan.
Toketnya, terutama putingnya, adalah salah satu titik tersensitif
tubuhnya. Reaksinya nyaris instan. Bibir memeknya mulai berkedut-kedut
gatal lagi meminta dipuaskan. “Ajrit! Besar banget toket lo Van” puji
Ian penuh nafsu.
Tangan Vani dituntun oleh nafsu primitif birahinya
mencari batang kenikmatan diselangkangan Ian. Ketika jemarinya menemukan
benda tumpul yang dicarinya, langsung dituntunnya kejantanan Ian
tersebut ke bibir memeknya yang sudah merekah. Ian yang merasakan
genggaman hangat tangan Vani, langsung paham maksud Vani dan
menggerakkan pinggulnya maju sehingga kontolnya menempel di bibir memek
Vani. Dengan satu sentakan keras, batang daging yang gemuk itu langsung
amblas dan menyipratkan cairan pelumas Vani keluar. “AAGHHHH..” jerit
Vani tanpa sadar karena desakan tiba-tiba pada lubang kawinnya. Tanpa
buang waktu lagi Ian langsung menggenjot Vani dalam torsi tinggi. Slepp…
sleppp.. sleppp… kecipakan bunyi kocokan terdengar lagi. Mata Vani
membeliak dan putih matanya lebih dominan, karena berbagai rangsangan
yang diterima tubuhnya. G-spot dan dinding-dinding memeknya
tergesek-gesek dengan instan oleh kontol Ian yang berurat. Toketnya
diremas-remas, diunyel-unyel penuh nafsu. Ditambah lagi sedotan-sedotan
di puting dan jilatan-jilatan lidah kasar Ian di sepanjang leher Vani.
“HHaaaahhh… Hahhhh… Ouugggghhh….Gillaaa….Enakk kk..” lenguh Vani penuh
birahi. “Hoohh.. hohh.. rasain nih bitch.. rasainnn…” tanggap Ian tak
kalah nafsunya.
Vani merangkulkan kedua kakinya dibalik punggung Ian
dan tangannya memeluk Ian kuat-kuat, ketika ia merasa bahwa rasa gatal
yang memabukkan semakin merajalela di selangkangannya. Ian juga sudah
tidak kuat lagi menahan ledakan laharnya. Pada saat Ian merasa aliran
pejunya sudah mulai mengaliri batang kontolnya dan kepala kontolnya
semakin gatal minta digaruk makin cepat, Vani juga merasakan batang
kontol Ian mengembang dalam memeknya. “Ohhh.. dia mau keluar.. dia mau
keluarr… ga boleh di dalam.. ga boleh di dalam..” batin Vani panik. Tapi
apa kata otak berbanding terbalik dengan reaksi tubuh yang sedang
dimabuk birahi. Kaki-kaki Vani malah semakin erat merangkul Ian yang
sudah tidak dapat menahan orgasmenya. Diiringi lenguhan keras Ian yang
menjambak rambut Vani dan membenamkan kontolnya dalam-dalam, kontol Ian
menyemprotkan pejunya kuat-kuat ke dalam liang senggama Vani sampai
berlelehan keluar. “HUAAHHHHHH…. Hahhhh… Hahhhhh…” gerung Ian penuh
kepuasan sampai tubuhnya mengejang-ngejang.
Selama beberapa saat Ian
masih menindih Vani menikmati sisa terpaan gelombang orgasmenya. “Thanks
ya Van” bisik Ian sambil melumat bibir sensual Vani. Pelan-pelan Ian
mencabut kontolnya yang mulai mengecil. Membawa banjir peju keluar
membasahi bibir memek Vani dan mengalir turun. Lalu Ian beranjak
mengambil tissue dan membersihkan kontolnya. Ditawarkannya tissue
tersebut ke Vani yang masih tergeletak mengangkang di sofa dengan
lelehan sperma di sekujur selangkangannya. Vani menerimanya tanpa banyak
bicara. Pelan-pelang dibasuhnya sperma Ian dari selangkangannya.
“Sialan, gue kentang banget. Belum keluar, dia sudah nyemprot duluan”
runtuk Vani dalam hati. Hei, ternyata lonte satu ini tadi belum klimaks,
makanya jadi BeTe.
Tiba-tiba ada seseorang duduk di sebelah Vani dan berkata “Sini
gue bantu bersihin pake tissue basah”. Vani sontak kaget dengan Boris
yang sudah bugil tiba-tiba sudah duduk menempel di sebelahnya dan
berusahan menjulurkan tangannya ke arah selangkangannya. “Ehhh… mau
ngapain lo” bentak Vani sewot menyingkirkan tangan Boris sambil berusaha
bangkit. Tapi, tangan Boris dengan cepat merangkul Vani lagi untuk
terhenyak di sofa, sambil berbisik “Apa lo mau gue laporin Albert lo
ngentot sama orang lain? Gue rekam di HaPe gue aksi lo barusan”. Vani
terpaku sesaat dan menoleh memandang Boris “Bangsat lo Bor.
Berani-beraninya lo.. hmmppff..” makian Vani terpotong karena Boris
menyapukan tissue basah ke bibir memeknya. Tangan Vani reflek berusaha
menyingkirkan tangan Boris dari selangkangannya, tapi langsung terhenti
hanya sampai memegangnya karena langsung sadar posisinya. Vani masih
tidak mau kehilangan Albert.
Paham Vani sudah ditangannya, Boris
semakin berani dengan memasukkan kedua jarinya dengan kasar ke memek
Vani. Vani melenguh tertahan ketika memeknya merasakan benda asing lagi
menerobosnya. Jemari Boris dengan ahlinya mengocok dan mengobel-ngobel
memek Vani. Bibir tebal Boris langsung melumat dengan rakus bibir Vani,
membuat Vani terengah-engah karena serangan mendadak ini. Tidak perlu
lama untuk membuat Vani ON lagi, karena statusnya memang sedang dipuncak
birahi tanggung yang tidak terpuaskan.
Puas melumat bibir Vani,
Boris menjelajahi pipi, leher dan menuju toket Vani dengan bibirnya.
Jemari Boris menghentikan aktivitasnya di area selangkangan Vani, dan
mulai menjamah bongkahan melon putih yang kenyal milik Vani. Boris
mengambil posisi di atas Vani dengan kedua tangan meremas-remas tidak
beraturan toket Vani. Matanya membelalak tidak percaya bahwa akhirnya
dia bisa menjamah toket biadab Vani. “Toket lo memang perfect Van. Dosa
kalo lo cuma ijinkan Albert yang menjamahnya” puji Boris. Ketika jemari
Boris mulai memilin-milih dan menjepit puting Vani, bibir sensual Vani
mulai mengeluarkan desahan erotis. “Sshhhh… ahhhhh.. pleaseee.. jangan
keras-keras Bor… ahhhhh..” rintih Vani yang mulai dilanda birahi lagi.
Boris
sudah tidak tahan lagi, maka diangkatnya pantat Vani dan diarahkan ke
kontolnya yang memang tidak sebesar milik Ian, tapi standarlah. Ketika
kontol hitam berurat Boris terbenam ke dalam memek Vani, lagi-lagi
pekikan Vani terdengar “Aiiihhhhh….”. Tapi langsung disusul lenguhan
kenikmatannya “Nggahhhh.. ngahhhhh… ouuuuhhh… iya.. that’s right… ayo
truuss…”. Sambil menahan pinggul Vani yang menggelinjang dengan
binalnya, Boris memaju-mundurkan pantatnya dengan penuh semangat.
Menghajar memek Vani dari posisi atas, membuat Boris dengan bebas
melihat bagaimana toket besar Vani bergerak-gerak liar karena goncangan.
Kedua tangan Boris mencengkram kuat-kuat kedua bongkah daging tersebut
dan semakin mempercepat kocokannya.
Tidak sampai 5 menit orgasme Vani
meledak dan membanjiri memeknya dengan cairan cintanya.
“NGAhhhHhhhhhh…. Houuuuuhhhhh… Vanniii kluarrrr…” pekik Vani
melampiaskan kenikmatan yang melandanya seluruh organ tubuhnya. Pinggul
Vani mengelinjang-gelinjang selama beberapa saat sampai terpaan
gelombang klimaksnya mengendur. “Hahh.. hahh.. hah…enak banget.. enak
banget.. akhirnya sampe juga” desah Vani sambil menyapu keringat dari
wajahnya.
“Van, nungging” tiba-tiba suara Boris terdengar. Dan Vani
pun baru sadar bahwa masih ada benda keras yang mengganjal dalam
memeknya. “Eh, kok dia masih kuat? Kata Renny biasanya ga sampe 5 menit
si Boris udah keluar” batin Vani keheranan. Yang Vani tidak tau adalah,
ketika Boris sampai di rumah Revo, dia sudah nelen 1 butir Viagra
sebelumnya. Karena Revo bilang ada party sama cewek-cewek di rumahnya.
Tidak disangka rejeki nomplok, ceweknya adalah Vani. Jadi, sekarang
dengan perkasanya kontol Boris masih tegak berdiri dan menghajar Vani
lagi.
Sementara itu, menyaksikan orgasme Vani yang dahsyat, Ian horny lagi. Kontolnya ngaceng lagi. “Bor, bawa Vani ke kamar aja. Kita garap bareng” ujar Ian sambil membopong tubuh Vani. Boris sebenarnya ingin menikmati tubuh Vani sendirian, tapi dia takut sama Ian. Ketika dibopong Vani berbisik “Gue haus nih”. “Bor, ambilin minum gih buat vani” perintah Ian. Boris kembali dengan sebotol kecil bir dingin yang langsung ditenggak habis oleh Vani. Bir dingin yang mengaliri tenggorakannya menyegarkan Vani, dan membuatnya sadar bahwa dia sekarang bugil di atas ranjang dan dikelilingi oleh dua cowok besar bugil dengan kontol yang sudah mengacung tegak siap dihujamkan ke tubuhnya. Vani jadi agak jiper. Bagaimanapun dia sudah agak lemas dihajar 5 orgasme berturut-turut.